SMAN 12 Galakkan Bebas Sampah Plastik Dan Program Baru Taman Sawi

SURABAYA – Upaya mewujudkan sekolah bebas sampah plastik benar-benar diwujudkan oleh SMAN 12. Upaya tersebut dimulai dari kantin sekolah. Menurut penuturan Suharningsih, guru pembina lingkungan sekolah yang terkenal dengan tanaman semanggi ini mengatakan langkah awal dimulai dari pemanggilan penjaga kantin oleh kepala sekolah, Muhammad Hasanul Faruq. “Pada saat itu, Bapak mensosialisasikan bahwa mulai minggu depan, sekolah kantin sekolah tidak diperbolehkan lagi menjual makanan atau minuman menggunakan plastik,” ucap Suharningsih.

Upaya pengurangan sampah plastik yang dilakukan kantin SMAN 12 dengan menyediakan gelas dan piring sendiri bagi warganya

Upaya pengurangan sampah plastik yang dilakukan kantin SMAN 12 dengan menyediakan gelas dan piring sendiri bagi warganya

Mantan kepala SMAN 9 ini menegaskan kepada petugas kantin bahwa saat ini sekolah sudah mendapatkan predikat juara ketiga program lingkungan Surabaya Eco School 2013. “Sebagai sekolah jawara ketiga, banyak hal yang harus dibenahi, terutama permasalahan plastik. Sedangkan sumber datangnya plastik adalah dari kantin sekolah. Jadi saya meminta kepada petugas kantin agar menyediakan gelas dan piring sendiri, tidak ada sedotan, plastik es dan plastik pembungkus lainnya,” ujar Hasanul Faruq, kepala SMAN 12.

Dalam pembinaan ini, Bismoko Herlambang, salah seorang kader lingkungan mengatakan bahwa pasca berlakunya program kantin bebas sampah plastik berdampak pada berkurangnya sampah plastik seperti bungkus es, “Setelah diberlakukannya program bebas sampah plastik di kantin, petugas kantin mulai menyediakan piring dan gelas untuk warga sekolah. Meskipun tidak banyak, namun program tersebut didukung dengan sebagian besar siswa yang membawa tempat minum sendiri saat ke kantin,” terang Bismoko Herlambang, siswa kelas 10.

Kader lingkungan SMAN 12 menawar\kan tanaman sawi yang baru saja dipanen kepada guru-guru

Kader lingkungan SMAN 12 menawar\kan tanaman sawi yang baru saja dipanen kepada guru-guru

Sementara itu, Taman sayuran menjadi program lingkungan terbaru yang dilakukan oleh kader lingkungan. Menurut penuturan Denta Pramestya, salah seorang kader lingkungan, mengatakan bahwa sudah dua bulan terakhir ini mereka fokus melakukan perawatan terhadap tanaman sawi yang ditanam di taman depan sekolah. “Selama dua bulan lebih ini, kami sudah pernah panen, namun tanaman sawi tidak kami panen semua, nunggu pesanan guru,” ujar Denta, siswa kelas 11. Dalam pembinaan ini, mereka kembali memanen sawi kemudian dijual kepada guru-guru.

Tidak hanya sekedar memanen sawi saja, kader lingkungan ini juga melakukan pengecekan lubang resapan biopori. Taman depan sekolah yang terlihat seperti hutan sekolah ini menjadi lokasi lubang resapan terbanyak. Menurut penuturan Andi Setyawan, kader lingkungan, kelas 10 ini, lubang resapan biopori banyak yang tertutup karena terkena banjir. “Sebagian besar lubang resapan biopori tertutup lagi oleh tanah, ketika kami bor lagi, dalam jarak 20 cm sudah keluar airnya Kak,” ujar Andi Setyawan kepada Tunas Hijau.

Kader lingkungan SMAN 12 melakukan pengecekan lubang resapan biopori yang ada di hutan sekolah

Kader lingkungan SMAN 12 melakukan pengecekan lubang resapan biopori yang ada di hutan sekolah

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menyarankan agar kader lingkungan segera melakukan pengecekan seluruh lubang resapan biopori yang ada di lingkungan sekolah. “Kalau ada lubang resapan biopori yang tertutup tanah, bor lagi dengan alat bor biopori, kemudian isikan dengan sampah organik sampai padat, setelah itu diberi tutup saja,” ucap Anggriyan Permana. Rencana kedepan, kader lingkungan akan membenahi lubang resapan biopori dan menambah jumlah tanaman sayur seperti tomat, cabai dan terong. (ryn)