SMAK St Louis I Tambah 55 Lubang Resapan Lagi

Bagi SMAK St Louis I Surabaya, sekolah jawara Surabaya Eco School 2013, pemberian hadiah water treatment atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik merupakan bukan sekedar hadiah. Water treatment yang menurut perencanaan akan direalisasikan akhir Januari ini merupakan sebuah amanah.

Kader lingkungan SMAK St Louis I Surabaya terlihat mengoptimalkan air hujan yang ada di dalam rainwater tank untuk digunakan menyiram tanaman

Kader lingkungan SMAK St Louis I Surabaya terlihat mengoptimalkan air hujan yang ada di dalam rainwater tank untuk digunakan menyiram tanaman

Fakta tersebut disampaikan oleh Alex Sandra Herlina, guru pembina lingkungan kepada Tunas Hijau saat pembinaan lingkungan pasca program lingkungan berkelanjutan ini, Jumat (17/01). “Pemberian water treatment atau Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik ini bukan hanya sekedar hadiah bagi kami, melainkan amanah untuk tetap meneruskan upaya konservasi air di sekolah,” ucap Alex Sandra Herlina.

Guru pembina lingkungan yang juga seorang dokter ini menambahkan bahwa pembuatan water treatment akan ditanam di dalam tanah, maka kader lingkungan akan membuatnya sempurna sambil memikirkan cara untuk maintenence nya. Untuk hasil yang maksimal, tim lingkungan sekolah ini masih mendiskusikan rancangan yang sesuai untuk pembuatan water treatment nya.

Disampaikan oleh Lukas Karyono, karyawan sekolah bagian sarana prasarana bahwa penempatan water treatment seluas 6 kubik ini akan berada di antara kantin sekolah dan kamar mandi siswa. “Alasan kami tempatkan IPAL tersebut diantara kantin dan kamar mandi siswa adalah agar saat sudah beroperasi, IPAL ini akan mengolah limbah domestik yang dihasilkan oleh kantin dan kamar mandi,” ucap Lukas Karyono.

Kader lingkungan SMAK St Louis I Surabaya sedang mengisi lubang resapan biopori yang baru dengan sampah organik

Kader lingkungan SMAK St Louis I Surabaya sedang mengisi lubang resapan biopori yang baru dengan sampah organik

Lukas menambahkan bahwa air yang dihasilkan dari pengolaan IPAL ini akan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Sementara itu, dalam pembinaan ini, kader lingkungan sekolah yang berada di daerah Polisi Istimewa ini diajak untuk mengecek kondisi lubang resapan bioporinya. Menurut penuturan Alex Sandra Herlina, sebanyak 55 lubang resapan baru sudah ditanam di sekitar dalam sekolah.

“Jadi total lubang resapan kami adalah 115 lubang resapan biopori di dalam sekolah sedangkan di luar sekolah, tepatnya di jalur hijau jalan Polisi Istimewa adalah 82 lubang resapan biopori,” ucap Alex Sandra Herlina. Guru peraih eco teacher of the year Surabaya Eco School 2013 ini berencana untuk melakukan pemberian angka untuk setiap lubang resapan biopori.

Kader lingkungan SMAK St louis I Surabaya melakukan pengecekan terhadap kondisi keranjang komposter yang ada di kantin sekolah

Kader lingkungan SMAK St louis I Surabaya melakukan pengecekan terhadap kondisi keranjang komposter yang ada di kantin sekolah

“Hal ini akan memudahkan kader lingkungan melakukan pengecekan dan perawatan terhadap lubang resapan biopori. Kalau ada lubang respan biopori yang tidak terawat, dengan cepat kami akan tahu dan cepat pula memperbaikinya,” terang Herlina. Tidak hanya penambahan lubang resapan biopori, SMAK St Louis I Surabaya ini mengoptimalkan rainwater tank untuk siram tanaman.

“Kami menbuat pipa sambungan untuk diletakkan di taman depan, agar tanaman di taman depan dapat disirami air hujan dari rainwater tank,” ucap Herlina. Kedepan, kader lingkungan berencana untuk merealisasikan instalasi penampungan air AC. “Besok kami akan melakukan kunjungan study ke SDK Santa Clara untuk belajar instalasi penampungan air AC,” imbuh Herlina.