Wall Garden SDN Sememi I Manfaatkan Air Hujan Sebagai Sumber Penyiramannya

SURABAYAWall garden milik SDN Sememi I bukanlah wall garden biasa, pasalnya proses penyiraman tanaman sayur yang ada pada wall garden menggunakan air dari penampungan air hujan yang ditampung menggunakan rainwater tank. Informasi tersebut diperoleh Tunas Hijau saat melakukan pembinaan tahap II Surabaya Eco School 2014 yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Kamis (30/10).

Kader lingkdungan SDN Sememi I menyirami tanaman wall garden yang merupakan inovasi lingkungan sekolahnya yang penyiramannya menggunakan air bekas tampungan hujan

Kader lingkdungan SDN Sememi I menyirami tanaman wall garden yang merupakan inovasi lingkungan sekolahnya yang penyiramannya menggunakan air bekas tampungan hujan

Widodo, guru pembina lingkungan, menerangkan lahan sekolah yang luas membuat dirinya memanfaatkan setiap potensi lingkungan yang ada untuk penghijauan. “Selain wall garden ada juga roof garden, dulu tanaman roof garden yang ada di lantai tiga dipindahkan di lantai dua. Penyiramannya pun masih menggunakan air dari penampungan air hujan,” ucap Widodo. Kedua inovasi tersebut merupakan pengembangan dari upaya konservasi air yang sudah diterapkan di sekolah.

Dalam pembinaan lingkungan ini, Widodo menambahkan upaya konservasi air yang mulai diterapkan oleh sekolah adalah pengolahan air kamar mandi yang bisa digunakan untuk menyirami tanaman. “Air dari kamar mandi di beri pipa agar bisa disalurkan ke taman-taman sekolah. Sebelum lari ke taman, di daerah kamar mandi diberi penyaringan air sederhana untuk menyaring limbah dari busa sabun yang ditimbulkan oleh siswa,” ucap Widodo.

Kader lingkungan sekolah  yang berlokasi di Jalan Sememi ini tampak gusar saat melihat kedatangan Tunas Hijau. Pasalnya, mereka masih belum benar-benar selesai menyelesaikan tantangan pekan ketujuh. Menurut Angelica, salah seorang kader lingkungan, mereka masih berusaha untuk membuat 20 lubang resapan di dalam maupun di luar sekolah. “Saat ini, kami masih membuat 12 lubang resapan kak, masih kurang 8 lagi. Rencananya, kedelapan lubang itu akan dibuat saat Jumat bersih besok,” jelas Angelica, siswa kelas 5.

Kader lingkungan SDN Sememi I menambah kedalaman lubang resapan biopori yang dulu pernah dibuat saat pembinaan SES 2014

Kader lingkungan SDN Sememi I menambah kedalaman lubang resapan biopori yang dulu pernah dibuat saat pembinaan SES 2014

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, mengajak kader lingkungan dan pembinanya mengecek kondisi lubang resapan biopori. Menurut Anggriyan, lubang resapan biopori harusnya diisi sampah organik secara padat dan penuh. “Kalau tidak penuh, rongga yang ditimbulkan akan terisi oleh tanah maupun sampah plastik yang rawan jatuh ke dalam lubang resapan. Selain itu, sampah organik yang dimasukkan nantinya menjadi pupuk,” ucap Anggriyan. Dirinyapun lantas mengajak mereka mengisi penuh lubang resapan dengan sampah organik.

Banyaknya lubang resapan biopori yang sudah dibuat oleh sekolah baik yang baru maupun yang lama, membuat aktivis Tunas Hijau sejak 2008 ini menyarankan agar dibuat pertanda khusus untuk lubang resapan baru. “Tandanya bisa apa saja seperti misalnya bendera yang diberi tulisan dan nomor berapa. Atau diberi tanda dan nomor dengan menggunakan cat spray tepat di tutup pipa paralonnya,” ucap Anggriyan. (ryn)