SMAN 3 Ajak Kader Labeling Pohon Di Hutan Sekolah Dengan Kompetisi

SURABAYA - Hutan Sekolah realisasi program Surabaya Eco School 2013 di SMAN 3 memang masih berusia 4 bulan. Namun, perkembangan bibit pohon dari jenis produktif maupun teduh ini mengesankan. Dalam 4 bulan tersebut, sebagian besar bibit pohon yang pada awalnya sebelum ditanam adalah 2 – 3 meter, kini mulai bertambah 10-15 cm. Sebanyak 53 pohon bantuan PT Pembangkitan Jawa-Bali tersebut tampak segar dan hijau.

Kader lingkungan SMAN 3 antusias memberi label ke batang pohon yang didapat dari Surabaya Eco School 2013 bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali

Kader lingkungan SMAN 3 antusias memberi label ke batang pohon yang didapat dari Surabaya Eco School 2013 bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali

Informasi tersebut didapatkan Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan di sekolah yang berada di daerah Kenjeran sekaligus monitoring hutan sekolah, Kamis (23/01). Dalam pembinaan ini, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk melakukan labeling atau penamaan nama dan jenis pohon. “Siapa yang berani untuk memberi nama pohon-pohon ini,” tantang Anggriyan, aktivis Tunas Hijau.

Tantangan Tunas Hijau ini kemudian diterima oleh kader lingkungan,dengan format kompetisi, kader lingkungan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. “Masing-masing kelompok akan diberi beberapa lembar kertas dan spidol, tugas kalian adalah memberi nomor urut di batang pohon, kemudian baru menuliskan nama atau jenis pohonnya,” terang Anggriyan membacakan peraturan permainannya.

Pemberian nama pada pohon di hutan sekolah dilakukan secara kompetisi oleh kader lingkungan SMAN 3 dalam kegiatan monitoring hutan sekolah

Pemberian nama pada pohon di hutan sekolah dilakukan secara kompetisi oleh kader lingkungan SMAN 3 dalam kegiatan monitoring hutan sekolah

Anggriyan menambahkan bahwa setiap kelompok dibebaskan menggunakan bantuan internet melalui gadget mereka masing-masing. “Kalau masih belum mengerti nama pohonnya, kalian bisa gunakan handphone kalian untuk browsing gambarnya,” imbuh Anggriyan. Kedua kelompokpun tampak antusias untuk memberi label hutan sekolah mereka.

Menurut tanggapan Khairani Arlinda, salah seorang kader lingkungan, dirinya baru melakukan pelabelan nama pohon di sekolah. “Saya belum pernah memberikan label atau nama pohon di sekolah, jadi ini adalah pertama kalinya dan kegiatannya seru sekali,” ucap Khairani, siswa kelas 11. Khairani menambahkan bahwa labeling pohon bertujuan untuk memberikan informasi kepada warga sekolah lainnya.

Sementara itu, Hutama Satriana, salah seorang kader lingkungan lainnya menjelaskan bahwa dengan adanya labeling pohon, dirinya dapat mengetahui jenis pohon yang ada di hutan sekolah. “Dari pemberian nama pada pohon ini, saya dapat mengetahui jenis pohon di hutan sekolah diantaranya adalah trembesi, kupu-kupu, nyamplung, sapu tangan, sawo kecik dan pagoda,” ujar Hutama Satriana, siswa kelas 11.

Dengan serius, kader lingkungan SMAN 3 ini menempelkan nama atau jenis pohonnya seperti tabebuia di bagian batang

Dengan serius, kader lingkungan SMAN 3 ini menempelkan nama atau jenis pohonnya seperti tabebuia di bagian batang

Sayangnya, dalam monitoring ini, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menemukan adanya 3 pohon yang sudah kering. Diantaranya adalah tabebuia dan mangga. Menurut penuturan Sumini, guru pembina lingkungan, keringnya ketiga pohon tersebut dikarenakan letak pohon yang jauh dari jangkauan untuk perawatannya.

“Letak ketiga pohon yang kering tersebut berada di depan dan di belakang sekolah, jadi karena letaknya tersebut membuat kader lingkungan susah untuk merawatnya,” ucap Sumini. Sumini menambahkan bahwa sekolah berencana untuk mengganti ketiga pohon yang kering. “Saya akan mengganti ketiga pohon tersebut dengan menanam tiga pohon baru lagi,” ucap Sumini. (ryn)