SMKN 10 Optimalkan Lubang Biopori Dan Maintenance IPAL

Pasca Surabaya Eco School 2013, kader lingkungan SMKN 10 terlihat semakin bersemangat untuk meneruskan program lingkungan yang mengarah pada tema konervasi air. Hal ini terlihat saat rutinitas mereka melakukan perawatan terhadap beberapa icon konservasi air di sekolah, seperti lubang resapan biopori, pengomposan dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) domestik di kantin.

Kader lingkungan SMKN 10 semakin bersemangat untuk melakukan perawatan lubang resapan dengan memasukkan sampah organik ke dalam sedikitnya 350 lubang resapan secara bertahap

Kader lingkungan SMKN 10 semakin bersemangat untuk melakukan perawatan lubang resapan dengan memasukkan sampah organik ke dalam sedikitnya 350 lubang resapan secara bertahap

Upaya perawatan tersebut disampaikan langusng kepada Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan hidup, Sabtu (18/01). Menurut penuturan Elisabeth Andriningtyas, guru pembina lingkungan sekolah runner up Surabaya Eco School 2013 bahwa setiap harinya kader lingkungan melakukan perawatan terhadap masing-masing program lingkungan yang menjadi tanggung jawabnya.

“Salah satu contohnya seperti program perawatan lubang resapan biopori, sepulang sekolah kader lingkungan selalu menyisihkan waktu 15 – 30 menit untuk mengisi  sedikitnya 350 lubang resapan secara bergantian dengan sampah daun,” ucap Elisabeth Andrianingtyas. sedikitya satu ember penuh digunakan untuk mengisi setiap 3 lubang resapan biopori.

Kader lingkungan SMKN 10 terlihat memanfaatkan air yang berasal dari IPAL untuk menyiram tanaman yang ada di taman depan sekolah menggunakan ember bekas tempat sampah

Kader lingkungan SMKN 10 terlihat memanfaatkan air yang berasal dari IPAL untuk menyiram tanaman yang ada di taman depan sekolah menggunakan ember bekas tempat sampah

Tidak hanya perawatan lubang resapan biopori saja, program IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) kantinpun dilakukan setiap satu minggu sekali. Menurut Mochamad Syafruddin Aji, salah seorang kader lingkungan mengatakan setiap harinya pemanfaatan air di dalam IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) hasil penjernihan dari limbah kantin digunakan untuk menyiram tanaman yang ada di taman depan.

“Setiap satu minggu sekali, kami mengecek kotak pertama yang berisikan endapan sampah sisa makanan yang terbawa oleh limbah kantin, tidak hanya itu, kami juga mencari saluran air yang tersumbat dengan sisa makanan dari kantin untuk kami bereskan,” ucap Syafruddin Aji.

Kader lingkungan SMKN 10 penasaran memeriksa kondisi di dlam kotak penjernihan air limbah yang ada pada IPAL

Kader lingkungan SMKN 10 penasaran memeriksa kondisi di dlam kotak penjernihan air limbah yang ada pada IPAL

Dalam pembinaan lingkungan berkelanjutan ini, Tunas Hijau menemukan adanya permasalahan dalam rangkaian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik yang ada di dekat kantin. Menurut penuturan Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau bahwa dalam kotak yang berisi endapan sampah sisa makanan, terdapat belatung yang berjalan melalui pipa paralon sampai masuk ke dalam kotak kedua tentang penjernihan air.

“Seharusnya endapan sisa makanan ini tidak dibiarkan terlalu lama ditumpuk di dalam kotak, perlu adannya pengolahan lebih lanut terkait dengan endapan sisa makanan ini. Sudah waktunya IPAL kalian di maintenence ( perbarui) lagi,” ujar Anggriyan Permana. Aktivis yang juga hobi bermusik ini menambahkan dampak dari permasalahan tersebut adalah bau dari hasil IPAL yang terbawa sampai ke dalam kantin.

Salah seorang kader lingkungan SMKN 10 menunjukkan adanya ulata atu belatung yang tidak sengaja ditemui di kotak penjernihan air, belatung ini pasti berasal dari sebelah sekolah

Salah seorang kader lingkungan SMKN 10 menunjukkan adanya ulata atu belatung yang tidak sengaja ditemui di kotak penjernihan air, belatung ini pasti berasal dari sebelah sekolah

“Kalian harus memikirkan solusi agar limbah sisa makanan ini bisa terolah dengan baik, tidak menumpuk yang akhirnya menimbulkan bau tidak sedap,” saran Anggriyan. Sementara itu, tidak hanya perawatan instalasi pengolahan air limbah saja, tandon penampungan air hujan berkapasitas 2200 literpun terlihat benar-benar dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.

“Tandon penampungan air hujan ini benar-benar memberi banyak manfaat terlebih saat musim kemarau atau air dari PDAM keluarnya sedikit, jadi kami bisa menghemat pemakaian air dalam tanah,” ucap Anggita Dwi Ariono, siswa kelas 12. Tidak hanya itu, dengan adanya penampungan air hujan ini, sekolah tidak lagi kekurangan air. (ryn)