Kepala SDN Made II Awasi Langsung Pencacahan Sampah Organik Saat Pengomposan

SURABAYA – Mempunyai mesin pencacah daun yang merupakan hadiah dari Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya membuat Lilik Minaryati, kepala SDN Made II turun langsung dalam mengawasi proses pencacahan daun yang dilakukan anak-anaknya. Fakta tersebut menjadi pembuka pembinaan lingkungan Surabaya Eco School 2014 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Kamis (30/10).

Lilik Minaryati, kepala SDN Made II turun langsung dalam mengawasi proses pencacahan daun yang dilakukan anak-anaknya. saat pembinaan SES 2014

Lilik Minaryati, kepala SDN Made II turun langsung dalam mengawasi proses pencacahan daun yang dilakukan anak-anaknya. saat pembinaan SES 2014

Pasalnya, alat pencacah daun tersebut merupakan benda besar yang hanya bisa dioperasikan oleh orang dewasa, bukan anak-anak. “Dalam pengoperasiannya, saya meminta guru-guru yang laki-laki untuk menghidupkan mesinnya dan menggiling sampah daun atau sampah organik yang dikumpulkan. Anak-anak saya libatkan dalam proses pencarian sampah organiknya baik di kantin maupun saat grebek pasar,” ujar Lilik Minaryati. Hal tersebut memperkecil resiko terjadinya kecelakaan saat proses pencacahan.

Ditambahkan oleh Prayitno, guru pembina lingkungan, sesekali kader lingkungan yang sudah besar seperti kelas 6 dilibatkan pada proses pencacahan daun. “Setidaknya meskipun sebentar, mereka bisa tahu dan belajar bagaimana cara menghancurkan sampah organik menjadi potongan terkecil menggunakan mesin pencacah. Serta tahu bagaimana cara mengoperasikan mesin pencacah tersebut,” terang Prayitno.

Kader lingkungan SDN Made II mengumpulkan hasil cacahan sampah organik untuk dipindahkan ke dalam tong komposter saat pembinaan SES 2014

Kader lingkungan SDN Made II mengumpulkan hasil cacahan sampah organik untuk dipindahkan ke dalam tong komposter saat pembinaan SES 2014

Pasca proses pencacahan sampah organik, tugas kader lingkungan untuk mengumpulkan sampah organik hasil cacahan ke dalam tong komposter. “Dengan adanya alat pencacah sampah organik ini, membantu meringankan pekerjaan kader lingkungan dan penjaga sekolah saat mengolah sampah organik menjadi kompos ini,” terang Abdullah Lathif, salah seorang siswa kelas 6. Ditambahkan oleh Abdullah Lathif bahwa setelah dicacah, sampah daun membutuhkan waktu kurang lebih 3 minggu untuk bisa menjadi kompos dengan syarat pengadukan rutin harus dilakukan.

Tidak hanya mencacah sampah organik saja, dalam pembinaan lingkungan SES 2014, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk melakukan pemilahan sampah di setiap kelasnya. Meskipun dalam kondisi masih dalam renovasi, semangat merekapun masih tetap tinggi. Adanya tiga tempat sampah di depan kelas yang berbeda warna yakni merah, kuning dan hijau membuat mereka dengan cepat melakukan pemilahan sampah.

Kader lingkungan SDN Made II Lakukan pemilahan sampah secara rutin setiap selesai jam istirahat untuk mengumpulkan sampah gelas, botol dan kertas yang layak jual

Kader lingkungan SDN Made II Lakukan pemilahan sampah secara rutin setiap selesai jam istirahat untuk mengumpulkan sampah gelas, botol dan kertas yang layak jual

Menurut Adinda Kesya, salah seorang kader lingkungan kelas 4, dengan dibedakannya pemilahan sampah berdasarkan warna tempat sampah memudahkan warga sekolah. “Kalau warna hijau itu untuk sampah organik, warna kuning itu untuk sampah plastik dan warna merah untuk sampah kertas,” ujar Adinda. Setelah hafal, merekapun mengumpulkan sampah yang sudah dipisahkan antara sampah layak jual dan tidak. “Sampah-sampah yang layak jual seperti gelas dan kertas ini akan dijual untuk kebutuhan lingkungan sekolah,” imbuh Adinda Kesya. (ryn)