SMPN 4 Promosikan Sarana Lingkungan Lewat Radio Sekolah 92,1 FM

Mengudara di saluran 92,1 FM, merupakan saluran radio  PURING (Pelajar Unggul Ramah Lingkungan), sebutan untuk kader lingkungan SMPN 4 Surabaya dalam menyampaikan pesan lingkungan kepada pendengar setianya. Setiap hari secara bergantian, kader lingkungan sekolah yang menjadi adiwiyata mandiri membacakan isu-isu lingkungan yang update di bumi dan di lingkungan sekitar sekolah.

Informasi tersebut disampaikan oleh Mas Roro Suhartini, guru pembina lingkungan dalam pembinaan lingkungan hidup sekaligus ekspose sekolah adiwiyata yang digelar Tunas Hijau, Senin (20/01).

Kader lingkungan SMPN 4 melakukan siaran radio sekolah di gelombang 92,1 FM untuk  menyampaikan pesan-pesan lingkungan kepada pendengar setianya

Kader lingkungan SMPN 4 melakukan siaran radio sekolah di gelombang 92,1 FM untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan kepada pendengar setianya

Menurut penuturan Mas Roro Suhartini, radio sekolah yang sudah memiliki gelombang radio tersendiri ini digunakan untuk menyampaikan pesan lingkungan dan mempromosikan banyaknya sarana lingkungan yang dimiliki sekolah. “Setiap harinya, mereka secara bergantian membacakan script yang ada di radio sekolah PURING, tidak hanya itu saja, kami juga mempromosikan banyaknya sarana lingkungan yang dimiliki sekolah seperti kolam ikan lele, roof garden, IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) kepada pendengar setia mereka,” terang Mas Roro Suhartini.

Berbagai perkembangan program lingkungan terbaru disampaikan oleh Vanda Kalista, salah seorang kader lingkungan kelas 8 yang mengatakan bahwa sejak mendapat predikat sekolah adiwiyata mandiri, warga sekolah tampak antusias untuk giat merealisasikan program lingkungan yang baru yakni akuaponik atau sejenis hidroponik.

Kader lingkungan SMPN 4 melakukan penataan terhadap batu apung yang menjadi media inovasi akuaponik mereka dengan mengandalkan nutrisi dari kotoran ikan lele

Kader lingkungan SMPN 4 melakukan penataan terhadap batu apung yang menjadi media inovasi akuaponik mereka dengan mengandalkan nutrisi dari kotoran ikan lele

“Kami memiliki inovasi akuaponik, yaitu penanaman tanaman memanfaatkan kotoran ikan lele sebagai nutrisinya. Sedangkan medianya berasal dari batu apung,” ucap Vanda kalista. Vanda kalista menambahkan bahwa program akuaponik ini masih dalam proses realisasi, karena menurut rencana akuaponik yang ada di atas kolam ikan lele akan di tanami tanaman sawi.

Sementara itu, dalam ekspose sekolah adiwiyata ini, Sofia Nurbaya, kepala SMPN 4 Surabaya merasa senang karena sekolahnya telah berhasil meraih prestasi menjadi sekolah adiwiyata mandiri setelah menempuh perjuangan selama 3 tahun. “Yang lebih membuat kami senang dan bahagia adalah, kami berhasil membawa sekolah imbas kami, yakni SMAN 13 menjadi sekolah adiwiyata nasional. Dengan prestasi ini, tentu saja guru dan siswa dari kedua sekolah merasa senang atas prestasi yang didapat masing-masing  ini,” ucap Sofia Nurbaya.

Tampak antusias, kader lingkungan SMPN 4 mengolah kembali kompos yang kering di dalam keranjang komposter. Keranjang komposter yang terletak di kantin ini butuh banyak pengawasan dari kader lingkungan

Tampak antusias, kader lingkungan SMPN 4 mengolah kembali kompos yang kering di dalam keranjang komposter. Keranjang komposter yang terletak di kantin ini butuh banyak pengawasan dari kader lingkungan

Meskipun sudah menjadi sekolah adiwiyata mandiri, kekuranganpun masih dimiliki oleh sekolah yang berlokasi di daerah Tanjung Anom ini, Tunas Hijau menemukan bahwa beberapa keranjang komposter yang ditempatkan di kantin sekolah tampak kering. Menurut penuturan Resti Ardiani, salah seorang kader lingkungan mengungkapkan bahwa kondisi keranjang komposter kering, karena setelah dipanen beberapa waktu lalu, tim komposter tidak mengisi ulang keranjang komposter dengan sisa makanan.

“Terima kasih Kak, koreksi ini akan segera kami perbaiki, kami akan langsung melakukan pengecekan keranjang komposter di kelas-kelas juga,” ucap Resti Ardiani, siswa yang juga ketua OSIS SMPN 4. Resti menambahkan bahwa kedepannya, dirinya akan mengajak warga sekolah lain untuk giat mengolah sampah organik yang dihasilkan. “Rencana kami, kami mau ada kompetisi pengolahan sampah organik dengan keranjang komposter,” tambahnya. (ryn)