Kepala DKP Tantang Sekolah Finalis SES 2014 Sosialisasikan Pemilahan Sampah di Pasar Tradisional

SURABAYA – Grebek pasar menjadi ikon kegiatan lingkungan yang sudah menggema dilakukan oleh seluruh sekolah di Surabaya. Tidak terkecuali, dilakukan pula oleh 10 sekolah finalis tingkat SMA/SMK program Surabaya Eco School 2014. Chalid Buchari, kepala DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) yang menjadi tamu istimewa kaget, saat workshop III SES 2014 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk di Bappeko, Sabtu (22/11).

Chalid Buchari, kepala DKP yang melakukan sesi tanya jawab saat mengunjungi pameran mading konservasi air saat workshop III Surabaya Eco School tingkat SMA/SMK di ruang pola Bappeko

Chalid Buchari, kepala DKP yang melakukan sesi tanya jawab saat mengunjungi pameran mading konservasi air saat workshop III Surabaya Eco School tingkat SMA/SMK di ruang pola Bappeko

Alasannya, sebelumnya mantan kepala Dinas Komunikasi dan Informasi, ini mengikuti sesi workshop III SES 2014 yang diikuti oleh perwakilan siswa dan guru SD. Lagi-lagi, grebek pasar menjadi bahan pembahasan mereka yang membuat dirinya kagum. Begitu boomingnya gerakan grebek pasar yang dilakukan oleh 30 sekolah finalis SES 2014, membuat Chalid Buchari, memberikan satu bentuk tantangan tersendiri untuk masing-masing sekolah finalis. Tantangan tersebut muncul, karena melihat capaian yang berhasil di raih oleh SMAN 9 mengangkat grebek pasar menjadi proyek lingkungan.

Mading 2D dengan tema konservasi air yang berisikan data terukur dan program lingkungan unggulan milik SMAN 12 mampu menarik perhatian Chalid Buchari, kepala DKP untuk memberi komentar kepada hasil karya mereka saat workshop III SES 2014 tingkat SMA/SMK di ruang pola Bappeko

Mading 2D dengan tema konservasi air yang berisikan data terukur dan program lingkungan unggulan milik SMAN 12 mampu menarik perhatian Chalid Buchari, kepala DKP untuk memberi komentar kepada hasil karya mereka saat workshop III SES 2014 tingkat SMA/SMK di ruang pola Bappeko

“Saya merasa bangga dan kagum, saat mendengar paparan yang dilakukan oleh SMAN 9, bahwa dengan mengubah citra pasar tradisional yang kumuh menjadi tempat edukasi lingkungan, melalui anak-anak pedagang, sampai membuat lomba stand terbersih,” jelas Chalid Buchari. Berlatar belakang fakta lingkungan tersebut, kepala DKP ini menantang sekolah-sekolah untuk terus melakukan gerakan grebek pasar, namun tidak hanya sekedar grebek pasar mengumpulkan sampah organik, sekaligus mensosialisasikan pemilahan sampah kepada pedagang.

Chalid Buchari, mengatakan, dirinya akan menyediakan sarana maupun fasilitas untuk sekolah-sekolah yang mau menerima tantangannya yakni mengajak pedagang pasar tradisional memilah sampahnya. “Saya akan sediakan sarana atau fasilitasnya untuk mengajak pedagang-pedagang bisa memilah sampahnya secara berkelanjutan, sampah plastik di taruh ke tempat sampah plastik nonorganik, sedangkan sampah sayur-sayur bekasnya dimasukkan ke dalam tempat sampah organik. Kegiatan tersebut untuk semua pedagang dan berkelanjutan,” ujar Chalid.

Tantangan tersebut disambut dengan penuh antusias oleh seluruh sekolah finalis SES 2014, salah satunya Sandra Ayu, siswa SMAN 9, ketua kader lingkungan yang baru saja terpilih menjadi pelajar pelopor kota Pahlawan ini segera merencanakan mengajak tim lingkungan hidup sekolahnya mengadakan sosialisasi pemilahan sampah dengan mengajak pedagang-pedagang di pasar tradisional Tambak Rejo (Kapas Krampung). “Kami akan melanjutkan proyek gerakan grebek pasar dengan mensosialisasikan pemilahan sampah menggunakan media poster,” terang Sandra.

Chalid Buchari, kepala DKP kagum dengan kreatifitas sekolah-sekolah finalis SES 2014 pada workshop III SES 2014 tingkat SMA/SMK saat melihat capaian program yang sudah dilakukan oleh sekolah

Chalid Buchari, kepala DKP kagum dengan kreatifitas sekolah-sekolah finalis SES 2014 pada workshop III SES 2014 tingkat SMA/SMK saat melihat capaian program yang sudah dilakukan oleh sekolah

Lain halnya dengan Nurmay Farah, pelajar SMAN 16, dirinya menyampaikan akan menggunakan pendekatan melalui anak-anak pedagang untuk diajak bercerita dan diberi gambaran bahayanya sampah yang dicampur dan tidak diolah. “Kami akan memulainya dengan mengajak anak-anak pedagang di salah satu pasar tradisional melalui kegiatan bercerita, lalu secara perlahan mengajak orang tuanya memperkenalkan tentang pemilahan sampah, yakni sampah organik dan nonorganik. Kalau sampah organiknya akan kami bawa ke sekolah untuk diubah menjadi kompos,” ujar Farah. (ryn)