SMAN 14 Langsung Buat Lubang Biopori Jawab Tantangan Pekan Ketujuh SES 2014

SURABAYA – Memasuki pekan ketujuh tantangan Surabaya Eco School 2014, yakni pasca workshop sekolah-sekolah diharuskan membuat 20 lubang resapan biopori di area sekolah. Fakta tersebut yang disampaikan Tunas Hijau kepada kader lingkungan SMAN 14 saat menggelar pembinaan lingkungan SES 2014 yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Jumat (31/10).

Kader lingkungan SMAN 14 langsung merealisasikan tantangan ketujuh yaitu membuat lubang resapan biopori saat pembinaan SES 2014 berlangsung

Kader lingkungan SMAN 14 langsung merealisasikan tantangan ketujuh yaitu membuat lubang resapan biopori saat pembinaan SES 2014 berlangsung

Tantangan tersebut langsung diterima dan dilakukan saat itu juga sebagai langkah awal memulai gerakan pembuatan lubang resapan baru di sekolah. Menurut penuturan Fatih Abdul Aziz, kader lingkungan kelas 12, dirinya bersama kader lingkungan yang lain ingin agar lubang resapan baru ini ditempatkan di saluran air ataupun di bawah talang hujan. “Dulu, kami buat lubang resapan biopori banyak di taman-taman, sekarang kami ingin membuatnya di saluran air,” ucap Fatih.

Aulia Majid, aktivis Tunas Hijau, menjelaskan keutamaan membuat lubang resapan biopori di saluiran air. Menurutnya, saluran air merupakan tempat air hujan mengalir begitu saja sampai menuju ke lautan. Padahal, seharusnya di saluran air harus dibuat lubang resapan biopori. “Kalau ada lubang resapan di saluran air, air hujan akan langsung turun ke bawah tanah, mengisi kekosongan air tanah, jadinya air hujan tidak terbuang sia-sia,” jelas Aulia Majid.

Langkah awal, merekapun mencari dan menentukan titik-titik yang akan dibuat lubang resapan di saluran air sekolah. Beberapa kader lingkungan bahkan ada yang memulai untuk membuat lubang resapan biopori di saluran air yang sudah ditandai. Bintang Angga, salah seorang kader lingkungan, mengungkapkan lebih susah membuat lubang resapan di saluran air ketimbang di taman. “Kalau di saluran air, kita perlu peralatan seperti linggis untuk mendobrak aspal atau cor-coran,” ujar Bintang, siswa kelas 11.

Muntiani, kepala SMAN 14 menerima bantuan berupa pipa 20 buah plus 2 set alat bor biopori dari PT Pembangkitan Jawa Bali sebagai reward 100 besar sekolah SES 2014

Muntiani, kepala SMAN 14 menerima bantuan berupa pipa 20 buah plus 2 set alat bor biopori dari PT Pembangkitan Jawa Bali sebagai reward 100 besar sekolah SES 2014

Dengan berbekal linggis, merekapun langsung memulai pembuatan lubang resapan merealisasikan  membuat lubang resapan biopori ini, mereka juga akan melakukan pendataan lubang resapan biopori yang baru dan lubang resapan yang lama. “Kami ingin mengoptimalkan lubang resapan biopori baik yang lama sampai lubang resapan yang baru. Target kami, selama satu bulan bisa merasakan panen kompos yang berasal dari lubang resapan,” ucap Fatih Abdul Aziz. (ryn)