SDN Sememi I Isi Lubang Resapan Dengan Sampah Organik Dari Grebek Pasar

SURABAYA - Lokasi sekolah yang berdekatan dengan pasar tradisional menjadi keuntungan tersendiri bagi kader lingkungan SDN Sememi I. Pasalnya, mereka bisa sewaktu-waktu melakukan grebek pasar untuk mengambil sampah organik. Sampah organik tersebut akan digunakan untuk mengisi media pengomposan seperti tong komposter, keranjang komposter dan lubang resapan biopori.

Kader lingkungan SDN Sememi I membuat lubang resapan biopori di luar sekolah dengan melubangi lubang resapan yang lama

Kader lingkungan SDN Sememi I membuat lubang resapan biopori di luar sekolah dengan melubangi lubang resapan yang lama

Informasi tersebut disampaikan oleh Trubus, kepala SDN Sememi I kepada Tunas Hijau saat pembinaan lingkungan di sekolahnya, Rabu (12/02). Menurut Trubus, pasca program Surabaya Eco School 2013, program lingkungan yang mengalami perkembangan adalah penambahan lubang resapan biopori, pemanfaatan rainwater tank untuk menyiram tanaman dan pembibitan tanaman.

Dalam pembinaan ini, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk melakukan grebek pasar di pasar terdekat. “Ayo, teman-teman kita cari sampah organik di pasar untuk mengisi lubang resapan biopori yang banyak di sekitar sekolah,” ajak Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau. Dengan ekspresi sumringah, kader lingkungan kelas 3 dan 4 pun langsung mengambil karung untuk tempat sampah organiknya.

Kader lingkungan SDN Sememi I melakukan grebek pasar yang berada di dekat sekolah

Kader lingkungan SDN Sememi I melakukan grebek pasar yang berada di dekat sekolah

Kondisi lubang resapan biopori yang ada di dalam maupun luar sekolah sebagian besar tertutup oleh tanah. Menurut penuturan Siti Laila, guru pembinaan lingkungan, menutupnya lubang resapan biopori disebabkan karena lubang resapan jarang untuk diisi dengan sampah organik. “Beberapa lubang resapan biopori yang ada diluar sekolah, sudah tertutup oleh tanah, jadi harus dibor ulang lagi,” ucap Siti Laila.

Dengan membawa satu karung sampah organik, Tunas Hijau mengajak mereka langsung mengisi lubang resapan bioporinya. “Siapa yang mau membantu kakak untuk mencacah sampah organik seperti sayur yang tadi diambil dari pasar sebelah?” ajak Anggriyan. Tanpa basa-basi, kader lingkungan ini langsung mencacah sampah organik menjadi bagian terkecil.

Kader lingkungan SDN Sememi I memasukkan sampah organik hasil grebek pasar ke dalam tong komposter

Kader lingkungan SDN Sememi I memasukkan sampah organik hasil grebek pasar ke dalam tong komposter

Menurut penuturan  Egalita Nadliyah, salah seorang kader lingkungan, anak-anak sangat bersemangat mengisi lubang resapan biopori. “Anak-anak sangat senang sekali waktu mengumpulkan sampah organik di pasar Kak, apalagi disuruh mengisi lubang resapan biopori, karena mereka tidak takut kotor,” terang Egalita Nadliyah, siswa kelas 4.

Sementara itu, tidak hanya mengisi lubang resapan biopori saja, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan mengumpulkan sampah untuk disetorkan ke dalam bank sampah. “Biasanya, kami mengumpulkan sampah dulu dari kelas-kelas, baru setelah itu dipilah di bank sampah,” ucap Amelia Salwa, kader lingkungan kelas 4.

Kader lingkungan SDN Sememi I mengolah sampah organik  yang dikumpulkan dari hasil grebek pasar di dekat sekolah

Kader lingkungan SDN Sememi I mengolah sampah organik yang dikumpulkan dari hasil grebek pasar di dekat sekolah

Diakhir pembinaan, Trubus kepala sekolah yang berlokasi di daerah Kendung ini mengatakan rencana kedepan, sekolah akan mengembangkan program urban farming dengan memanfaatkan lahan kosong disebelah green house. “Kami berencana untuk menanam tanaman sayur berupa sawi, terong, tomat dan cabai di lahan sebelah green house, kami sudah beri pupuk tanahnya,” ucap Trubus. (ryn)