SMPN 36 Budidaya Tanaman Gingseng Manfaatkan Air Hujan Di Rainwater Tank

Tanaman gingseng menjadi TOGA (Tanaman Obat Keluarga) yang dibudidayakan di SMPN 36 Surabaya. Alasannya, tanaman gingseng merupakan salah satu icon lingkungan sekolah. Fakta tersebut disampaikan oleh Perkasi Tri Jayani, salah seorang kader lingkungan saat Tunas Hijau menggelar pembinaan lingkungan di sekolahnya, Senin (27/01).

Kader lingkungan SMPN 36 menyiram tanaman gingseng dnegan memanfaatkan air hujan yang di tampung dalam rain water tank

Kader lingkungan SMPN 36 menyiram tanaman gingseng dnegan memanfaatkan air hujan yang di tampung dalam rain water tank

Menurut penuturan Perkasi Tri Jayani, tanaman gingseng tersebut akan dimanfaatkan daunnya untuk diolah menjadi beberapa produk ramah lingkungan. “Kami akan membuat produk ramah lingkungan seperti keripik gingseng, botok gingseng dan olahan lainnya yang menjadi favorit warga sekolah,” ucap Perkasi, siswa kelas 8.

Dalam pembinaan ini, sekolah yang berlokasi di daerah Jalan Kebonsari Sekolahan ini dalam masa pembangunan gedung baru. Hal tersebut berakibat pada banyaknya lubang resapan biopori yang tertutup bekas material pembangungan. Kejadian ini tidak membuat mereka gentar, kader lingkungan masih antusias untuk merawat lubang resapan biopori sisa yang ada di belakang.

Kader lingkungan SMPN 36 membuat lubang resapan biopori baru ditempat lama yang telah terutup tanah di belakang sekolah

Kader lingkungan SMPN 36 membuat lubang resapan biopori baru ditempat lama yang telah terutup tanah di belakang sekolah

“Selama pembangunan gedung baru ini, kami hanya merawat lubang resapan dengan memasukkan sampah daun ke dalam lubang resapan setiap harinya,” ucap Videa Nila Anggraini, kader lingkungan lainnya. Videa Nila menambahkan bahwa lubang resapan ini awalnya tertutup dengan tanah. Kader lingkunganpun berinisiatif untuk mengeluarkan tanahnya dan digantikan dengan sampah daun lebih banyak lagi.

Sementara itu, tidak hanya mengisi lubang resapan saja, kader lingkungan juga membuat lubang resapan baru di belakang sekolah. “Karena banyak lubang resapan yang tertutup tanah, maka kami berinisiatif membuat lubang resapan baru ditempat yang sudah tertutup oleh tanah,” ucap Videa Nila, siswa kelas 8.

Kader lingkungan SMPN 36 memanfaatkan air hujan yang ditampung di dalam rain water tank untuk penyiraman tanaman

Kader lingkungan SMPN 36 memanfaatkan air hujan yang ditampung di dalam rain water tank untuk penyiraman tanaman

Dalam pembinaan ini, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan memanfaatkan air hujan yang ada di dalam rainwater tank untuk menyirami tanaman gingseng yang berada di dekat tong komposter. “Ayo kita manfaatkan air hujan ini agar air tanah bisa dihemat sebanyak mungkin,” ajak Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau.

Dengan menggunakan ember, Damar Pambudi, kader  lingkungan kelas 8 ini mengambil air hujan untuk disiramkan ke taman gingseng. “Kami selalu memanfaatkan air hujan yang ada di dalam tandon berkapasitas 2200 liter untuk menyiram tanaman yang ada di green house dan hutan sekolah menggunakan selang,” ucap Damar Pambudi. (ryn)