Importir Sampah Organik Dan Lubang Resapan Jadikan SMAK St. Louis I Jawara Surabaya Eco School

SURABAYA – Dalam perhelatan program Surabaya Eco School tahun lalu, SMAK St. Louis I berhasil meraih peringkat 4 dalam 5 besar sekolah terbaik. Latar belakang ini yang membuat tim lingkungan sekolah yang berada di daerah Polisi Istimewa ini terpacu semangatnya untuk menjadi sekolah jawara Surabaya Eco School 2013. Target tersebut dibuktikan dengan adanya banyak kegiatan lingkungan yang sudah dilakukan di sekolah, diantaranya adalah pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, pembuatan lubang resapan biopori dan pembuatan berbagai media komunikasi lingkungan seperti mading lingkungan.

Kader lingkungan SMAK St Louis I tampak antusias sekali saat ditantang untuk membuat lubang resapan di jalur hijau Jalan Polisi Istimewa yang juga di depan sekolah

Kader lingkungan SMAK St Louis I tampak antusias sekali saat ditantang untuk membuat lubang resapan di jalur hijau Jalan Polisi Istimewa yang juga di depan sekolah

Menurut penuturan Alex Sandra Herlina, guru pembina lingkungan SMAK St. Louis I ini menyampaikan bahwa selama perhelatan program Surabaya Eco School 2013 berbagai fasilitas lingkungan secara bertahap mulai dari adanya keranjang komposter,  rumah kompos, alat pencacah kompos baru dan green house. “Semua fasilitas lingkungan ini kami realisasikan dengan kerja keras dan pantang menyerah. Dampaknya, warga sekolah juga akan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaganya,” terang Alex Sandra Herlina.

Pantang menyerah dan cinta lingkungan yang tinggi menjadikan tim lingkungan ini tidak memiliki rasa jijik dan takut terhadap sampah dan berkotor-kotor.  Dengan prinsip tersebut, berbagaii kegiatan lingkunganpun sudah dilakukan kader lingkungan, diantaranya pengolahan sampah organik baik menggunakan keranjang komposter yang ada di kantin, pengomposan skala besar dengan mesin pencacah, perawatan tanaman di green house, urban farming, penambahan tanaman sampai pembuatan lubang resapan biopori.

Kader lingkungan SMAK St Louis I sedang mengumpulkan sampah organik bantuan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk kegiatan pembuatan lubang resapan biopori di jalur hijau depan sekolah

Kader lingkungan SMAK St Louis I sedang mengumpulkan sampah organik bantuan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk kegiatan pembuatan lubang resapan biopori di jalur hijau depan sekolah

Guru pembina lingkungan yang juga seorang dokter ini menceritakan bahwa untuk pembuatan lubang resapan biopori, mereka menargetkan sebanyak 100 lubang resapan biopori tertanam di dalam dan luar sekolah. Tidak hanya itu, setiap hari sabtu, kader lingkungan diajak untuk mencacah sampah daun atau sampah pasar yang sudah terkumpul. “Kami melakukan pembiasaan setiap satu minggu sekali, kami menambah jumlah lubang resapan biopori dan setiap sabtu, kami mencacah sampah daun dan sampah pasar hasil grebek pasar Keputran untuk menjadi pupuk kompos,” ucap Alex Sandra Herlina.

Tidak hanya itu saja, pemilahan sampah dan pengolahan sampah organik di kantinpun rutin dilakukan setiap harinya, didukung dengan adanya siaran radio sekolah untuk mengingatkan warga sekolah memilah sampah menjadi pembiasaan lingkungan yang dilakukan di sekolah. Pembiasaan lingkungan tersebut yang membuat SMAK St. Louis I berhasil menyabet penghargaan sekolah jawara Surabaya Eco School 2013.

SMAK St Louis I telah memiliki rumah kompos dengan mesin pencacah yang besar, hal ini dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik di dalam maupun di luar sekolah. Grebek pasar Keputran pun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, grebeg pasar ini dilakukan oleh sedikitnya 15 orang kader lingkungan

SMAK St Louis I telah memiliki rumah kompos dengan mesin pencacah yang besar, hal ini dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik di dalam maupun di luar sekolah. Grebek pasar Keputran pun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, grebeg pasar ini dilakukan oleh sedikitnya 15 orang kader lingkungan

“Sungguh, kami semua tidak menyangka, kami sangat terharu begitu nama sekolah kami disebutkan saat awarding. Kami hanya melakukan kegiatan lingkungan dengan sepenuh hati, tanpa menyerah dan dengan semangat tinggi,” terang Herlina. Pasca awarding program lingkungan berkelanjutan ini, Alex Sandra Herlina menceritakan latar belakang SMAK St. Louis I dalam bidang lingkungan dan perkembangan dari tahun ke tahun mengikuti program Surabaya Eco School.

Menurut Alex Sandra Herlina, sebenarnya SMAK St. Louis I sudah memiliki program lingkungan pengolahan sampah organik sejak 8 tahun lalu dengan mengandalkan 3 tong komposter dan beberapa keranjang pengomposan, namun hanya melibatkan beberapa orang kader lingkungan saja dalam perawatannya. “Akibatnya kondisi keranjang komposter seringkali kering karena tidak diaduk, pengolahan sampah organik khusus daun di tong komposter juga tersendat-sendat untuk panennya,” ujar Herlina.

Memasuki tahun kedua Surabaya Eco School ini, kepala sekolah menyerahkan tanggung jawab kepada dokter umum yang membuka praktek di daerah Jalan Randhu ini. “Saya selalu mengandalkan kerja sama tim, karena saya tidak bisa kerja sendiri. Oleh karena kerja sama tim, makanya kami bisa terlihat berbeda dengan tahun lalu, karena diawal sudah mendapatkan dukungan penuh dari kepala sekolah. Hal ini membuat kami berlari kencang untuk menjalankan kegiatan lingkungan, termasuk menepati deadline yang diberikan pada setiap tantangan mingguan Tunas Hijau,” ujar Herlina panggilan Alex Sandra Herlina.

Dengan durasi 1,5 jam, kader lingkungan bersama dengan pembina lingkungan SMAK St Louis I berhasil mengumpulkan sampah organik yang akan diolah di rumah kompos dengan bantuan mesin pencacah

Dengan durasi 1,5 jam, kader lingkungan bersama dengan pembina lingkungan SMAK St Louis I berhasil mengumpulkan sampah organik yang akan diolah di rumah kompos dengan bantuan mesin pencacah

Perbedaan yang mencolok dari segi partisipasi dan penambahan jenis serta jumlah fasilitas lingkungan pun diiringi dengan adanya kendala yang dihadapi oleh kader lingkungan saat melakukan siaran radio sekolah. Hal tersebut disampaikan oleh Evi Veronika, guru pembina lingkungan lainya menyebutkan bahwa penyiar radio sekolah dulu sempat mengalami patah semangat setelah mendapat ejekan dan tidk digubris dari teman-temannya.

“Saat itu, saya berusaha bangkitkan semangat mereka lagi bahwa apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan lingkungan sekolah, jadi harus dengan merubah teks radio sekolah untuk bisa diterima oleh warga sekolah,” ucap Evi Veronika. Rencana kedepan setelah menjadi jawara Surabaya Eco School, SMAK St. Louis I akan segera merealisasikan instalasi penampungan air AC yang terpusat untuk ditempatkan di tandon.

“Sebelum digelarnya awarding, kami sempat bernegosiasi dengan kepala sekolah untuk meminta dibuatkan penampungan air AC jika sekolah menjadi jawara. Nah, kemarin kepala sekolah mengiyakan untuk segera direalisasikan janji tersebut,” ucap Alex Sandra Herlina. Tidak hanya itu saja, mereka juga akan menambah pembuatan lubang resapan biopori, tidak hanya di dalam dan diluar sekolah saja, mereka berencana untuk membuat lubang resapan biopori di rumah guru dan siswa lainnya.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine.(ryn)