SMPN 4 Giat Bersihkan Gragal Demi Realisasi Dijadikan Taman Puring

Kader lingkungan SMPN 4 melakukan promo untuk kegiatan realisasi Taman Puring yang dilakukan dengan cara mengubah tumpukan gragal di depan sekolah menjadi taman puring saat pemantauan SES 2014

Kader lingkungan SMPN 4 melakukan promo untuk kegiatan realisasi Taman Puring yang dilakukan dengan cara mengubah tumpukan gragal di depan sekolah menjadi taman puring saat pemantauan SES 2014

SURABAYA – Tidak lama lagi, timbunan gragal yang ada di depan SMPN 4 akan berubah menjadi taman puring. Alasannya, sekolah yang berlokasi di Jalan Tanjung Anom tersebut akan mengubah timbunan gragal menjadi Taman Puring, yang menjadi ikon sekolah. Berbagai cara pun dilakukan demi merealisasikan program lingkungan terbaru. Salah satunya dengan mengajak warga sekolah secara bergantian, kerja bakti membersihkan timbunan gragal tersebut.

Fakta lingkungan tersebut didapat Tunas Hijau saat menggelar pemantauan Surabaya Eco School 2014 bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) tbk, Rabu (26/11). Menurut penuturan Ninik Suhartini, salah seorang guru pembina lingkungan, butuh waktu antara 3 sampai 4 hari untuk membersihkan semua tumpukan gragal yang ada di depan. Setelah itu, baru kami akan uruk dengan tanah taman.

Guru pembina lingkungan hidup bersama dengan kader lingkungan gotong royong membersihkan gragall setiap hari setelah pulang sekolah  demi realisasi taman puring dalam pemantauan SES 2014

Guru pembina lingkungan hidup bersama dengan kader lingkungan gotong royong membersihkan gragall setiap hari setelah pulang sekolah demi realisasi taman puring dalam pemantauan SES 2014

“Saat realisasi taman puring nanti, kami akan melibatkan warga sekolah dengan cara satu siswa satu puring. Puring-puring tersebut akan kami tata menjadi taman yang indah, bagus dan enak dipandang mata,” ujar Ninik Suhartini. Tujuan lainnya adalah menjadikan taman puring sebagai tetenger sekolah dalam hal lingkungan dan memberikan pemandangan yang hijau kepada walimurid penjemput anaknya. Setiap harinya, kader lingkungan SMPN 4 yang biasa disebut puring (Pelajar Unggul Ramah Lingkungan) harus rela membersihkan gragal tersebut setelah pulang sekolah.

Lebih dari 20 karung glangsing yang terkumpul dari aktivitas pembersihan gragal oleh kader lingkungan. Tidak hanya itu, dalam pemantauan program lingkungan Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk mengecek lubang resapan biopori yang pada pembinaan sebelumnya kosong. Menurut Bagas Fitia Nugroho, ketua kader lingkungan, setelah pembinaan pertama yang kami dikritisi tentang kosongnya lubang resapan biopori. “Sekarang, semua lubang resapan biopori sudah penuh, kami sudah mengisinya dengan sampah organik hasil dari grebek pasar Keputran,” ujarnya.

Kader lingkungan SMPN 4 melakukan pengecekan IPAL yang ada di belakang sebelah masjid dalam pemantauan SES 2014

Kader lingkungan SMPN 4 melakukan pengecekan IPAL yang ada di belakang sebelah masjid dalam pemantauan SES 2014

Sementara itu, tidak hanya pengecekan lubang resapan biopori saja, kader lingkungan si puring (Pelajar Unggul Ramah Lingkungan) spenfora (SMPN 4 Surabaya) ini rutin melakukan pengecekan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang berasal dari limbah air wudhu dan toilet. Budi Andrian Wicaksana, salah seorang kader lingkungan yang mendapat tugas khusus mengecek IPAL setiap dua kali seminggu, menuturkan, kondisi IPAL sekolahnya sedang dalam masa perawatan, hal ini karena adanya kebocoran pipa pada bak penampungan pertama.

“Kondisinya masih bisa dipakai, namun masih dalam tahapan perawatan, karena pipa pada bak penampungan pertama bocor, perlu diganti. Tetapi IPAL ini masih bisa digunakan untuk kebutuhan menyiram tanaman dan cuci tangan,” ujar Budi Andrian, siswa kelas 8. Diakhir pemantauan, Tunas Hijau memberikan tantangan untuk menjalankan upaya pembibitan sayur atau lebih akrab dikenal urban farming satu siswa satu polibag. “Kalau kalian bisa, silahkan tanam sayuran saja, seperti sawi, tomat, kita lihat apakah 3 bulan ke depan kalian bisa panen,” tantang Anggriyan, aktivis Tunas Hijau.