Importir Sampah Organik Bawa SDN Bubutan IV Jawara Surabaya Eco School

SURABAYA – Menjadi sekolah baru dalam program Surabaya Eco School 2013 tidak membuat semangat SDN Bubutan IV gentar.Banyaknya sekolah-sekolah yang tergolong sebagai pemain lama, tidak membuat SDN Bubutan ciut nyalinya.Menurut penuturan Titin Krisminawati, guru pembina lingkungan SDN Bubutan IV kuncinya adalah gerak cepat, tanggap, berkorban, partisipasi dan dukungan penuh kepala sekolah, Senin (23/12).

Guru pembina lingkungan SDN Bubutan IV menemani kader lingkungan menimbang sampah organik yang baru saja diterima dari wali murid untuk di masukkan ke dalam tong dan keranjang komposter

Guru pembina lingkungan SDN Bubutan IV menemani kader lingkungan menimbang sampah organik yang baru saja diterima dari wali murid untuk di masukkan ke dalam tong dan keranjang komposter

“Tanpa adanya dukungan kepala sekolah, kami pasti kesusahan untuk menjalankan program lingkungan, meskipun kami memiliki kecepatan.Beruntunglah kami karena, kepala sekolah kami sangat mendukung bahkan tidak jarang langsung turun,” ucap titin Krisminawati.

Dalam waktu 4 bulan kurang, sekolah yang berada di daerah Jalan Semarang ini menjelma menjadi sekolah dengan banyaknya fasilitas dan inovasi lingkungan.Diawali dengan membiasakan warga sekolahnya melakukan pemilahan sampah, kemudian melakukan pengolahan sampah organik yang ada di sekolah untuk dijadikan pupuk kompos menggunakan keranjang dan tong komposter.

Kader lingkungan SDN Bubutan IV melakuka pengumpulan sampah botol plastik yang akan dijual, hasil penjualannya akan digunakan untuk mendanai kegiatan lingkungan di sekolah

Kader lingkungan SDN Bubutan IV melakuka pengumpulan sampah botol plastik yang akan dijual, hasil penjualannya akan digunakan untuk mendanai kegiatan lingkungan di sekolah

“Setelah workshop di SMKN 10, kami bergerak cepat untuk mengadakan workshop sendiri di sekolah sekaligus menentukan program lingkungan baru, seperti pemilahan sampah, pengolahan sampah organik dan penghematan air,” jelas Budiarti, kepala SDN Bubutan IV. Dengan kecepatan penuh, tanggap dan penuh perhatian, tim lingkungan selalu memperhatikan arahan yang diberikan Tunas Hijau saat pembinaan.

Salah satunya adalah mengenai tantangan setiap minggu menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk berusaha mewujudkannya.“Salah satu bukti nyata keberlanjutan tantangan yang diberikan Tunas Hijau adalah, setiap hari, sekolah mendapatkan bantuan satu karung sampah organik pasar dari walimurid,” ucap Titin Kriminawati.

Kader lingungan SDN Bubutan IV yang tidak mau menyia-nyiakan air wudhu, mereka menampung air wudhu dengan menggunakan ember. Penampungan air bekas wudhu ini akan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman

Kader lingungan SDN Bubutan IV yang tidak mau menyia-nyiakan air wudhu, mereka menampung air wudhu dengan menggunakan ember. Penampungan air bekas wudhu ini akan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman

Dalam waktu dua bulan, kami sudah mengalami masa panen kompos untuk yang pertama kalinya berkat kiriman sampah dari walimurid. Tidak hanya pengolahan sampah organik dan pemilahan sampah saja, dengan menerapkan prionsip tersebut, sekolah jawara lomba jingle lingkungan Surabaya Eco School ini juga merealisasikan pembuatan lubang resapan biopori di lingkungan sekolah.

Menurut penuturan Budiarti, kepala SDN Bubutan IV untuk pembuatan lubang resapan biopori membutuhkan tenaga dan biaya ekstra, karena kondisi tanah di sekolah sudah tertutup dengan beton.“Permasalahan tersebut bukan penghalang untuk peduli terhadap lingkungan, mengingat fungsi lubang resapan biopori yang melebihi biaya yang saya keluarkan untuk membuat lubang resapan sebanyak 50,” ujar Budiarti.

Sekolah yang satu atap dengan SDN Bubutan VI kini sudah memiliki sedikitnya 50 lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm. Uniknya, lubang resapan biopori tersebut dibuat dengan cara dibor terlebih dahulu. Dengan adanya lubang resapan dampak yang dirasakan adalah jarang terjadi banjir, selain itu upaya pembiasaan dilakukan sekolah dengan cara melalui radio sekolah.

Suasana rekaman lagu jingle SDN Bubutan IV yang menjadi juara lomba jingle lingkungan di nada musika. Jingle berjudul Let's save water in the earth ini yang menjadi hits lagu di sekolah

Suasana rekaman lagu jingle SDN Bubutan IV yang menjadi juara lomba jingle lingkungan di nada musika. Jingle berjudul Let’s save water in the earth ini yang menjadi hits lagu di sekolah

“Setiap harinya, setiap mendengarkan lagu jingle lingkungan karya sekolah, mereka selalu melakukan pembiasaan memilah sampah.Tidak hanya itu, sampah organik kiriman orang tuapun juga diisikan ke dalam lubang resapan biopori,” terang Titin Krisminawati, guru bahasa Inggris.

Sementara itu, program konservasi air yang sudah dilakukan oleh sekolah perpustakaan terbaik di kota Surabaya ini adalah menampung air hujan yang digunakan untuk cuci tangan dan siram tanaman. “Kami sudah menampung air hujan untuk dialirkan ke dalam ember ini, hasilnya anak-anak gunakan untuk cuci tangan dan siram tanaman. Tidak hanya itu, kantin sekolah kami juga terbebas dari plastik sekali pakai,” terang Titin Krisminawati.

Kader lingkungan SDN Bubutan IV terlihat antusias mengolah sampah organik dari pasar dengan menggunakan keranjang pengomposan

Kader lingkungan SDN Bubutan IV terlihat antusias mengolah sampah organik dari pasar dengan menggunakan keranjang pengomposan

Kendalanya adalah dengan adanya sekolah satu atap menyebabkan kecemburuan sosial, namun SDN Bubutan VI masih mau untuk diajak kerja sama. Susahnya mendapat dukungan dari SDN Bubutan VI terus diperjuangkan, beberapa program lingkunganpun ditularkan kepada sekolah satu atap tersebut, tentunya melalui beberapa kali sosialisasi yang melibatkan siswa.

“Sampai sekarang program lingkungan kami yang juga dilakukan di SDN Bubutan VI adalah pengurangan sampah plastik sekali pakai dengan membawa tempat makan dan minum sendiri,” terang Budiarti. Budiarti menambahkan kedepannya sekolah akan segera memiliki fasilitas lingkungan baru yakni green house.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine.(ryn)