SMAN 13 Siap Produksi Kompos

Sampah daun menjadi potensi terbesar yang dimiliki kader lingkungan SMAN 13 Surabaya untuk mengelola lingkungan hidup di sekolah. Berbagai media pengolahan sampah organik pun digunakan untuk mengolah banyaknya sampah daun untuk menjadi kompos. Diantaranya tong komposter, lubang resapan biopori dan komposter terbuka.

Kader lingkungan SMAN 13 sedang melakukan pengadukan sampah daun yang ada di dalam pengomposan terbuka

Kader lingkungan SMAN 13 sedang melakukan pengadukan sampah daun yang ada di dalam pengomposan terbuka

Dengan luas lahan 3 x 1, 5 meter, kader lingkungan sekolah adiwiyata nasional ini mengolah sampah daun yang berjatuhan dari pepohonan. Fakta tersebut disampaikan oleh Adelia Roro, kader lingkungan kelas 10 saat Tunas Hijau menggelar pembinaan lingkungan sekaligus ekspose sekolah adiwiyata, Selasa (21/01).

Menurut penuturan Adelia Roro, selain dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori dan tong komposter, sampah daun dari pepohonan langsung dibawa ke komposter komunal. “Kami sudah pernah panen kompos loh Kak dari pengomposan skala besar ini,” ucap Adelia Roro, mantan siswa SMPN 16. Sayangnya, kondisi pengomposan di lahan yang ada di pojok sekolah ini jarang dilakukan pengadukan. Hal ini terlihat dari tumpukan sampah daun dari awal sampai sampah daun yang baru belum tercampur.

Sampah daun yang sudah lama ditimbun, kemudian dipanen oleh kader lingkungan SMAN 13 dengan menggunakan ayakan

Sampah daun yang sudah lama ditimbun, kemudian dipanen oleh kader lingkungan SMAN 13 dengan menggunakan ayakan

Menurut penuturan Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau seharusnya dengan metode alami yakni ditimbun saja, membutuhkan waktu untuk mengurai sampah daun lebih lama. “Untuk proses pengomposan dengan metode alami atau sederhana membutuhkan waktu sedikitnya 2 bulan. Tetapi tidak hanya dibiarkan saja, tetapi setiap dua minggu sekali sampah daun yang mulai terurai ini harus diaduk, biar antara sampah daun yang baru dan yang lama tercampur,” ucap Anggriyan.

Dalam pembinaan tersebut, kader lingkungan sekolah yang berada di Lidah Kulon ini memanen kompos yang sudah lama diolah. kader lingkungan menunjukkan adanya sarana lingkungan yang baru yakni rumah jamur. Menurut Jovandyo Sawastama, kader lingkungan kelas 11 ini menceritakan bahwa rumah jamur merupakan proyek kedepan dari sekolah. “Kami memulai untuk mengelola jamur di dalam rumah jamur, namun, kami membuat rumah jamur yang sederhana karena jamur tiram yang akan dibiakkan tidak banyak,” ucap Jovandyo kepada Tunas Hijau.

Ryan Ananta Yosefine, ketua kader lingkungan SMAN 13 menerangkan pemanfaatan rainwater tank dengan kapasitas 2200 liter ini untuk mengisi air di kamar mandi saat musim hujan, saat musim kemareau, digunakan untuk menyiram tanaman

Ryan Ananta Yosefine, ketua kader lingkungan SMAN 13 menerangkan pemanfaatan rainwater tank dengan kapasitas 2200 liter ini untuk mengisi air di kamar mandi saat musim hujan, saat musim kemarau, digunakan untuk menyiram tanaman

Sementara itu, Ryan Ananta Yosefine, ketua kader lingkungan mengatakan bahwa musim hujan membawa keuntungan bagi rainwater tank reward Surabaya Eco School 2013. “Kalau musim hujan, tandon penampungan air hujan berkapasitas 2200 liter ini dapat langsung penuh selama 1 hari, sedangkan untuk pemanfaatannya bisa sampai 2 hari baru habis,” ucap Ryan Ananta, siswa kelas 11.

Ryan Ananta Yosefine menambahkan bahwa tandon air penampungan air hujan ini dimanfaatkan untuk mengisi air di kamar mandi. “Kalau musim kering baru akan kami gunakan untuk menyiram tanaman,” imbuh Ryan Ananta. Kedepan, mereka berencana untuk membuat rumah jamur yang lebih bagus dan luas lagi. “Semoga dalam beberapa minggu kedepan, kami bisa segera realisasikan rumah jamur yang baru,” imbuh Ryan Ananta, mantan siswa SMPN 40. (ryn)