Meskipun Terkena Banjir, SMPN 26 Antusias Benahi Lubang Resapan Dan Komposter Lagi

Hujan yang mengguyur wilayah Banjarsugihan beberapa waktu lalu menyebabkan banjir setinggi 100 cm atau setinggi perut orang dewasa. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah SMPN 26 Surabaya, sekolah adiwiyata mandiri ini merasakan dampak bencana banjir yaitu hilangnya puluhan lubang resapan biopori, kondisi keranjang komposter yang tidak lagi lembab melainkan basah.

Kader lingkungan SMPN 26 membuat lubang resapan biopori lagi di taman sekolah untuk mengganti puluhan lubang resapan yang tertimbun tanah karena banjir

Kader lingkungan SMPN 26 membuat lubang resapan biopori lagi di taman sekolah untuk mengganti puluhan lubang resapan yang tertimbun tanah karena banjir

Fakta tersebut disampaikan oleh Sri Sulami, guru pembina lingkungan SMPN 26 Surabaya saat Tunas Hijau menggelar pembinaan lingkungan sekaligus ekspose sekolah adiwiyata, Senin (20/01). Menurut Sri Sulami, banjir bandang yang melanda daerah Banjarsugihan membuat sekolah kehilangan puluhan lubang resapan biopori dan keranjang komposter yang basah.

“Sebagian besar lubang resapan biopori yang hilang dikarenakan tertimbun oleh tanah kembali. Kami sudah berusaha menyisir seluruh wilayah sekolah yang menjadi tempat penanaman lubang resapan biopori, namun hasilnya semua lubang resapan biopori tertutup tanah,” ucap Sri Sulami.

Kader lingkungan SMPN 26 menemukan pipa lubang resapan yang tertimbun tanah saat membuat lagi lubang resapan biopori di taman sekolah

Kader lingkungan SMPN 26 menemukan pipa lubang resapan yang tertimbun tanah saat membuat lagi lubang resapan biopori di taman sekolah

Sri Sulami menambahkan bahwa kondisi serupa terjadi pada keranjang komposter yang ada di depan kelas. Saat kondisi banjir setinggi 100 cm, kondisi keranjang komposter sudah terendam air sehingga hanya terlihat sampai penutup keranjang saja.

“Beberapa keranjang komposter berhasil diselamatkan, terutama keranjang komposter yang berada di lantai atas masih utuh,” imbuh Sri Sulami. Tidak ingin berlarut, Sri Sulami pun berencana untuk melakukan perbaikan terhadap semua sarana lingkungan yang sudah rusak secara bertahap.

Kondisi tersebut membuat Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk mengawali membuat lubang resapan biopori dan memperbaiki keranjang komposter. “Ayo sekarang biar kita mulai dulu membuat lubang resapan bioporinya, semoga dengan awal adanya aksi ini besok akan ditindak lanjuti oleh sekolah,” ajak Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau.

Kader lingkungan SMPN 26 melakukan perawatan terhadap keranjang komposter yang basah karena terendam banjir, kader lingkungan ini sangat antusias untuk memperbaiki keranjang komposter agar sesuai dengan fungsinya seperti semula

Kader lingkungan SMPN 26 melakukan perawatan terhadap keranjang komposter yang basah karena terendam banjir, kader lingkungan ini sangat antusias untuk memperbaiki keranjang komposter agar sesuai dengan fungsinya seperti semula

Dengan menggunakan 3 alat bor biopori, kader lingkungan kembali membuat lubang resapan di taman sekolah. “Wah, Kak saat saya membuat lubang ternyata saya menemukan ada pipa paralon bekas lubang resapan, ternyata pipa paralonnya tertimbun tanah,” ujar Kharisma Dwi Andini, siswa kelas 7.

Tidak hanya itu, Kharisma Dwi juga menggunakan tongkat untuk mengaduk keranjang komposter yang basah terkena banjir. Anggriyan, aktivis Tunas Hijau menyarankan agar keranjang komposternya dimulai dari awal dengan menjemur isinya terlebih dahulu. “Setelah dijemur, baru kalian masukkan lagi ditambah dengan pupuk kompos. Jangan lupa diisi dengan sisa makanan,” saran Anggriyan. (ryn)