Hutan Sekolah Baru SMAN 19 Inspirasi Warganya Untuk Peduli Lingkungan

SURABAYA РSebanyak 52 bibit pohon bantuan dari Tunas Hijau program Surabaya Eco School 2013 bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali di SMAN 19 tegak berdiri. Tidak ada bibit pohon yang layu, kering bahkan belum disiram. Hal tersebut disampaikan oleh Anis saat pembinaan lingkungan sekaligus monitoring hutan sekolah, Kamis (23/01).

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menjelaskan kepada kader lingkungan SMAN 19 tentang pentingnya pohon bagi kehidupan di bumi

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menjelaskan kepada kader lingkungan SMAN 19 tentang pentingnya pohon bagi kehidupan di bumi

Menurut penuturan Anis, meskipun wilayah lingkungan SMAN 19 luas dan sudah ada penghijauan, namun untuk jenis tanamannya masih perlu ditambah lagi. “Makanya, kami meminta bantuan 52 bibit pohon produktif maupun teduh untuk kami jadikan hutan sekolah baru. Hasilnya, sampai sekarang kami masih rutin melakukan perawatan terhadap pohon.

Dalam pembinaan ini, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk memberikan nama sambil (labeling) pada bibit pohon yang sudah tersebar di lingkungan masyarakat. Dengan menggunakan kertas dan bolpoin, “Pada tahap awal ini, kader lingkungan diajak untuk melakukan aktivitas perawatan seperti menyiram bibit pohon tersebut, ujar Anis

Kader lingkungan SMAN 19 antusias memeriksa kondisi tandon penampungan air hujan berkapasitas 2200 liter

Kader lingkungan SMAN 19 antusias memeriksa kondisi tandon penampungan air hujan berkapasitas 2200 liter

Mengenai upaya menjaga dan merawat puluhan ¬†bibit pohon, kader lingkungan memanfaatkan air hujan di dalam tandon penampungan air berkapasitas 2200 liter. “Selama musim hujan ini, bibit pohon kami selalu terkena air hujan. Karena lebih sering hujan, maka kami tidak repot untuk menyiraminya dengan bantuan selang 25 meter,” ujar Anis.

Anis menambahkan bahwa tandon penampungan air hujan ini digunakan saat tidak hujan untuk menyirami tanaman di taman maupun 52 bibit pohon berukuran 2 – 3 meter. Dalam kegiatan pengecekan bibit pohon ini, Tunas Hijau menemukan bahwa sebagian besar pohonnya mulai menunjukkan perkembangan tinggi dan diameter batang.

Kader lingkungan SMAN 19 tampak antusias meneliti jenis bibit pohon dengan mencium bau dari daun pohon tersebut

Kader lingkungan SMAN 19 tampak antusias meneliti jenis bibit pohon dengan mencium bau dari daun pohon tersebut

Hal tersebut disampaikan oleh Dhita Putri, salah soerang kader lingkungan sekolah yang berada di daerah Kedung Cowek ini. “Pohon Tabebuia ini misalnya, dari mulai saya tanam sampai sekarang, sudah terlihat pertumbuhan diameter batang pohonnya semakin besar, jumlah daunnya juga semakin bertambah,” ujar Dhita Putri, siswa kelas 11.

Sementara itu, disampaikan oleh Dirham Fathur, ketua kader lingkungan menyampaikan bahwa warga sekolah sangat senang sekali dengan adanya hutan sekolah yang baru ini. “Mereka pun jadi memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaganya, setiap pulang sekolah kami bergantian melakukan piket menyiram bibit pohonnya saat tidak hujan,” ujar Dirham, siswa kelas 11 IPA.

Salah seorang kader lingkungan memasang label bibit pohon pemberian Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali

Salah seorang kader lingkungan memasang label bibit pohon pemberian Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali

Dalam monitoring hutan sekolah ini, Anggriyan Permana, aktivis Tunas HIjau menyarankan agar kader lingkungan membuat nama untuk label pohon. “Silahkan buat label pohon sekreatif kalian, yang penting warga sekolah tahu nama dan jenis pohon yang sudah kalian tanam,” ucap Anggriyan. Anggriyan menambahkan bahwa hutan sekolah baru dapat dijadikan sumber media pembelajaran lingkungan di sekolah. (ryn)