Ajak Warga SMPN 38 Kurangi Sampah Plastik Dengan Gelar Kampanye Anti Sedotan

SURABAYA – Upaya pengurangan sampah plastik di sekolah dilakukan oleh SMPN 38 dengan menggelar kampanye lingkungan. Sekolah yang berada di daerah Kalisosok ini, secara bertahap sudah melakukan pengurangan plastik dengan meniadakan plastik es yang diganti dengan gelas di kantin sekolah. Informasi ini disampaikan oleh Mochamad Macmud, guru pembina lingkungan, saat Tunas Hijau menggelar pembinaan lingkungan, Kamis (06/02).

Kader lingkungan SMPN 38 mengkampanyekan anti sedotan plastik kepada petugas kantin sekolah agar tidak menggunakan sedotan plastik lagi

Kader lingkungan SMPN 38 mengkampanyekan anti sedotan plastik kepada petugas kantin sekolah agar tidak menggunakan sedotan plastik lagi

Menurut Machmud, kantin sekolah sudah mengganti plastik es dengan gelas, namun untuk permasalahannya masih ada sedotan plastik yang masih beredar di sekolah. “Sedotan plastik inilah yang coba diangkat kader lingkungan dalam kampanye lingkungannya,” ucap Machmud. Bertajuk kampanye anti sedotan plastik, kader lingkungan menggunakan poster sebagai media kampanyenya.

Poster lingkungan bertuliskan dalam satu hari sedotan yang dihasilkan oleh warga SMPN 38 sebanyak 1800 buah. “Jumlah tersebut diperoleh dari perhitungan jika satu orang menghasilkan dua buah sedotan setiap hariya, maka dengan jumlah 900 orang siswa mulai kelas 7, 8 dan 9 adalah 1800 buah. Sedangkan sedotan hanya sekali pakai,” ucap Iqbal Januar, siswa kelas 7.

Salah seorang kader lingkungan mengkampanyekan anti sedotan plastik kepada teman-temannya yang ada di kelas. Dan mengajak mulaii besok tidak menggunakan sedotan

Salah seorang kader lingkungan mengkampanyekan anti sedotan plastik kepada teman-temannya yang ada di kelas. Dan mengajak mulaii besok tidak menggunakan sedotan

Melalui poster lingkungan ini, kader lingkungan mengajak petugas kantin untuk tidak menggunakan sedotan plastik lagi. “Bu, dalam rangka kampanye anti sedotan, kami meminta ibu untuk tidak menggunakan sedotan lagi saat berjualan minum,” ucap Dhani Safitri, siswa kelas 7. Kader lingkungan menghimbau mengganti sedotan plastik dengan membawa botol minuman sendiri,

Dalam pembinaan ini, Anggriyan, aktivis Tunas Hijau, mengajak kader lingkungan untuk mengecek kondisi lubang resapan biopori yang ada di tengah halaman sekolah. “Wah, kak, daun yang ada di dalam lubang resapannya sudah menyusut, kami tambah lagi ya Kak,” pinta Dhani Safitri. Tanpa membuang waktu, Dhani mengajak kader lingkungan lainnya untuk mengisi lubang resapan dengan daun.

Kader lingkungan SMPN 38 memberikan nama pada pohon-pohon yang ada di halaman sekolah. Pohon tersebut merupakan bantuan dari Tunas Hijau dan PT PJB dalam Surabaya Eco School 2013

Kader lingkungan SMPN 38 memberikan nama pada pohon-pohon yang ada di halaman sekolah. Pohon tersebut merupakan bantuan dari Tunas Hijau dan PT PJB dalam Surabaya Eco School 2013

Tidak hanya mengecek lubang resapan, Tunas Hijau juga mengajak kader lingkungan untuk memberi label pohon yang didapat dari Tunas Hijau dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) saat program Surabaya Eco School 2013. “Teman-teman silahkan, beri nama pohon-pohon ini, agar warga sekolah lainnya bisa mengetahui jenis pohon yang ada di sekolahnya,” ajak Anggriyan.

Dengan menggunakan selembar kertas, Tsabitah Zahra, kader lingkungan lainnya, menuliskan nama-nama pohon tersebut. “Ternyata pohon yang ada di sekolah kami jenisnya diantaranya ada tabebuia, tanjung, spatudea dan rambutan,” ucap Tsabitah Zahra. Sebelum pembinaan berakhir, kader lingkungan berkomitmen tidak menggunakan sedotan mulai besok. (ryn)