SMPN 5 Sikapi Keringnya Rainwater Tank Dengan Banyak Buat Biopori

SURABAYA – Musim kemarau yang panjang membawa dampak bagi rainwater tank milik SMPN 5, tandon penampungan air hujan yang merupakan reward sekolah finalis Surabaya Eco School 2013 terlihat kering. Tandon dengan volume 2200 liter tersebut belum bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman selama musim kemarau. Fenomena ini menjadi bahasan menarik bagi kader lingkungan SMPN 5 saat pembinaan Surabaya Eco School 2014 tahap kedua yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali, Rabu (29/10).

Kondisi rainwater tank SMPN 5 yang kering karena kemarau panjang mengakibatkan tidak adanya hujan yang turun saat pembinaan tahao II SES 2014

Kondisi rainwater tank SMPN 5 yang kering karena kemarau panjang mengakibatkan tidak adanya hujan yang turun saat pembinaan tahao II SES 2014

Menyikapi permasalahan tersebut, kader lingkungan segera beriniatif untuk membuat lubang resapan biopori sebagai upaya melakukan konservasi air dan menjalankan tantangan membuat 20 lubang resapan biopori pasca workshop II. Menurut Tri Maryati, guru pembina lingkungan, sebelumnya mereka sudah membuat lebih dari 20 lubang resapan biopori, tetapi dengan adanya tantangan untuk membuat lubang resapan lagi, mereka kembali bersemangat. “Anak-anak paling senang kalau diminta untuk membuat lubang resapan biopori,” ujar Tri Maryati.

Memulai membuat lubang resapan yang baru, kader lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Rajawali ini tidak lupa melakukan perawatan terhadap lubang resapan biopori yang sudah lama. Menurut penuturan Risma Putri, salah seorang kader lingkungan, setiap satu minggu sekali mereka mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik khususnya dedaunan yang banyak ditimbun di pojok sekolah. “Kami sudah 2 kali panen biopori kak, setelah panen, kami isi kembali lubang resapan biopori dengan sampah organik baru,” ujar Risma Putri.

Tunas Hijau menyerahkan 20 pipa paralon yang digunakan untuk membuat 20 lubang resapan biopori. Pipa ini berfungsi sebagai penahan agar tanah di permukaan tidak langsor.

Tunas Hijau menyerahkan 20 pipa paralon yang digunakan untuk membuat 20 lubang resapan biopori. Pipa ini berfungsi sebagai penahan agar tanah di permukaan tidak langsor.

Belum turunnya hujan membuat kondisi tanah di belakang sekolah tampak kering, hal ini membuat proses pembuatan lubang resapan biopori dibantu dengan air. Kendala ini, membuat kader lingkungan kesusahan membuat lubang resapan biopori dengan waktu yang sedikit. “Kami akan melanjutkan pembuatan lubang resapan bioporinya sabtu besok, karena sabtu libur dan kami ada latihan persiapan lomba jingle lingkungan Surabaya Eco School 2014. Sabtu besok pasti kami tepati tantangan buat 20 lubang resapannya,” ujar Risma Putri, ketua kader lingkungan.

Tidak hanya sekedar membuat 20 lubang resapan saja, beberapa orang kader lingkungan tampak sedang melakukan perawatan dan pengisian keranjang komposter. Menariknya, sampah organik yang digunakan untuk mengisi keranjang  komposter berasal dari rumah masing-masing. Menurut penuturan Jihan Fairuzatika, salah seorang kader lingkungan kelas 9, kader lingkungan memang setiap seminggu sekali membawa sampah organik sayuran dari rumah masing-masing. “Hal tersebut merupakan pembiasaan yang kami tekankan kepada adik kelas tentang lingkungan,” ucap Jihan.

Kader lingkungan SMPN 5 merealisasikan pembuatan lubang resapan biopori sebanyak 20 pasca workshop SES 2014

Kader lingkungan SMPN 5 merealisasikan pembuatan lubang resapan biopori sebanyak 20 pasca workshop SES 2014

Sebelum pembinaan berakhir, Bambang Soerjodari, aktivis Tunas Hijau, memberikan tantangan kepada kader lingkungan untuk mengoptimalkan 12 keranjang komposter yang dimiliki sekolah. “Karena tadi saya lihat, belum semua keranjang komposter dioptimalkan, maka dari itu saya memberikan kalian tantangan untuk mengaktifkan kembali keranjang komposternya selama satu minggu ke depan,” ujar Bambang. Tantangan tersebut ditanggapi serius oleh mereka dengan mengiyakan tantangan tersebut secara serempak.

Surabaya Eco School 2014 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi seluruh sekolah di Surabaya dengan tema Konservasi Air Surabaya. Konservasi air yang dimaksud adalah meningkatkan kuantitas dan kualitas air yang bisa diresapkan ke dalam tanah untuk mencegah terjadinya bencana lingkungan. Program ini didukung oleh PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dan PT  Dharma Lautan Utama. (ryn)