Suminah, Eco Teacher (Junior) of the Year 2013, Ingin Setiap Warga Surabaya Buat Lubang Resapan Di Rumah

Suminah, guru pembina lingkungan SMPN 11, Peraih penghargaan eco teacher (junior) of the year dalam program lingkungan Surabaya Eco School 2013

Suminah, guru pembina lingkungan SMPN 11, Peraih penghargaan  eco teacher (junior) of the year Surabaya Eco School 2013

Cinta lingkungan sepertinya sudah menjadi bagian dari hidup Suminah, guru pembina lingkungan SMPN 11.Alasannya adalah latar belakang guru pengajar Matematika ini berasal dari daerah Nganjuk. Diceritakan oleh Suminah, guru pembina lingkungan bahwa sejak kecil dirinya sudah mengenal lingkungan, bahkan sejak usia SD dan SMP, Suminah sudah bisa menanam padi dan jagung di desa.

Suminah, guru pembina lingkungan SMPN 11 mengajak kader lingkungan menghitung volume sampah organik yang berhasil dikumpulkan dalam sehari menggunakan timbangan

Suminah, guru pembina lingkungan SMPN 11 mengajak kader lingkungan menghitung volume sampah organik yang berhasil dikumpulkan dalam sehari menggunakan timbangan

“Karena kebiasaan itu yang terbawa sampai saya SMA, kuliah kemudian sampai menjadi guru seperti sekarang, saya tetap cinta lingkungan,” ucap Suminah, Eco Teacher Of The Year Surabaya Eco School 2013 yang digelar Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali, Selasa (18/12). Latar belakang tersebut membawa Suminah mendedikasikan pengalaman hidupnya dengan mengajak warga sekolah lainnya peduli terhadap lingkungan.

Sebagai pembina lingkungan, Suminah melakukan segala bentuk aktivitas lingkungan mulai dari pemilahan sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan keranjang dan tong komposter, pembuatan lubang resapan biopori, semua itu dijalankan dengan kemauan dan niatan yang kuat. “Prinsip saya adalah selalu lakukan pekerjaan yang kamu suka dengan hati, pantang menyerah dan enjoy atau santai,” terang Suminah.

Suminah, guru pembina lingkungan bersama kader lingkungan SMPN 11 sedang asyik memanen hasil kebun sayur yang selama ini dirawat dengan memanfaatkan air hasil  pemanfaatan air IPAL Kantin

Suminah, guru pembina lingkungan bersama kader lingkungan SMPN 11 sedang asyik memanen hasil kebun sayur yang selama ini dirawat dengan memanfaatkan air hasil pemanfaatan air IPAL Kantin

Guru yang dikenal ulet, jujur, murah senyum dan pantang menyerah ini menjadi inspirasi bagi warga sekolah lainnya.Hal ini dilihat dari meskipun memiliki kanker serviks, Suminah tetap pantang menyerah untuk mewujudkan sekolah menjadi lebih ramah lingkungan. Bersama dengan warga sekolah lainnya, Suminah telah mencapai hasil dalam Surabaya Eco School 2013 diantaranya adalah sebanyak 801 lubang resapan biopori yang tertanam di lingkungan sekolah, IPAL kantin sekolah, panen kompos yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik.

Menurut Suminah, guru pembina lingkungan, hal yang paling berkesan saat Surabaya Eco School adalah saat menjalankan tantangan pengumpulan sampah organik di pasar. “Saat itu, sudah petang, saya meminta antarkan suami untuk pergi ke pasar Kapas Krampung untuk mengumpulkan sampah organik, hasilnya sebanyak 49 kg berhasil saya kumpulkan dan bawa sendiri bersama suami. Itu momen Surabaya Eco School yang tidak bisa dilupakan,” terang Suminah menceritakan pengalamannya.

Suminah, sosok pengajar tak kenal lelah dan tak pernah mengeluh ini menjadi juri saat lomba mural lingkungan di sekolahnya, SMPN 11

Suminah, guru pembina lingkungan SMPN 11 terlihat serius menilai mural lingkungan hasil kompetisi mural di setiap kelas yang digelar di sekolah

Suminah menambahkan Surabaya Eco School tahun ini lebih menantang karena setiap minggunya selalu ada tantangan baru yang harus direalisasikannya. Sementara itu, guru matematika ini gemar mengintegrasikan lingkungan ke dalam pelajaran matematika.Hal tersebut yang membuat dirinya semakin dekat dengan warga sekolah. Salah satu contohnya adalah saat pelajaran menghitung luas bidang, Suminah menggunakan pemanfaatan pipa paralon bekas untuk menjadi alat peraganya, tidak hanya itu, tong komposter pun pernah menjadi alat peraga saat pembelajaran volume benda ruang.

“Dengan menggabungkan antara lingkungan dan matematika, saya mengajak siswa untuk lebih peduli lingkungan, kalau lingkungan itu menyenangkan,” terang Suminah. Tidak hanya di sekolah, Suminah, ibu dua orang anak ini juga mencoba menularkan peduli lingkungan kepada keluarga. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya upaya pemilahan sampah dan pembuatan lubang resapan biopori di depan rumah. Menurut Suminah, peduli lingkungan juga harus dibudayakan dari rumah melalui keluarga.

Suminah, guru pembina lingkungan SMPN 11 bersama kepala sekolah dan kader lingkungan aktif mengikuti kegiatan lingkungan di luar sekolah, contohnya seperti pembuatan lubang resapan biopori

Suminah, guru pembina lingkungan SMPN 11 bersama kepala sekolah dan kader lingkungan aktif mengikuti kegiatan lingkungan di luar sekolah, contohnya seperti pembuatan lubang resapan biopori

“Setiap hari saya selalu mengingatkan keluarga saya untuk memilah sampah antara kertas dan plastik. Setelah dipilah, kami berikan kepada pengepul. Selain itu, saya juga sudah membuat 3 lubang resapan biopori. Sampah organik sisa makanan dan sayur saya masukkan ke dalam lubang resapan biopori, setiap harinya sebanyak 3 kg sampah organik yang saya masukkan ke dalam lubang resapan, dengan begitu saya tidak pernah mengirimkan sampah organik keluar rumah,” terang Suminah.

Menjadi Eco Teacher of The Year, membuat anak terakhir dari 4 bersaudara ini memiliki harapan kedepan terhadap Surabaya. Suminah berharap agar setiap rumah dapat merealisasikan pembuatan lubang resapan biopori di depan rumah masing-masing. “Jika setiap warga di Surabaya membuat lubang resapan biopori di rumah, maka sampah organik bisa langsung dimasukkan ke dalam lubang biopori dan langsung diolah menjadi pupuk. Sehingga setiap rumah tidak lagi mengirimkan sampah organik ke TPA,” terang Suminah.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine. (ryn)