SMP Kartika IV-11 Kenali Jenis Pohon Dengan Amati Bentuk Daun

Mencari tahu nama atau jenis pohon dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengamati bentuk dan ciri-ciri daunnya. Aktivitas tersebut dilakukan oleh kader lingkungan SMP Kartika IV-11 Surabaya saat Tunas Hijau menggelar pembinaan lingkungan sekaligus monitoring hutan sekolah program Surabaya Eco School 2013 bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali, Jumat (24/01).

Kader lingkungan SMP Kartika IV-11 menebak nama atau jenis pohon dengan cara mengamati bentuk dan ruas daun serta mencium bau daunnya

Kader lingkungan SMP Kartika IV-11 menebak nama atau jenis pohon dengan cara mengamati bentuk dan ruas daun serta mencium bau daunnya

Menurut penuturan Vinka Dwi Agustin, ketua kader lingkungan SMP Kartika IV-11 menjelaskan bahwa selama realisasi hutan sekolah yakni saat pertama kali 15 bibit pohon bantuan dari Tunas Hijau dan PT Pembangkitan Jawa-Bali ini ditanam, kader lingkungan hanya melakukan perawatan penyiraman saja. “Ini adalah kali pertama kami melakukan kegiatan meneliti jenis pohon berdasarkan daunnya,” ujar Vinka.

Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau bahwa menebak nama atau jenis pohon baru dengan menggunakan daun caranya adalah dengan menebak ruas dan bentuk daunnya. “Kalian ambil daun pada salah satu pohon, kemudian kalian amati, karena antara daun satu dengan yang lain berbeda, ruas daun dan bentuk daunnya,” ujar Anggriyan.

Salah seorang kader lingkungan SMP Kartika IV-11 antusias mengukur pertumbuhan bibit pohon yang merupakan realisasi hutan sekolah

Salah seorang kader lingkungan SMP Kartika IV-11 antusias mengukur pertumbuhan bibit pohon yang merupakan realisasi hutan sekolah

Dalam pembinaan ini, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk mengukur pertumbuhan bibit pohon yang sudah 4 bulan di sekolah. Dengan menggunakan penggaris, Callista Ramadhani mulai mengukur pohon yang awalnya memiliki tinggi 2 – 3 meter ini. “Wah, kak ternyata selama 4 bulan, bibit pohon tanjung ini mengalami pertumbuhan, yakni sekarang tingginya mencapai 3 meter 40 cm Kak,” ujar Callista.

Melihat perkembangan hutan sekolah membuat kader lingkungan sekolah di daerah Kodam ini semakin antusias. Kotak pengomposan yang terletak di dekat green house pun menjadi sasarannya. “Teman-teman, ayo kita isi kotak pengomposan ini dengan sampah daun yang banyak di area ini,” ajak Vinka Dwi Agustin, siswa kelas 8.

Salah seorang kader lingkungan SMP Kartika IV-11 sedang menjelaskan pemanfaatan air hujan di dalam rainwater tank kepada kader lingkungan lainnya

Salah seorang kader lingkungan SMP Kartika IV-11 sedang menjelaskan pemanfaatan air hujan di dalam rainwater tank kepada kader lingkungan lainnya

Dalam pembinaan ini, Tunas Hijau menyarankan agar kotak pengomposan tersebut harus ada proses pembalikannya. “Dalam proses pengomposan, kalian harus melakukan pembalikan kompos sesering mungkin, karena dengan pembalikan tersebut, kompos kalian akan tercampur rata, sehingga hasil komposnya maksimal,” ujar Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau.

Sementara itu, rainwater tank yang merupakan reward sekolah finalis Surabaya Eco School benar-benar difungsikan untuk menyiram tanaman di depan kelas maupun hutan sekolah mereka. “Setiap harinya, kami memanfaatkan air hujan yang ada di dalam rainwater tank untuk menyiram semua tanaman dan pohon di sekolah. Dalam dua hari, tandon berkapasitas 2200 liter tersebut habis dipakai,” pungkas Chelsea Nikita. (ryn)