1 Taman 1 Guru Dan Wajah Baru Bank Sampah SMPN 23

Sejak Jumat minggu lalu, (24/01) warga SMPN 23 tidak perlu lagi bingung untuk mengolah sampah yang dihasilkan. Hal tersebut dikarenakan, adanya bank sampah mandiri yang tampil dengan memiliki ruang sendiri. Menurut penuturan  Kun Mariyati, guru pembina lingkungan sekolah yang berlokasi di daerah Kedung Baruk ini, sebelumnya pelaksanaan transaksi bank sampah masih dilakukan dengan berpindah-pindah.

Kun Mariyati, guru pembina lingkungan SMPN 23 mencatat hasil pengumpulan sampah pada bank sampah di sekolah

Kun Mariyati, guru pembina lingkungan SMPN 23 mencatat hasil pengumpulan sampah pada bank sampah di sekolah

“Karena kami dulu tidak mempunyai ruangan khusus untuk menjalankan program bank sampah, sekarang kami sudah memiliki ruangan sendiri,” ujar Kun Mariyati. Informasi tersebut disampaikan langsung kepada Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan sekaligus monitoring hutan sekolah, Selasa (28/01).

Kun Mariyati menambahkan bahwa wajah baru bank sampah ini berasal dari uang pembinaan Surabaya Eco School 2013. “Ruangan bank sampah tersebut kami bangun dengan menggunakan uang pembinaan sebagai sekolah terbaik kedua Surabaya Eco School 2013 bersama Pemerintah Kota dan PT Pembangkitan Jawa-Bali.” Imbuh Kun Mariyati kepada Tunas Hijau.

Aktivitas penyetoran sampah di bank sampah baru milik SMPN 23, setiap harinya sedikitnya 2 kg sampah harus disetorkan kepada petugas bank sampah

Aktivitas penyetoran sampah di bank sampah baru milik SMPN 23, setiap harinya sedikitnya 2 kg sampah harus disetorkan kepada petugas bank sampah

Dalam pembinaan ini, Khusnul Prasetya, salah seorang kader lingkungan menjelaskan bahwa selama 4 hari berjalan, nasabah bank sampah sudah mencapai 80 orang. “Pada awal pembukaan bank sampah jumat lalu, setiap siswa diharuskan menyetor sedikitnya 2 kg sampah kering kepada petugas bank sampah sebagai tabungan awalnya,” ucap Khusnul Prasetya, manager bank sampah.

Khusnul menambahkan bahwa sampah yang terkumpul di dalam bank sampah akan dijual setiap 2 minggu sampai satu bulan sekali. Sementara itu, tidak hanya mengupas bank sampah saja, Taman guru menjadi program lingkungan terbaru sekolah jawara lomba yel-yel lingkungan Surabaya Eco School 2013.

Kun mariyati, guru pembina lingkungan menunjukkan lahan yang akan digunakan untuk taman atau ladang sayuran masing-masing guru

Kun mariyati, guru pembina lingkungan menunjukkan lahan yang akan digunakan untuk taman atau ladang sayuran masing-masing guru

Dijelaskan oleh Kun Mariyati, pembina lingkungan yang juga seorang pustakawan bahwa program lingkungan terbaru adalah setiap guru memiliki kavling taman sendiri-sendiri, hal ini karena sekolah bekerja sama dengan salah satu agrobisnis sebagai tempat produksi tanaman sayur organik. “Kami diminta untuk menanam 100 kg tanaman bayam merah, bayam putih dan tanaman lainnya,” ucap Kun Mariyati.

Lebih lanjut, Kun Mariyati menambahkan setelah memasuki masa panen, semua tanaman sayur tersebut akan diserahkan kepada salah satu Agrobisnis yang ada di daerah Mojokerto. “Taman atau ladang guru ini adalah tantangan baru bagi kami, karena mau tidak mau, kami harus merawat tanaman sampai panen, target kami adalah 100 kg tanaman sayur,” imbuh Kun Mariyati.

Guru pembina lingkungan SMPN 23 yang juga seorang pustakawan ini menjelaskan tentang pemanfaatan air hujan yang ada di dalam rainwater tank untuk siram-siram tanaman dan hutan sekolah

Guru pembina lingkungan SMPN 23 yang juga seorang pustakawan ini menjelaskan tentang pemanfaatan air hujan yang ada di dalam rainwater tank untuk siram-siram tanaman dan hutan sekolah

Tidak hanya menunjukkan lahan untuk pembuatan taman guru saja, Anggriyan, aktivis Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk memberikan label pohon yang ada di hutan sekolah. “Di hutan sekolah kami, pohon tabebuia dan pohon pagoda yang paling banyak, kami berharap agar dalam beberapa tahun kedepan, pohon tersebut menjadi semakin besar,” ucap Anastasya Putri, siswa kelas 8.

Anastasya berharap agar hutan sekolah dalam beberapa tahun kedepan akan rimbun. Pohon-pohon yang ada di hutan sekolah maupun lainnyapun mendapatkan perawatan dari kader lingkungan dengan memanfaatkan air hujan di dalam rainwater tank. (ryn)