SMPN 38 Promosikan Batik Ciprat Lingkungan Dan Lakukan Pengomposan

SURABAYA – Pembuatan batik ciprat lingkungan ala SMPN 38 mengawali pembinaan program Surabaya Eco School 2014 di sekolah. Program yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Rabu (29/10). Pembuatan batik ini sengaja dipersiapkan karena akan dipamerkan dalam pameran di Balai Pemuda bulan depan.

Aksi salah seorang guru mempraktekkan teknik pembuatan batik ciprat ala SMPN 38 yang ramah lingkungan saat pembinaan II SES 2014

Aksi salah seorang guru mempraktekkan teknik pembuatan batik ciprat ala SMPN 38 yang ramah lingkungan saat pembinaan II SES 2014

Bertemakan lingkungan hidup, dengan menggunakan teknik cipratan, kader lingkungan tampak antusias dalam membuat batiknya. Dalam pembinaan ini, Tunas Hijau langsung memberitahukan adanya tantangan pekan ketujuh yaitu membuat lubang resapan biopori sebanyak 20 di area sekolah. “Tantangan pekan ketujuh ini sama dengan tugas pasca workshop II Surabaya Eco School 2014. Dengan kondisi lingkungan seperti ini, saya tantang kalian untuk merealisasikan 20 bor biopori dalam waktu 8 hari kedepan, bagaimana sanggup?” tantang Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau.

Tantangan tersebut mendapat tanggapan dari kepala SMPN 38, Widodo, yang menanyakan pemindahan tempat pembuatannya. “Kalau kami memindahkan tempat, tidak menggunakan halaman sekolah untuk membuat 20 lubang resapan, melainkan kami pindah ke taman di dekat JMP apa boleh?” tanya Widodo. Menurut Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, prioritas utamanya pembuatan lubang resapan biopori dilakukan di saluran air hujan di sekolah.

Kader lingkungan SMPN 38 melakukan perawatan keranjang komposter dengan cara mengisikan sampah sisa makanan ke dalam keranjang komposter saat pembinaan II SES 2014

Kader lingkungan SMPN 38 melakukan perawatan keranjang komposter dengan cara mengisikan sampah sisa makanan ke dalam keranjang komposter saat pembinaan II SES 2014

“Kalau saluran air hujannya di beton ya dijebol dengan menggunakan linggis, kalau masih belum hancur, sekolah boleh menggunakan jasa orang lain untuk membuat lubang resapan. Perawatan lubang resapannya harus anak-anak,” ucap Anggriyan. Tidak hanya memberikan tantangan pembuatan lubang resapan, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Kutilang ini merawat keranjang komposter. Kondisi keranjang komposter yang kering, membuat Bambang Soerjodari, aktivis Tunas Hijau, meminta mereka untuk diisi sampah sisa makanan.

“Kalau kondisi keranjang komposter ini kering, berarti tandanya perlu di isi sampah organik sisa makanan. Silahkan kalian kumpulkan sisa makanan yang ada di kantin maupun di tempat sampah kalau mau berhasil,” tutur Bambang. Berbekal ember bekas, mereka mengumpulkan sampah organik sisa makanan yang ada di kantin, sedikit demi sedikit. Mereka juga tidak jijik mengumpulkan sampah sisa makanan dari tempat sampah.

Hasan Rusdi, salah seorang kader lingkungan kelas 8, mengatakan kesulitan yang dihadapi kader lingkungan selama merawat keranjang komposter adalah masih ada rasa jijik dari kader lingkungan saat menyentuh langsung kompos dan sisa makanan.  “Padahal, kalau rasa jijik, semua pasti memiliki rasa jijik. Tetapi, kalau merawat keranjang kan ada cetoknya, jadi mengisi dan mengaduk menggunakan itu saja kemudian bisa cuci tangan,” ujar Hasan.

Kader lingkungan melakukan perawatan penyiraman setiap hari kepada tanaman kubis yang ada pada tempat sampah bekas saat  pembinaan II SES 2014

Kader lingkungan melakukan perawatan penyiraman setiap hari kepada tanaman kubis yang ada pada tempat sampah bekas saat pembinaan II SES 2014

Tempat sampah bekas pun dimanfaatkan oleh Machmoed, guru pembina lingkungan menjadi media tanam tanaman kubis. Berjajar barisan tanaman kubis menjadi salah satu program unggulan mereka. “Kami sudah pernah panen kubis ini selama 1 kali, hasilnya kami olah untuk berbagai macam sayuran bersama dengan olahan ikan lele yang kami budidayakan sendiri,” terang Machmoed. (ryn)