Kebijakan Lingkungan Baru Anti Sampah Plastik di SDN Bibis 113

SURABAYA – Berhati-hatilah bila memasuki wilayah SDN Bibis 113 dengan membawa plastik kemasan sekali pakai. Alasannya, sekolah yang berada di Jalan Bibis ini memiliki peraturan melarang plastik kemasan sekali pakai memasuki wilayah sekolah mereka. Sanksinya, siapaun warga sekolahnya kalau membawa masuk plastik kemasan sekali pakai akan diharuskan membawa 1 tanaman.

Upaya pengurangan sampah plastik yang dilakukan warga SDN Bibis 113 dengan membawa botol minuman sendiri sebagai upaya peralihan kebijakan baru dalam pembinaan SES 2014

Upaya pengurangan sampah plastik yang dilakukan warga SDN Bibis 113 dengan membawa botol minuman sendiri sebagai upaya peralihan kebijakan baru dalam pembinaan SES 2014

Tulisan tersebut terpampang jelas di dinding sekolah sebagai himbauan bagi warga sekolah untuk tidak menghasilkan sampah plastik. Informasi tersebut mengawali pembinaan lingkungan Surabaya Eco School 2014 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Jumat (31/10).

Kebijakan lingkungan melibatkan kader lingkungan sebagai pengawas kebijakan, menurut Rizka Maulina, salah seorang kader lingkungan, mereka bertugas untuk mencatat warga sekolah yang kedapatan membawa plastik ke dalam sekolah. “Pertama, mereka akan kami tegur, kalau sudah lebih dari 2 kali diingatkan tidak bisa, ya kami catat namanya, lalu kami berikan kepada guru pembina lingkungan,” ungkap Riska Maulina, siswa kelas 6.

Kader lingkungan SDN Bibis 113 mengolah sampah organik sisa makanan menggunakan keranjang komposter saat pembinaan SES 2014

Kader lingkungan SDN Bibis 113 mengolah sampah organik sisa makanan menggunakan keranjang komposter saat pembinaan SES 2014

Dampak terhadap kebijakan baru tersebut adalah warga sekolah mulai beralih menggunakan botol minuman yang dapat digunakan berulang kali. Menurut Mawahibbur Rifda, guru pembina lingkungan, dengan adanya aturan tersebut membuat warga sekolah berbondong-bondong beralih ke tempat minum yang berulang kali pakai. “Hal ini berdampak sekolah dapat mengurangi volume sampah plastik yang dulu dihasilkan anak-anak,” ucap Mawahibbur Rifda.

Tidak hanya memperkenalkan kebijakan baru, dalam pembinaan lingkungan SES 2014, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk mengolah sampah organik yang dihasilkan setelah istirahat menggunakan keranjang komposter. “Kalau plastiknya hilang, tugas kalian selanjutnya adalah mengolah sampah organik sisa makanaan yang dihasilkan oleh anak-anak,” ucap Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau. Dengan mengerahkan 5 keranjang komposter, mereka dengan cekatan mereka mengolah sampah sisa makanan yang sudah dikumpulkan. (ryn)