Data Terukur IPAL Kantin Dan Pengolahan Sampah Organik Bawa SMPN 11 Jawara Surabaya Eco School

SURABAYA – Tiga tahun yang lalu, kondisi lingkungan SMPN 11 saat pertama kali mengikuti program lingkungan Surabaya Eco School.Kondisi lingkungan yang gersang karena jarangnya pepohonan, masih banyak sampah plastik dan banyaknya genangan air saat hujan turun menandakan rendahnya resapan air di sekolah.

Salah seorang kader lingkungan SMPN 11 terlihat menimbang sampah organik yang akan diisikan ke dalam keranjang pengomposan. SMPN 11 sudah menggunakan data terukur dalam setiap kegiatan lingkungan

Salah seorang kader lingkungan SMPN 11 terlihat menimbang sampah organik yang akan diisikan ke dalam keranjang pengomposan. SMPN 11 sudah menggunakan data terukur dalam setiap kegiatan lingkungan

Gambaran cerita masa lalu sekolah yang terletak di daerah Sawah Pulo tersebut disampaikan oleh Akhmat Suharto, kepala SMPN 11 pasca dinobatkannya sekolah menjadi jawara Surabaya Eco School yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali, Selasa (23/12).

Secara bertahap, dalam 3 tahun mengikuti program lingkungan berkelanjutan, juara bertahan lomba yel-yel lingkungan tahun 2011 dan 2012 ini bergerak cepat untuk mewujudkan menjadi sekolah ramah lingkungan. Langkah pertama yang ditempuh adalah dengan memperbanyak fasilitas lingkungan yang ada di sekolah.

Kader lingkungan SMPN 11 sedang mengolah sampah organik yang sebelumnya ditimbang lalu diisikan ke dalam keranjang komposter

Kader lingkungan SMPN 11 sedang mengolah sampah organik yang sebelumnya ditimbang lalu diisikan ke dalam keranjang komposter

“Di tahun pertama dan tahun kedua mengikuti Surabaya Eco School, kami hanya menambahkan fasilitas lingkungan seperti keranjang pengolahan sampah organik, tong komposter, lubang resapan biopori, tempat sampah terpilah dan penambahan tanaman atau pohon,” terang Akhmat Suharto, eco headmaster of the year 2011.

Menjadi 5 besar sekolah terbaik Surabaya Eco School 2012 belum membuat tim lingkungan SMPN 11 puas, berbagai inovasi lingkungan dilakukan , salah satunya dengan mewujudkan kantin ramah lingkungan. Akhmat Suharto, kepala SMPN 11 mengatakan bahwa realisasi kantin ramah lingkungan merupakan upaya mereka untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai, melindungi warga sekolah dari bahaya 5P (Pemanis, Pengawet, Perasa, Pemutih dan Pewarna).

Satuman, aktivis Tunas Hijau mengajak kader lingkungan SMPN 11 untu mengukur sampah yang sudah tidak bisa diolah lagi di sekolah

Satuman, aktivis Tunas Hijau mengajak kader lingkungan SMPN 11 untu mengukur sampah yang sudah tidak bisa diolah lagi di sekolah

“Mulai akhir tahun 2012 kami awali realisasi dengan sosialisasi kepada petugas kantin sekolah, kami buat surat perjanjian kepada petugas kantin untuk tidak menjual makanan berbungkus plastik dan bebas 5P,” terang Akhmat Suharto. Tidak hanya itu, beberapa kebijakan lingkungan terkait dengan pengawasan kantin sehat dan ramah lingkungan dilakukan oleh sekolah.

Salah satunya adalah kebijakan yang mengharuskan siswanya berada di kantin saat istirahat.“Saat istirahat, warga sekolah khususnya siswa tidak diperbolehkan berada di kelas, mereka harus makan dan minum di kantin.Sedangkan untuk petugas kantin yang ketahuan menyediakan plastik sekali pakai akan dikenakan sanksi seperti membuat lubang resapan biopori atau menanam pohon, jika sudah sampai 3 kali peringatan, sanksinya adalah putus kontrak,” terang Akhmat Suharto.

Kader lingkungan SMPN 11 sedang melakukan oerawatan tanaman yang ada di green house

Kader lingkungan SMPN 11 sedang melakukan oerawatan tanaman yang ada di green house

Bergerak cepat adalah kunci kesuksesan SMPN 11 menjadi jawara Surabaya Eco School 2013, hal ini dibuktikan dari hasil capaian mereka selama 1 tahun ini. Berbagai inovasi lingkungan baru diciptakan untuk mengatasi masalah lingkungan yang ada di sekolah.

Diantaranya adalah dengan mendirikan bank sampah kering untuk mengelola sampah kering, membuat IPAL (Instalasai Pengolahan Air Limbah )air kantin yang diubah menjadi air jernih untuk digunakan menyiram kebun sayuran baru milik mereka, pengolahan air wudhu yang digunakan untuk kebutuhan kolam ikan lele dan siram kebun sayur.

Suminah, guru pembina lingkungan mengatakan inovasi lingkungan lainnya adalah pembiasaan untuk peduli lingkungan setiap hari melalui pemilahan sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos menggunakan keranjang maupun tong komposter.

Suminah, guru pembina lingkungan bersama kader lingkungan sedang memanen sayuran hasil kebun diantaranya sawi, kangkung dan terong

Suminah, guru pembina lingkungan bersama kader lingkungan sedang memanen sayuran hasil kebun diantaranya sawi, kangkung dan terong

“Tidak hanya itu, selama mengikuti program Surabaya Eco School, kami sudah membuat sedikitnya 801 lubang resapan biopori  yang setiap lubang resapan dengan kedalaman 100 cm membutuhkan sampah organik sebanyak 3 kg. Alhasil, sekolah sudah tidak lagi mengirimkan sampah organik ke luar sekolah, begitu pula dengan sampah anorganik yang sudah ada bank sampah,” terang Suminah.

Sementara itu, alat rain water tank, reward menjadi finalis Surabaya Eco School masih akan terus difungsikan untuk menangkap air hujan. Tidak hanya itu, penambahan fasilitas IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sebagai reward jawara akan dimanfaatkan dengan baik. “Kami akan gunakan untuk alat pembelajaran siswa agar tentang konservasi air,” terang Suminah. Suminah menambahkan bahwa gelar jawara ini merupakan alat memotivasi warganya untuk semakin peduli lingkungan.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine.(ryn)