Rombongan SAMT Tengku Ampuan Menari Dan Bernyanyi Bareng Warga SDN Bubutan IV Saat Jingle Dimainkan

SURABAYA – Kedatangan rombongan SAMT Tengku Ampuan Jemaah Shah Alam disambut SDN Bubutan IV dengan jingle lingkungan  berjudul let’s save water in the earth, yel-yel lingkungan dan tetembangan ijo royo-royo, Selasa, (17/12). Jingle dan tetembangan karya kader lingkungan mampu menghipnotis peserta dari Malaysia.

Penampilan tim jingle lingkungan SDN Bubutan IV terbukti menghipnotis rombongan pelajar SAMT Tengku Ampuan untuk bernyanyi dan menari bersama warga sekolah

Penampilan tim jingle lingkungan SDN Bubutan IV terbukti menghipnotis rombongan pelajar SAMT Tengku Ampuan untuk bernyanyi dan menari bersama warga sekolah

Menurut penuturan Budiarti, kepala SDN Bubutan IV, lagu jingle dan tetembangan tersebut memang sengaja ditampilkan untuk memperkenalkan keanekaragaman budaya bangsa. “Tidak hanya memperkenalkan budaya bangsa, kami memadukan dengan memasukkan unsur lingkungan agar membangkitkan semangat peduli lingkungan di semua penampilan tadi,” ujar Budiarti.

Tidak hanya kagum saja, rombongan pelajar dari Selangor Malaysia ini tidak malu untuk ikut bernyanyi dan menarii bersama warga sekolah juara lomba jingle lingkungan Surabaya Eco School. “Kami senang sekali bisa menghibur rombongan dari Malaysia ini. Lebih senang lagi saat saya lihat mereka turut bernyanyi sambil menari tarian khas jingle let’s save water in the earth,” ucap Titin Krisminawati.setelah menampilkan jingle lingkungan.

Warga SDN Bubutan IV yang turut serta bernanyi dan menari tarian khas jingle lingkungan berjudul Let's save water in the earth ini membuat rombongan pelajar asal Malaysia ikut bernyanyi  dan menari

Warga SDN Bubutan IV yang turut serta bernanyi dan menari tarian khas jingle lingkungan berjudul Let’s save water in the earth ini membuat rombongan pelajar asal Malaysia ikut bernyanyi dan menari

Sementara itu, Budiarti, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian penampilan siswa-siswanya memiliki maksud mengajak semua orang peduli lingkungan dengan caranya masing-masing. “Sebenarnya melalui seni musik merupakan cara kami untuk menyampaikan pesan untuk menjaga kondisi air dan menjaganya melalui upaya konservasi air yang dilakukan di sekolah,” terang Budiarti.

Budiarti menambahkan bahwa musik menjadi bahasa universal yang mudah dipahami dan diterima oleh semua orang. “Makanya kami memilih menggunakan cara tersebut, niatan tersebut didukung dengan SDM yang mumpuni,” imbuh Budiarti.

Puas mendengarkan harmoni lagu lingkungan, rombongan pelajar dari Malaysia ini diajak untuk melihat pengolahan sampah organik di sekolah yang satu atap dengan SDN Bubutan VI ini. Mereka diperkenalkan dengan program lingkungan unggulan yaitu impor sampah organik.

Salah seorang pelajar SAMT Tengku Ampuan tertarik dengan pengolahan sampah kernjng komposter yang ditunjukkan oleh kader lingkungan SDN Bubutan IV

Salah seorang pelajar SAMT Tengku Ampuan tertarik dengan pengolahan sampah kernjng komposter yang ditunjukkan oleh kader lingkungan SDN Bubutan IV

”Sedikitnya 2 tong komposter dan 4 keranjang pengomposan selalu penuh setiap harinya karena aktivitas impor sampah yang dilakukan tim lingkungan didukung dengan partisipasi walimurid yang mengantarkan sampah organik di pasar setiap harinya. Sebelum dimasukkan, sampah organik tersebut kami catat beratnya,” ujar Titin Krisminawati.

Titin Krisminawati menjelaskan alasan mereka mengimpor sampah organik dari pasar tradisional adalah untuk mengurangi volume sampah organik yang dikirim ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) hingga berakhir di TPA Benowo. Tidak hanya diajak untuk melihat pengolahan sampah organik saja, rombongan pelajar SAMT Tengku Ampuan ini diajak untuk membuat lubang resapan biopori di dekat ruang guru.

Salah seorang peljar SAMT Tengku ampuan tertarik memainkan gamelan yang merupakan alat musik tradisiional Jawa yang diperkenalkan SDN Bubutan IV

Salah seorang peljar SAMT Tengku ampuan tertarik memainkan gamelan yang merupakan alat musik tradisiional Jawa yang diperkenalkan SDN Bubutan IV

“Salah satu makna lagu jingle adalah mengajak kita untuk buat lubang resapan, nah untuk buat lubang resapan ini, kalian harus membuat lubang sedalam 100 cm, kemudian diisi dengan sampah organik sampai penuh dan padat untuk asupan gizi hewan di dalam tanah,” terang Titin Krisminawati.

Sekolah yang berhasil menjadi peringkat pertama Surabaya Eco School menutup kunjungan dengan mengajak mereka membuat batik lingkungan. “Setiap aktivitas yang berbau kesenian kami sisipkan pesan peduli lingkungan,” ujar Titin.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine. (1man/ry)