Geliat Sekolah Surabaya Eco School 2013 Menjaga Konsistensi Peduli Lingkungan Saat Liburan Semester

Kepala SDN Bubutan IV Budiarti menyosialisasikan Satu Rumah Satu Biopori kepada wali murid saat penerimaan rapor

Kepala SDN Bubutan IV Budiarti menyosialisasikan Satu Rumah Satu Biopori kepada wali murid saat penerimaan rapor

SURABAYA – Awarding program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya Eco School 2013 telah diselenggarakan 14 Desember lalu di Graha Sawunggaling. Sepekan kemudian, hampir seluruh sekolah melaksanakan agenda penyerahan buku rapor siswa dilanjutkan dengan libur semester. Umumnya liburan semester sekitar dua pekan sampai dan kegiatan belajar mengajar akan dimulai lagi 6 Januari 2014. 

Selama liburan semester, banyak sekolah yang masih terus melaksanakan program lingkungan hidup. SDN Bubutan IV, juara I kategori sekolah dasar Surabaya Eco School 2013, misalnya. Semangat kepedulian lingkungan tetap menggelora di sanubari warga SDN Bubutan IV. Liburan semester sekolah tidak menyurutkan tim Eco School SDN Bubutan IV untuk tetap mengolah sampah organik menjadi kompos.

Tim lingkungan hidup SDN Bubutan IV melakukan piket pengolahan sampah saat liburan semester

Tim lingkungan hidup SDN Bubutan IV melakukan piket pengolahan sampah saat liburan semester

Pengolahan sampah organik menjadi kompos yang dilakukan di SDN Bubutan IV selama liburan semester dilaksanakan dengan menggunakan keranjang dan tong pengomposan, serta lubang resapan biopori yang sudah banyak dibuat di sekolah. Sekolah yang berlokasi di Jalan Semarang 90 ini juga memanfaatkan waktu liburan untuk mulai merealisasikan pembangunan green house sekolah dalam ukuran lebih besar daripada yang dimiliki sebelumnya dan juga roof garden atau kebun/taman di atap sekolah.

Program Satu Rumah Satu Biopori yang dicanangkan kepala sekolah Budiarti pasca Awarding Surabaya Eco School 2013 untuk masing-masing rumah warga sekolah ini juga mulai direalisasikan. Caranya dengan menggelar Safari Biopori. Diantaranya ketika para guru sekolah ini bersilaturahmi ke salah seorang guru yang sedang merayakan Natal pada 26 Desember 2013 lalu, tidak lupa mereka membawa perlengkapan untuk membuat lubang resapan biopori.

Sambil menyelam minum air ibarat kata, mereka tidak menyia-nyiakan waktu berkunjung hanya sekedar ngobrol. Tetapi, minimal mereka juga meninggalkan sesuatu yang berarti untuk rumah yang dikunjungi. Walaupun sekedar lubang resapan biopori, namun sangat berarti bagi bumi ini dan juga bagi rumah yang ditinggalkan.

Safari Biopori dilakukan saat melakukan kunjungan ke rumah guru atau siswa dilanjutkan dengan membuat lubang resapan biopori di rumah itu

Safari Biopori dilakukan saat melakukan kunjungan ke rumah guru atau siswa dilanjutkan dengan membuat lubang resapan biopori di rumah itu

Sesampai di rumah Mike, salah satu guru SDN Bubutan IV, yang berlokasi di perumahan Residence wilayah Menganti yang berjarak sekitar 27 km dari sekolah, mereka memberikan ucapan Selamat Natal sebagai ungkapan toleransi sesama umat beragama. Tentu saja dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang disuguhkan. Nah, setelah kenyang, mereka mulai beraksi. Walaupun halaman depan rumah hanya berkisar 1 meter persegi, kepala sekolah mencoba mengebor di lahan tersebut.

Kegiatan ini ternyata menarik perhatian anak-anak perumahan yang sedang bermain. Dengan keramahan, Budiarti memanggil anak-anak itu untuk diajak beraksi bersama. Rupanya mereka merespon dengan senang hati. Mereka berebut ingin mencobanya. Bahkan mereka bersama-sama mencari sasaran di rumah sekitar.

“Lumayan kita sudah mengenalkan lubang resapan biopori kepada anak-anak lain yang nun jauh dari sekolah kita dan mereka antusias untuk mencobanya,” kata Budiarti, kepala SDN Bubutan IV, sambil  menahan sakit karena kaki kanannya terkilir saat mengebor lahan taman rumah Mike yang cukup sempit.

Kader lingkungan hidup SMKN 1 dan SMPN 40 sedang melakukan aksi cabut paku danbuat lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Raya Kertajaya Indah

Kader lingkungan hidup SMKN 1 dan SMPN 40 sedang melakukan aksi cabut paku danbuat lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Raya Kertajaya Indah

Berbeda dengan SDN Bubutan IV, sedikitnya 20 orang kader lingkungan SMKN 1 memprakarsai aksi cabut paku dan pembuatan lubang resapan biopori yang digelar bersama dengan Tunas Hijau di jalur hijau Jalan Raya Kertajaya Indah (depan KONI Jatim). Menurut Rizki Amirulloh, ketua kader lingkungan SMKN 1, sebagian kader lingkungan yang tidak ada kegiatan di rumah saat liburan mempunyai ide untuk tetap melakukan kegiatan lingkungan. Diantaranya dengan aksi cabut paku.

“Kami merencanakan kegiatan cabut paku ini karena kami kasihan melihat pepohonan banyak yang dipaku. Pohon itu kan juga makhluk hidup, jadi pasti bisa merasakan sakit,” ucap Kimpul, sapaan akrab Rizki Amirulloh, siswa kelas 12 yang juga peraih penghargaan Eco Student (Senior) of the Year 2013 Surabaya Eco School.

Tidak hanya aksi cabut paku saja, kader lingkungan sekolah yang terletak di daerah jalan SMEA ini juga membuat lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Raya Kertajaya Indah. “Musim liburan ini, kalau hanya dihabiskan untuk kegiatan yang sia-sia kan percuma. Lebih baik dihabiskan dengan kegiatan lingkungan yang bermanfaat untuk menambah daerah resapan air,” ucap Rizki Amirulloh. Setelah kegiatan lubang resapan dan cabut paku, kader lingkungan masih berencana untuk melakukan kegiatan pembuatan lubang resapan di rumah masing-masing kader lingkungan.

Guru dan kepala SDN Sememi I menambah lubang resapan biopori di sekolah saat liburan

Guru dan kepala SDN Sememi I menambah lubang resapan biopori di sekolah saat liburan

Lain halnya dengan yang dilakukan oleh tim lingkungan SDN Sememi I. Musim liburan tidak membuat mereka menyerah untuk melakukan kegiatan lingkungan di sekolah. Hebatnya, turut berpartisipasi juga adalah Trubus, kepala SDN Sememi I. Momen liburan sekolah ini mereka manfaatkan untuk menambah lubang resapan biopori. SDN Sememi I juga melakukan perawatan tanaman di sekolah.

Trubus, kepala SDN Sememi I, juga menginstruksikan guru dan penjaga sekolah untuk memasang pompa air di dekat sumur resapan. “Seharusnya pompa air ini digunakan untuk alat rainwater tank, melainkan kami gunakan untuk memompa air dari sumur resapan, biar memudahkan anak-anak mengambil air, tidak ditimba pakai ember,” ucap Trubus. Selama liburan, tim lingkungan ini juga mengoptimalkan rainwater tank untuk menyiram taman sekolah.

Jihan Fairuz memanfaatkan liburan untuk menyosialisasikan pengomposan sampah organik dan lubang resapan biopori kepada tetangga di rumah neneknya di Bangkalan, Madura

Jihan Fairuz memanfaatkan liburan untuk menyosialisasikan pengomposan sampah organik dan lubang resapan biopori kepada tetangga di rumah neneknya di Bangkalan, Madura

Sementara itu, menghabiskan masa liburan bersama keluarga pulang kampung ke desa menjadi momen bagi Jihan Fairuz, siswa SMPN 5 peraih penghargaan Eco Student (Junior) of the Year 2013, untuk menyosialisasikan kegiatan lingkungan berupa pembuatan lubang resapan biopori dan pengolahan sampah organik sisa makanan menggunakan keranjang komposter.

Tepatnya di kabupaten Bangkalan, Madura, Jihan Fairuz benar-benar mengisi waktu liburan dengan kegiatan sosialisasi ke tetangga sekitarnya. Sosialisasi ke tetangga dekat rumahnya memang sudah direncanakan oleh Jihan Fairuz sebelum liburan sekolah.

“Saya memang sudah berencana melakukan sosialisasi sebelum liburan sekolah di rumah kakek di Bangkalan, Kak. Alasannya karena setiap saya pulang ke desa, saya melihat banyak sampah oganik yang tidak terolah. Sampah organik yang dihasilkan  oleh tetangga sebelah rumah langsung dibuang ke tempat sampah,” ucap Jihan Fairuz.

Dengan sosialisasi pengolahan sampah organik dan pembuatan lubang resapan biopori mampu menarik perhatian mereka. “Mereka sangat tertarik untuk mencobanya, selama ini mereka mengira sampah organik ini tidak bisa diolah lagi, ternyata bisa dibuat kompos. Akhirnya satu keranjang komposter saya tinggalkan disana,” imbuh Jihan Fairuz. Sedangkan untuk pembuatan lubang resapan biopori, Jihan meminjam bor dari sekolahnya.

Si Cilung SMPN 40 mengumpulkan enceng gondok di sungai sekitar sekolah untuk diolah menjadi kompos di sekolah

Si Cilung SMPN 40 mengumpulkan enceng gondok di sungai sekitar sekolah untuk diolah menjadi kompos di sekolah

Si CILUNG, nama tim lingkungan hidup SMPN 40, mempunyai cara tersendiri untuk menghabiskan waktu liburan mereka, yaitu dengan melakukan aktivitas lingkungan di sekolah maupun luar sekolah. Diantaranya mengolah sampah organik yang ada di sekitar sekolah dan membuat tempat pengomposan baru khusus eceng gondok.

Menurut Wahyu Idah, kader lingkungan, bahwa selama liburan, timnya memiliki keinginan untuk menambah kotak pengomposan khusus tanaman eceng gondok yang banyak ditemui di perumahan sekitar sekolah. “Pertama kali yang kami lakukan adalah mencari eceng gondok yang tumbuh liar di sungai perumahan dekat sekolah. Kami mengumpulkan lebih dari 2 karung eceng gondok. Selanjutnya eceng gondok tersebut kami hancurkan dengan mesin pencacah yang kami buat sendiri dengan bantuan penjaga sekolah. Sederhana tanpa adanya energi listrik,” ujar Wahyu Idah.

Tidak hanya menghabiskan waktu liburan dengan berkegiatan lingkungan di sekolah, kader lingkungan SMPN 40 juga berpartisipasi dalam kegiatan pembuatan lubang resapan biopori dan aksi cabut paku yang digagas oleh Tunas Hijau dan kader lingkungan SMKN 1. Menurut Yuniar Melissa, salah satu kader lingkungan mengungkapkan bahwa kegiatan lingkungan di luar sekolah itu pasti seru dan banyak pengalamannya.

“Kami senang bisa berkegiatan lingkungan di luar sekolah, karena pasti banyak pengalaman dan teman baru. Selain itu, kegiatan pembuatan lubang resapan biopori ini sudah sering kami ikuti. Yang menarik buat kami adalah aksi cabut pakunya, karena baru pertama kami lakukan,” ucap Yuniar Melissa, siswa kelas 8.

Roof garden atau kebun atap SDN Kaliasin I terus dibenahi selama liburan semester

Roof garden atau kebun atap SDN Kaliasin I terus dibenahi selama liburan semester

Sementara itu, SDN Kaliasin I memanfaatkan pekan terakhir Desember 2013 untuk merealisasikan program roof garden (kebun atap) yang belum tuntas hingga pelaksanaan Awarding Surabaya Eco School 2013. Untuk menambah koleksi tanaman roof garden, sekolah yang dikepalai oleh Samsul Hadi ini bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kota Surabaya. Jenis tanamannya adalah tanaman berbuah dan tanaman pertanian.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine. (ron)