Rombongan SAMT Tengku Ampuan Malaysia Diajak Buat Lubang Resapan Di Jalur Hijau Jl Perak Barat

SURABAYA – Gerakan sejuta lubang resapan biopori di jalur hijau jalan Perak Barat terus berlanjut. Pada pelaksanaan kali ini, ada yang berbeda, yaitu hadirnya 20 orang siswa dan guru rombongan SAMT Tengku Ampuan Jemaah Shah Alam, Selangor, Malaysia, Rabu (18/12).

Budiarti, kepala SDN Bubutan IV menunjukkan cara pembuatan lubang resapan biopori kepada rombongan SAMT Tengku Ampuan Jemaah Malaysia pada gerakan sejuta lubang resapan di jalur hijau Jalan Perak Barat

Budiarti, kepala SDN Bubutan IV menunjukkan cara pembuatan lubang resapan biopori kepada rombongan SAMT Tengku Ampuan Jemaah Malaysia pada gerakan sejuta lubang resapan di jalur hijau Jalan Perak Barat

Tidak hanya diikuti oleh 20 orang rombongan pelajar dari Malaysia saja, kegiatan yang menjadikan komplek sekolah Barumawati sebagai meeting point ini dimeriahkan dengan partisipasi sekolah finalis program Surabaya Eco School yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali.  

Menurut Budiarti,  kepala SDN Bubutan IV momen partisipasi keikutsertaan peserta dari luar negeri menjadi kesempatan untuk saling bertukar informasi kegiatan lingkungan yang sudah mereka lakukan di negaranya. “Kesempatan untuk belajar banyak tentang kegiatan lingkungan yang sudah dilakukan di sekolah merekapun tidak akan saya sia-siakan,” ucap Budiarti.

Tidak hanya itu saja, Budiarti juga mengajak mereka untuk langsung praktek membuat lubang resapan biopori. “Saya jelaskan bahwa tujuan dibuatnya lubang resapan adalah untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah,” ucap Budiarti kepada salah satu pembina SAMT Tengku Ampuan Jemaah Shah Alam.

Sementara itu, setelah mencoba membuat lubang resapan, Nor Azizi, salah seorang perwakilan sekolah mengungkapkan bahwa pngalaman membuat lubang resapan biopori ini memberikan kesan berbeda. “Di Malaysia, kami belum pernah membuat lubang resapan seperti ini. Meskipun alat bor bioporinya kecil, namun manfaatnya besar sekali untuk meresapkan air hujan biar tidak ada genangan air,” ujar Nor Azizi

Saling membantu, kebersamaan antara pelajar Surabaya dan pelajar Malaysia bahu membahu membuat lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Perak Barat

Saling membantu, kebersamaan antara pelajar Surabaya dan pelajar Malaysia bahu membahu membuat lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Perak Barat

Ketua rombongan pelajar dari Malaysia ini menambahkan bahwa mereka telah belajar banyak pengelolaan lingkungan bersama sekolah-sekolah di Surabaya. “Saya ingin pesan 8 unit alat bor biopori ini agar bisa saya sosialisasikan ke sekolah-sekolah disana, “ ujar Nor Azizi kepada Tunas Hijau.

Tidak hanya guru pembina saja yang mengungkapkan pendapat, perwakilan siswa dari Malaysia ini juga mengungkapkan pendapatnya. Seperti yang disampaikan oleh Fatimah, siswa yang masih berumur 13 tahun ini tampak dengan susah payah membuat lubang resapan sedalam 100 cm. Penuh rasa penasaran, Fatimah menanyakan bahwa kedalaman 100 cm pada lubang resapan biopori.

“Abang, kenapa kedalaman lubang resapan biopori harus 100 cm, setelah itu kenapa harus diisi sampah daun?” tanya Fatimah, pelajar kelas 8. Satuman, aktivis Tunas Hijau menjelaskan bahwa alasan kedalaman lubang resapan harus 100 cm adalah untuk efektifitas serapan air hujan ke dalam tanah.

Secara bergantian kedua pelajar beda negara Indinesia dan Malaysia ini membuat lubang resapan biopori dalam gerakan sejuta lubang resapan di jalur hijau yang digelar Tunas Hijau

Secara bergantian kedua pelajar beda negara Indinesia dan Malaysia ini membuat lubang resapan biopori dalam gerakan sejuta lubang resapan di jalur hijau yang digelar Tunas Hijau

“Agar air hujan efektif bisa terserap ke dalam tanah dan agar volume air hujan yang meresap ke dalam tanah semakin bertambah. Sedangkan alasan harus diisi sampah organik adalah untuk menahan tanah di dalam lubang longsor, sampah organik bisa diolah menjadi kompos di dalam lubang secara alamiah,” terang Satuman kepada rombongan pelajar asal Selangor, Malaysia.

Dalam kegiatan lubang resapan biopori di jalur hijau ini, uniknya partisipan asal Malaysia tidak membuat lubang resapan biopori sendiri, melainkan berpasangan dengan siswa dari SMPN 11, SMPN 5 dan SDN Bubutan IV. Menurut penuturan Ali Felyndra, aktivis Tunas Hijau, suasananya memang dibuat agar berpasangan untuk menjalin komunikasi lebih dekat lagi dengan anak-anak Malaysia.

“Kalau dicampur saat pembuatan lubang resapan, kalian bisa berkomunikasi dengan anak-anak Malaysia. Kalian bisa tukar informasi lingkungan dengan mereka, kalian juga bisa mengajari mereka membuat lubang resapan,” terang Ali. Sebanyak 50 lubang resapan baru berhasi ditanam dalam jalur hijau Jalan Perak Barat. Kondisi tanah yang basah membuat proses pembuatan lubang resapan berjalan cepat.

“Abang, saya ingin membawa pulang alat bor lubang resapan agar saya bisa mengajak keluarga dan teman-teman saya di Malaysia untuk membuat lubang resapan seperti ini. Hal ini merupakan yang pertama kalinya kami lakukan di Malaysia dan Surabaya. Ternyata membuat lubang resapan itu tidak mudah,” ujar Abdul Haziq Aziz.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine.(1man/ry)