SMAK St Louis II Panen Kompos Dan Produksi Kompos Lebih Banyak Lagi

SURABAYA – Kader lingkungan SMAK St Louis II yang biasa disebut Laskar CLING (Cinta Lingkungan) kaget dan senang saat ditunjukkan salah satu tong pengomposannya siap dipanen. Mereka pun segera bersiap mengambil tutup keranjang komposter untuk memanennya. Secara bergantian, mereka berebut merasakan sensasi panen kompos setelah bersusah payah mengolah sampah organik dedaunan menggunakan tong tersebut. Gambaran tersebut ditemui Tunas Hijau saat menggelar pemantauan program Surabaya Eco School 2014 di sekolahnya, Rabu (15/10).

Kader lingkungan SMAK St Louis II panen kompos yang ada pada salah satu tong komposter saat pemantauan SES 2014

Kader lingkungan SMAK St Louis II panen kompos yang ada pada salah satu tong komposter saat pemantauan SES 2014

Dalam program yang diselenggarakan bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, kader lingkungan menyebutkan hasil panen kompos ini akan mereka gunakan untuk memupuk semua tanaman yang ada di sekolah. Lusia Desi Puji, salah seorang kader lingkungan, mengatakan apabila produksi sampah organiknya banyak, dirinya ingin memasarkan pupuk kompos buatan sekolahnya.

“Setelah kami gunakan untuk memupuk tanaman, kalau masih banyak sisanya, kami kemas kemudian kami jual kepada guru-guru. Kami akan menjadikan pengomposan sebagai program andalan kami,” ujar Lusia Puji, siswa kelas 11. Rencana untuk memproduksi pupuk kompos tersebut didukung dengan adanya alat pencacah sampah daun yang ada di green house. Satu minggu sekali, kader lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Tidar ini mengumpulkan sampah daun untuk dicacah kemudian dimasukkan ke dalam tong komposter.

Kader lingkungan SMAK St Ltouis II mengaktifkan kembali pengomposan menggunakan keraanjang komposter dalam pemantauan SES 2014

Kader lingkungan SMAK St Ltouis II mengaktifkan kembali pengomposan menggunakan keraanjang komposter dalam pemantauan SES 2014

“Kami juga berencana untuk menggelar grebek pasar di pasar tradisional terdekat, agar sampah organik yang kami olah semakin banyak,” imbuh Lusia Desi. Tidak hanya pengolahan sampah organik saja, pemilahan sampah menjadi tiga jenis, yakni sampah plastik, kertas dan organik pun sudah berjalan di masing-masing kelas. Setiap kelas menyediakan 3 tempat sampah yang berbeda untuk menerapkan pemilahan sampah, ada yang menggunakan kardus, karung glangsing sampai trashbag. Setiap pulang sekolah, kader lingkungan yang ada di dalam setiap kelas mengambilnya.

Aktivis Tunas Hijau melakukan pengecekan lubang resapan biopori  yang baru dibuat oleh kader lingkungan SMAK St Louis II saat pemantauan SES 2014

Aktivis Tunas Hijau melakukan pengecekan lubang resapan biopori yang baru dibuat oleh kader lingkungan SMAK St Louis II saat pemantauan SES 2014

“Sampah-sampah yang sudah terpilah di kelas kemudian dikumpulkan di bank sampah untuk dijual. Sebagai bentuk apresiasi kepada kelas, kami berencana untuk memberikan peralatan kebersihan kepada kelas yang terus konsisten menerapkan pemilahan sampah di kelasnya,” ujar Anugerah Abraham, salah seorang kader lingkungan kelas 10. Sementara itu, mendukung konservasi air sekaligus melanjutkan progam pembuatan lubang resapan biopori, kader lingkungan melakukan pengecekan dan penambahan lubang resapan baru.

Disisi lain, dua buah keranjang komposter terlihat berbeda tampilannya, karena wadah yang seharusnya digunakan di dalam keranjang adalah kardus diganti dengan koran. “Kalau kalian menggunakan koran seperti ini, sampai kapanpun kompos kalian tidak akan jadi. Selain itu, kalian semakin banyak membuang kertas, karena koran yang dijadikan wadah tersebut harus sering diganti karena akan cepat rusak, beda dengan kardus yang harus dua minggu sekali diganti,” saran Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau. (ryn)