SMPN 11 Optimalkan Pengomposan Dengan 2 Kotak Kompos Baru

4 tong komposter tidak cukup bagi kader lingkungan SMPN 11 untuk mengolah sampah organik khususnya daun di sekolah. Potensi banyaknya sampah daun ini membuat mereka membuat 2 bak pengomposan yang terletak di belakang sekolah.

Kader lingkungan SMPN 11 mengisi kotak pengomposn skala besar yang baru ini dengan sampah organik, khususnya daun yang banyak terdapat di sekolah

Kader lingkungan SMPN 11 mengisi kotak pengomposn skala besar yang baru ini dengan sampah organik, khususnya daun yang banyak terdapat di sekolah

Menurut penuturan Suminah, guru pembina lingkungan, kader lingkungan sempat kewalahan untuk mengolah sampah daun kalau hanya mengandalkan 4 tong komposter dan ratusan lubang resapan biopori. “Meski kami sudah ada 4 tong komposter dan lubang resapan biopori, tetap saja sampah daun di sekolah masih banyak. Itulah sebabnya kami membuat 2 kotak pengomposan skala besar,” ujar Suminah.

Fakta tersebut didapati oleh Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan sekaligus meninjau perkembangan pembuatan water treatment atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) hadiah untuk sekolah jawara Surabaya Eco School 2013, Kamis (16/01). Program lingkungan berkelanjutan untuk sekolah yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali.

Kader lingkungan SMPN 11 terlihat serius menimbang sampah daun yang sudah dikumpulkan untuk ditimbang, setiap hari, sebanyak 4,5 kg

Kader lingkungan SMPN 11 terlihat serius menimbang sampah daun yang sudah dikumpulkan untuk ditimbang, setiap hari, sebanyak 4,5 kg

Dalam pembinaan ini, Suminah mengatakan bahwa proses pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah domestik akan segera direalisasikan. “Proses pembuatan IPAL ini akan dimulai hari senin, karena beberapa hari ini masih digunakan untuk mempersiapkan bahan-bahan dan gambarnya agar bisa dijadikan media pembelajaran lingkungan,” ucap Suminah.

Sambil menunggu sekolah mempesiapkan untuk membuat IPAL, Suminah mengajak kader lingkungan untuk mengisi kotak pengomposan yang ada di belakang sekolah dengan sampah daun penuh. Tidak hanya sekedar mengisi, sebelumnya mereka diminta untuk menimbang sampah daun yang dimasukkan ke dalam kotak pengomposan.

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menjelaskan kepada kader lingkungan SMPN 11 tentang perawatan pembibitan sayuran organik.

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menjelaskan kepada kader lingkungan SMPN 11 tentang perawatan pembibitan sayuran organik.

“Saya membiasakan kader lingkungan agar memiliki data terukur terhadap setiap kegiatan yang dilakukan. Hal ini juga bermanfaat untuk mengetahui volume sampah yang bisa dikurangi setiap harinya,” ucap Suminah. Dengan membawa timbangan, Safrizal Amir mengajak kader lingkungan lainnya untuk menimbang berat sampah daun yang diisikan ke dalam kotak pengomposan.

“Satu ember ini berisi 4, 5 kg sampah daun Kak, jadi kalau semuanya dimasukkan ke dalam kotak pengomposan, kira-kira dalam satu hari, kami bisa mengumpulkan sedikitnya 35 kg sampah daun,” ucap Safrizal Amir, kader lingkungan yang juga ketua OSIS ini. Anggriyan, aktivis Tunas Hijau menyarankan agar kotak pengomposan harus tetap dalam keadaan yang lembab dengan sesekali diberi air.

Salah seorang kader lingkungan SMPN 11 mengecek kondisi air hujan yang ada di dalam rainwater tank, dibutuhkan sebanyak 2 hari untuk menghabiskan 2200 liter air hujan untuk siram tanaman di lingkungan sekolah

Salah seorang kader lingkungan SMPN 11 mengecek kondisi air hujan yang ada di dalam rainwater tank, dibutuhkan sebanyak 2 hari untuk menghabiskan 2200 liter air hujan untuk siram tanaman di lingkungan sekolah

Tidak hanya sekedar melakukan pengomposan, kader lingkungan sekolah yang berada di daerah Sawah Pulo ini diajak untuk melihat pembibitan tanaman sayur tomat dan okra yang masih berusia seminggu. Menurut penuturan Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau bahwa kondisi pembibitan mereka seharusnya bisa lebih besar dan tinggi daripada sekarang.

“Pembibitan sayuran kalian ini kurang terkena sinar matahari, itulah kenapa tanamannya belum bisa optimal tingginya, meskipun masih berusia seminggu,” ucap Anggriyan. Rainwater tank atau penampungan air hujan juga terus digunakan untuk menyiram tanaman dan disalurkan ke dalam kolam ikan. “Dibutuhkan waktu 2 hari untuk menghabiskan air hujan yang ditampung untuk siram-siram tanaman,” ucap Safrizal Amir. (ryn)