Tetap Indah dan Aman dengan Biopori SDN Karah III

SURABAYA – Lubang resapan biopori yang dibuat sekolah-sekolah melalui program Surabaya Eco School 2014 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali  tidak lantas membuat sekolah menjadi kumuh. Keindahan harus tetap dijaga. Keamanan lokasi untuk beraktivitas warga sekolahnya juga harus tetap dijaga. 

Agar tetap indah dan aman buat beraktivitas warga sekolah, biopori di SDN Karah III disemen bagian atasnya

Agar tetap indah dan aman buat beraktivitas warga sekolah, biopori di SDN Karah III disemen bagian atasnya

Seperti yang dikakukan di SDN Karah III Surabaya, yang menyemen bagian sekitar pipa lubang resapan sehingga tetap nyaman dan aman untuk beraktivitas warga sekolah. Lubang resapan biopori yang telah dibuat juga tetap diisi penuh dengan sampah organik. Seperti yang nampak saat pembinaan dan pemantauan lapangan Surabaya Eco School 2014 yang didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk di SDN Karah III, Rabu (29/10).

Pada pembinaan dan pemantauan lapangan itu, para siswa kader lingkungan hidup SDN Karah III juga sangat bersemangat ketika diajak merawat lubang resapan biopori  yang ada di sekolahnya. Diantara perawatan yang dilakukan adalah mengisinya dengan sampah organik dan memadatkannya

Pembuatan 20 lubang resapan biopori baru yang menjadi tugas 100+ sekolah yang lolos tahap II Surabaya Eco School 2014 di sekolah ini dimulai hari ini. Aksi pembuatan 20 biopori baru di sekolah ini juga merupakan realisasi challenge pekan ketujuh. Sebelumnya, di sekolah yang dikepalai oleh Semi Budi Astuti ini telah dibuat 89 lubang resapan biopori.

Siswa SDN Karah III mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik dan memadatkannya

Siswa SDN Karah III mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik dan memadatkannya

Tunas Hijau juga mengajak tim lingkungan hidup SDN Karah III untuk mengoptimalkan lima keranjang pengomposan sampah organik yang nampak kering dan tidak mendapat pemasukan sampah organik baru. Kompos yang seharusnya menjadi starter di masing-masing komposter itu juga banyak berkurang.

Tunas Hijau lantas mengajak perwakilan guru untuk mengambil kompos untuk starter di rumah kompos Jambangan, yang lokasinya tidak jauh dari sekolah. Penyiraman kompos dalam komposter juga dilakukan pada pembinaan itu. Alasannya, kondisi komposnya sangat kering. (ron)