Adu Perkembangan Lingkungan Dalam Workshop Susulan SES 2014 di SMKN 10

SURABAYA – Ada yang berbeda dari pelaksanaan workshop susulan I Surabaya Eco School 2014 untuk SMA/SMK yang tidak hadir dalam workshop sebelumnya. Perbedaan tersebut adalah adanya paparan kegiatan lingkungan yang ada di sekolah peserta workshop. Bertempat di aula SMKN 10, workshop I susulan Surabaya Eco School 2014 ini dihadiri oleh lebih dari 200 orang perwakilan siswa dan guru saling pamer perkembangan kegiatan lingkungan di sekolahnya masing-masing.

Kader lingkungan SMKN 10 menjelaskan sistem kerja budidaya tanaman dengan cara hidroponik yang sudah dilakukan SMKN 10 kepada peserta workshop susulan SES 2014

Kader lingkungan SMKN 10 menjelaskan sistem kerja budidaya tanaman dengan cara hidroponik yang sudah dilakukan SMKN 10 kepada peserta workshop susulan SES 2014

Workshop SES 2014 yang digelar Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) di SMKN 10, Selasa (30/09). Salah satu buktinya seperti yang disampaikan oleh Nita Kusuma, guru pembina lingkungan SMA Jiwa Nala, mengaku kegiatan lingkungan yang masih berjalan adalah setiap hari setiap siswa diminta untuk membawa sampah organik sisa dapur untuk digunakan sebagai bahan baku pengomposan dengan menggunakan tong komposter.

“Berkat adanya kegiatan pembiasaan seperti itu, kami bisa panen kompos secara berkala setiap satu bulan sekali. Hasil panennya, bisa kami berikan kepada anak-anak yang membutuhkan. Dengan program tersebut, membantu kami dalam menghemat pengeluaran untuk beli pupuk kompos,” ucap Nita Kusuma. Tidak hanya program pengomposan saja, sekolah yang merupakan satu komplek dengan SD dan SMP Jiwa Nala ini memanfaatkan lahan sekolahnya dengan melakukan penghijauan melalui media verticultur atau menanam dengan cara penataan vertical.

Kolam budidaya ikan lele milik SMKN 10 banyak memberi inspirasi sekolah-sekolah peserta workshop I susulan SES 2014 untuk mengaplikasikannya di sekolah masing-masing

Kolam budidaya ikan lele milik SMKN 10 banyak memberi inspirasi sekolah-sekolah peserta workshop I susulan SES 2014 untuk mengaplikasikannya di sekolah masing-masing

Sementara itu, berbeda dengan perkembangan kegiatan lingkungan SMK Muhammadiyah I, sebagai guru pembina lingkungan, Darsono, mengaku program lingkungan yang berjalan sampai sekarang adalah pengumpulan dan pemilahan sampah antara kertas dan botol. “Kami sedang mencoba untuk mengaplikasikan program bank sampah dengan mengumpulkan sampah kertas dan botol, kemudian dalam satu bulan sampah tersebut segera kami jual. Hasilnya, kami gunakan untuk kegiatan lingkungan lainnya,” ujar Darsono.

Dalam workshop susulan SES 2014 ini, peserta workshop diajak untuk berkeliling lingkungan sekolah jawara SES 2012. Tujuannya adalah agar dapat memberikan inspirasi bagi sekolah untuk memulai kegiatan lingkungan. Berbagai program lingkungan milik kader lingkungan SMKN 10 mampu menarik perhatian mereka, diantaranya seperti bank sampah, pengomposan, pembibitan sayur, budidaya tanaman hidroponik sampai IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).

Salah seorang siswa SMAN 18 mengungkapkan perkembangan kegiatan lingkungan yang ada di sekolah dalam workshop I susulan SES 2014 di SMKN 10

Salah seorang siswa SMAN 18 mengungkapkan perkembangan kegiatan lingkungan yang ada di sekolah dalam workshop I susulan SES 2014 di SMKN 10

Puji Arianti, guru pembina lingkungan SMA Shafta, mengungkapkan keinginan dirinya bersama tim lingkungan sekolah untuk membuat program bank sampah. “Dengan cara seperti kader lingkungan SMKN 10, kami ingin meniru sistem bank sampah mereka untuk diterapkan di sekolah. Selama ini, kami hanya mengumpulkan sampah yang ada di halaman saja, sementara sampah yang dihasilkan anak-anak di kelas sudah terlanjur di buang,” ujar Puji Arianti.  Dengan skema yang sama, Puji berencana untuk melibatkan semua kelas dalam pengumpulan sampah untuk disetorkan ke bank sampah. (ryn)