SDN Kaliasin III Bawa Pulang 110 Kg Sampah Organik Pasar Keputran Untuk Dikomposkan

SURABAYA – Sejak pukul 06.00, kader lingkungan bersama dengan orang tua dan guru-guru sudah berkumpul di pasar Keputran untuk melakukan grebek pasar. Tidak hanya sebagai pengantar saja, orang tua kader lingkungan ini juga turun langsung membantu anaknya untuk mengumpulkan sampah organik. Lebih dari 110 kg sampah organik berhasil dibawa pulang ke sekolah.

Puluhan karung sampah organik hasil dari grebek pasar ditimbang terlebih dahulu sebelum diolah menjadi pupuk kompos dalam pembinaan SES 2014 oleh kader lingkungan SDN Kaliasin III

Puluhan karung sampah organik hasil dari grebek pasar ditimbang terlebih dahulu sebelum diolah menjadi pupuk kompos dalam pembinaan SES 2014 oleh kader lingkungan SDN Kaliasin III

Partisipasi orang tua kader lingkungan tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap program Surabaya Eco School 2014 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB), Rabu (01/10). Sampah organik tersebut langsung dicacah menggunakan mesin pencacah daun yang dimiliki sekolah dengan melibatkan penjaga sekolah dan siswa.

Menurut penuturan Elvida Hanum, guru pembina lingkungan, dalam acara grebek pasar yang dilakukan di pagi hari ini, peran dari orang tua siswa menjadi senjata penting dalam menghadapai Surabaya Eco School 2014. “Kalau grebek pasarnya, saya dan kader lingkungan sudah biasa melakukannya sendiri, tetapi hari ini sangat istimewa karena orang tua mereka juga turun tangan ikut grebek pasar. Alasan mereka, karena ingin tahu seperti apa kegiatan anak-anaknya dan seperti apa Surabaya Eco School itu,” ucap Elvida Hanum.

Dengan menggunakan timbangan berat badan, kader lingkungan SDN Kaliasin III menimbang atau mengukur perolehan banyaknya sampah organik yang berhasi dibawa pulang kemudian diolah menjadi kompos

Dengan menggunakan timbangan berat badan, kader lingkungan SDN Kaliasin III menimbang atau mengukur perolehan banyaknya sampah organik yang berhasi dibawa pulang kemudian diolah menjadi kompos

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menyarankan agar puluhan karung yang berisi sampah organik tersebut ditimbang terlebih dahulu sebelum diolah menjadi pupuk kompos. “Jadi tujuannya ditimbang adalah agar kita bisa mengetahui secara terukur berapa banyak sampah organik yang dapat kita olah dalam sekali gerakan grebek pasar. Selain itu, tujuan lainnya adalah kita mengetahui berapa banyak sampah organik yang berhasil kita kurangi untuk dibuang ke TPA Benowo setiap kali grebek pasar,” ucap Anggriyan.

Banyaknya sampah organik yang berhasil dibawa pulang ke sekolah, membuat tim lingkungan sekolah yang berada di samping Taman Apsari harus menggunakan bantuan mesin pencacah. “Teman-teman, ayo kita cacah sampah organiknya agar cepat membusuk dan cepat juga menjadi kompos,” ajak Trissha Adara, salah seorang siswa kader lingkungan kelas 5. Dengan antusias, mereka pun mulai memasukkan sampah organik ke dalam mesin pencacah sampah daun. Lahan sekolah yang sempit tidak cukup untuk mengolah sampah organik yang banyak menjadi tantangan mereka.

Salah satu strategi pengolahan sampah organik hasil grebek pasar agar terolah semua dengan cara memanen tong komposter sampai habis, kemudian tong komposter diisi dengan sampah organik baru. “Kalau tidak segera diolah, sampah organik ini sebagian besar ada kandungan airnya, jadi dalam beberapa hari kedepan, sampah tersebut akan bau busuk,” jelas Anggriyan. Dengan menggunakan tutup keranjang komposter, kader lingkungan mulai memanen sampah organik yang ada di tong komposter.

Tidak hanya mengolah sampah organik hasil dari grebek pasar. kader lingkungan SDN Kaliasin III juga diajak untuk memanen kompos daun yang sudah lama ditimbun saja.

Tidak hanya mengolah sampah organik hasil dari grebek pasar. kader lingkungan SDN Kaliasin III juga diajak untuk memanen kompos daun yang sudah lama ditimbun saja.

Sementara itu, agar sampah organiknya dapat terolah semua, kader lingkungan SDN Kaliasin III berencana untuk mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik hasil dari grebek pasar. “Ya kalau tidak habis diolah di tong komposter, sampah organiknya ya dimasukkan ke lubang biopori saja,” ajak Elvida Hanum. Sebagai kelanjutan program, bersama dengan kader lingkungan, sekolah berencana untuk terus melibatkan peran serta walimurid dalam gerakan grebek pasar yang akan dilakukan setiap satu  minggu sekali. (ryn)