SDN Kapasari VIII Mulai Bebas Makanan Kemasan Plastik

SURABAYA – Lilik Atminiasih, penjual kantin SDN Kapasari VIII Surabaya, sudah empat hari ini tidak lagi menjual jajanan dalam kemasan plastik di sekolah. Kini dia menjual lontong mie, lontong lodeh dan bakso yang lebih sehat karena tanpa pengawet, penyedap, pengenyal dan bahan kimia yang umumnya digunakan pada makanan. 

Lilik Atminiasih, penjual kantin SDN Kapasari VIII Surabaya, yang sudah tidak lagi menjual makanan dalam kemasan plastik

Lilik Atminiasih, penjual kantin SDN Kapasari VIII Surabaya, yang sudah tidak lagi menjual makanan dalam kemasan plastik

Beralihnya Lilik Atminiasih menjadi menjual lontong mie, lontong lodeh dan bakso tentunya juga ramah lingkungan. Pasalnya, ketiga jenis makanan berkuah itu dijual tanpa kemasan plastik sekali pakai. Kemasan makanan yang digunakan adalah piring dan mangkok yang bisa digunakan berulang kali dan tidak menghasilkan sampah plastik seperti bila menjual makanan ringan.

Menurut Eni Murtiningtyas, guru SDN Kapasari VIII, butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghimbau penjual kantin hingga mau berubah seperti sekarang ini. “Alhamdulillah ajakan dan himbauan untuk mengurangi penjualan jajanan dan minuman berkemasan plastik sudah bisa membuahkan hasil. Semoga bisa berkelanjutan,” kata Eni Murtiningtyas kepada Tunas Hijau saat pembinaan dan pemantauan Surabaya Eco School 2014 bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali, Jumat (31/10).

Kepala SDN Kapasari VIII Surabaya Edy Sukoco kepada Tunas Hijau membenarkan bahwa perlu upaya terus menerus untuk mengajak penjual makanan di kantin sekolah tidak lagi menjual makanan/minuman dalam kemasan plastik sekali pakai. “Kami bahkan harus melibatkan petugas dari Puskesmas sekitar untuk menyampaikan bahaya makanan dalam kemasan,” kata Edy Sukoco.

Masalahnya, tambah Edy Sukoco, sebelumnya, umumnya penjual mengatakan bahwa makanan/jajanan dalam kemasan sekali pakai yang dijual sudah mendapatkan ijin dari Departemen Kesehatan. “Jadi ya mereka menganggapnya gak bakalan ada masalah kesehatan bila mereka menjualnya,” lanjut Edy Sukoco kepada Tunas Hijau saat pemantauan program yang didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dan PT Dharma Lautan Utama. (ron)