SDN Manukan Wetan IV Realisasikan Lubang Resapan Saat Jumat Bersih

SURABAYA – Menjelang berakhirnya tantangan minggu ketujuh program Surabaya Eco School 2014 tentang pembuatan 20 lubang resapan biopori di sekolah, SDN Manukan Wetan IV segera mengajak warga sekolahnya untuk merealisasikan tantangan 20 lubang resapan biopori di beberapa bagian sekolah yang rendah dan taman sekolah. Fakta lingkungan tersebut mengawali pembinaan lingkungan tahap II Surabaya Eco School 2014.

Kader lingkungan SDN Manukan Wetan IV membuat lubang resapan dengan menjebol paving halaman sekolah saat pembinaan SES 2014

Kader lingkungan SDN Manukan Wetan IV membuat lubang resapan dengan menjebol paving halaman sekolah saat pembinaan SES 2014

Dalam pembinaan lingkungan yang diselenggarakan bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Jumat (31/10). Menurut penuturan Mada Yudha, guru pembina lingkungan, pembuatan lubang resapan biopori sudah dilaksanakan oleh kader lingkungan memanfaatkan momen Jumat Bersih. “Tadi waktu jumat bersih, warga sekolah lainnya bersih-bersih kelas, kader lingkungan saya ajak membuat lubang resapan,” ujar Mada Yudha.

Sedikitnya saluran air membuat proses pembuatan difokuskan pada taman dan paving sekolah. Sekolah yang berada satu atap dengan SMPN 47 memperbolehkan membongkar paving untuk lubang resapan biopori. “Dulu sebelum adanya paving ini ketika hujan, sekolah kami terendam banjir. Setelah ada paving lumayan hasilnya, airnya bisa langsung meresap ke celah-celah paving. Nah, kini kami semakin permudah dengan membuat lubang resapan air hujan,” imbuh Mada Yudha.

Kader lingkungan SDN Manukan Wetan IV mencoba untuk panen kompos yang berasal dari tong komposter saat pembinaan SES 2014

Kader lingkungan SDN Manukan Wetan IV mencoba untuk panen kompos yang berasal dari tong komposter saat pembinaan SES 2014

Tidak hanya membuat lubang resapan biopori saja, kesibukan jumat bersih mengajak kader lingkungan untuk mengecek kondisi tong komposter. Salah satu alat pengomposan andalan sekolah yang berlokasi di Jalan Sikatan ini tampak penuh dengan sampah dedaunan. “Tidak hanya sekedar penuh, kalau ingin sampah dedaunan ini cepat terurai tambahkan air agar kondisinya menjadi lembab. Dengan lembab itu yang memunculkan mikroorganisme pengurai sampah organik,” terang Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau.

Sementara itu, Mada Yudha menjelaskan keinginan mereka untuk segera memanen kompos dari sampah dedaunan yang ada di bagian paling bawah tong komposter. “Cara memanennya yaitu tong komposter digulingkan, kemudian ambil kompos yang sudah jadi pada bagian bawah tong yang lubang tersebut. Setelah itu diayak menggunakan ayakan biasa,” terang Mada Yudha. Hasil ayakannya, kompos yang halus bisa dipergunakan untuk memupuk tanaman, sedangkan kompos yang kasar menjadi starter kompos lagi.(ryn)