SMPN 50 Belajar Olah Sampah Organik Saat Diklat Lingkungan Di Taman Flora

SURABAYA – Kerjasama, tanggung jawab dan peduli lingkungan, ketiga nilai tersebut yang menjadi target utama digelarnya diklat lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh SMPN 50 bersama dengan Tunas Hijau dan mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB, Sabtu (29/11). Pengenalan lingkungan secara mendalam diberikan oleh Tunas Hijau dan satuan tugas Taman Flora Bratang yang menjadi lokasi diselenggarakannya diklat lingkungan ini, Sabtu (29/11).

Diklat lingkungan hidup kader lingkungan SMPN 50 yang mengajak mereka mengenal tentang isu-isu lingkungan bersama dengan Tunas Hijau dan mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB di Taman Flora Bratang

Diklat lingkungan hidup kader lingkungan SMPN 50 yang mengajak mereka mengenal tentang isu-isu lingkungan bersama dengan Tunas Hijau dan mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB di Taman Flora Bratang

Semua materi yang disampaikan dikemas dalam bentuk yang unik dan menarik. Berbagai kegiatan lingkungan tersebut adalah identifikasi tanaman TOGA, identifikasi jenis sampah yang ada di Taman Flora, pembelajaran tentang pengolahan sampah organik khususnya sampah daun di rumah kompos, belajar biogas dari kotoran hewan, pembuatan lubang resapan biopori hingga mengkampanyekan informasi yang sudah mereka dapat kepada pengunjung taman kota di daerah Manyar.

Menurut penuturan Elisabeth Eva, guru pembina lingkungan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Surabaya Eco School yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. “Kami ingin mempersiapan generasi kader lingkungan selanjutnya, agar mereka bisa tahu tentang isu lingkungan yang dihadapi semua orang. Dari kegiatan ini, mereka harus termotivasi membuat perubahan lingkungan di sekolah,” ujar Elisabeth Eva.

Kader lingkungan SMPN 50 belajar pengolahan sampah organik langsung dari rumah kompos Taman Flora Bratang yang merupakan pusat pengolahan sampah organik dalam diklat lingkungan bersama Tunas Hijau dan Eco Mobile PJB dalam rangka pemantapan kader SES 2014

Kader lingkungan SMPN 50 belajar pengolahan sampah organik langsung dari rumah kompos Taman Flora Bratang yang merupakan pusat pengolahan sampah organik dalam diklat lingkungan bersama Tunas Hijau dan Eco Mobile PJB dalam rangka pemantapan kader SES 2014

Menariknya, dalam kegiatan diklat lingkungan ini, Tunas Hijau mengajak mereka untuk mengelola sendiri sampah yang dihasilkan selama kegiatan. Menurut Ali Shadikin, aktivis Tunas Hijau, kader lingkungan sekolah yang terletak di Jalan Sukomanunggal adalah tamu di Taman Flora, jadi harus dikelola sendiri sampahnya. “Jangan sampai kegiatan kalian malah menambah volume sampah yang ada di Taman Flora. Jadi, silahkan kelola sendiri sampahnya, saya sediakan beberapa karung untuk tempat sampah kalian,” ujar Ali Shadikin.

Selepas makan siang, Tunas Hijau mengajak mereka melakukan identifikasi sampah yang mereka hasilkan. Tiga karung penuh yang berisi sampah pun tumpah ruah di alas putih berukuran 4 x 4 meter. Dengan tegas, Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau, mengajak mereka untuk memilah sampah. “Kalau memang mengaku kader lingkungan yang tidak hanya tahu secara teori, silahkan dibuktikan bagaiamana caranya mengolah sampah yang kalian hasilkan sendiri. Jangan  sampai, Taman Flora semakin banyak sampahnya gara-gara kalian,” tegas Anggriyan.

Pengalaman kali pertama didapatkan oleh kader lingkungan SMPN 50 yakni mencacah sampah organik dengan menggunakan mesin pencacah yang ada di rumah kompos Taman Flora Bratang saat diklat lingkungan bersama Tunas Hijau dan Eco Mobile PB

Pengalaman kali pertama didapatkan oleh kader lingkungan SMPN 50 yakni mencacah sampah organik dengan menggunakan mesin pencacah yang ada di rumah kompos Taman Flora Bratang saat diklat lingkungan bersama Tunas Hijau dan Eco Mobile PB

Mereka pun tertantang dengan meminta izin untuk melihat dulu pengolahan sampah organik di rumah kompos Taman Flora. Dengan penuh antusias, 6 gunungan sampah organik jenis sampah daun sampai pengalaman kali pertama mereka mencacah sampah daun dari rumah kompos yang seharinya bisa mengolah lebih dari 100 kg sampah organik. “Wah, ternyata mengolah sampah organik itu susah-susah gampang. Kami ingin menerapkannya di sekolah. Kami akan mengolah sampah yang kami hasilkan hari ini,” ujar Adinda Pritanti, kader lingkungan kelas 8.

Kader lingkungan SMPN 50 bertanggung jawab mengolah sampah organik yang dihasilkan saat diklat lingkungan dengan membuat lubang resapan biopori sebanyak 15 lubang resapan

Kader lingkungan SMPN 50 bertanggung jawab mengolah sampah organik yang dihasilkan saat diklat lingkungan dengan membuat lubang resapan biopori sebanyak 15 lubang resapan

Sebagai pembuktiannya, mereka memilih untuk membuat  lubang resapan biopori untuk sampah organik yang sudah dihasilkan. Lebih dari 15 lubang resapan biopori terbuat dari 8 kelompok kader lingkungan SMPN 50. “Kami tidak hanya mengolah sampah organik sisa makanan saat makan siang. Kami juga mengumpulkan dedaunan kering untuk dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori,” terang Fatimah Putri, kader lingkungan kelas 9. Sementara itu, sampah kertas yang mereka hasilkan langsung dibawa pulang untuk dikumpulkan di bank sampah sekolah. (ryn)