Asti Susilaningsih, Guru SDN Kaliasin VII Peraih Penghargaan Eco Teacher (Elementary) of the Year 2014

Asti Susilaningsih, Guru SDN Kaliasin VII Peraih Penghargaan Eco Teacher (Elementary) of the Year 2014

Asti Susilaningsih, Guru SDN Kaliasin VII Peraih Penghargaan Eco Teacher (Elementary) of the Year 2014

Asti Susilaningsih, peraih penghargaan Eco Teacher (Elementary) of the Year 2014 adalah adalah guru SDN Kaliasin VII. Guru yang sehari-hari menjalani tugas sebagai wali kelas 5 ini selalu diingat murid-muridnya sebagai sosok teladan dalam peduli lingkungan. Dimana ada sampah, disitu ada Asti. Dimana ada kegiatan lingkungan hidup SDN Kaliasin VII, maka ada sosok Asti. Sosoknya yang anggun dan bergaya ‘woles’ menjadi ciri khasnya. 

Asti sejatinya bukan pembina lingkungan yang ada di SDN Kaliasin VII. Namun karena panggilan hati, Asti ikut terjun dalam menggalakkan peduli lingkungan di sekolahnya itu. “Sebenarnya ada pembina lingkungan sendiri di sini sebelum saya datang 2 tahun lalu. Namun saya lihat kurang berjalan maksimal. Akhirnya tercetuslah ide untuk memperbaiki kondisi lingkungan di SDN Kaliasin VII ini,” ujar guru yang sebelumnya mengajar di SDN Kaliasin I ini.

Pada awal Asti dimutasi ke SDN Kaliasin VII, hanya terdapat beberapa pohon peneduh saja. Dari panggilan hati inilah, Asti mencoba membangkitkan geliat peduli lingkungan pada rekan-rekan guru serta murid yang ada disini. ”Awalnya saya bingung harus melakukan apa dulu. Namun berkat Surabaya Eco School, saya menjadi mengerti apa yang harusnya saya lakukan. Padahal dulu yang ikut workshop pertama bukan saya,” ujar Asti.

Asti saat mendampingi kader lingkungan hidup SDN Kaliasin VII mengikuti Workshop III Surabaya Eco School 2014

Asti saat mendampingi kader lingkungan hidup SDN Kaliasin VII mengikuti Workshop III Surabaya Eco School 2014

Langkah awal Asti adalah memerangi sampah yang ada di SDN Kaliasin VII. “Meskipun tidak secara keseluruhan namun kami sudah memulai untuk mengurangi produksi sampah,” ujar Asti. Tujuannya yaitu menggerakkan serta membangkitkan rasa peduli lingkungan dari dalam hati. “Saya juga mempunyai cara khusus untuk melaksanakan tujuan saya,” tambahnya.

“Cara saya yaitu menyangkutkan peduli lingkungan dengan mata pelajaran yang ada dan kebetulan saya wali kelas. Jadi saya mencoba membangkitkan peduli mereka dengan tayangan-tayangan bencana alam sebab akibat tidak peduli akan lingkungan. Saya minta mereka membayangkan semua ditonton itu terjadi pada rumah atau sekolah kalian,“ ujar Asti.

Buktinya tanpa disuruh pun para siswa mulai sadar dengan sendirinya. Seperti mengisi lubang biopori sendiri melakukan radio lingkungan serta menyiram tanaman dengan air bekas cuci tangan. Asti juga mengatakan bahwa seringkali murid yang mengingatkan akan tantangan mingguan yang diberikan oleh Tunas Hijau melalui program Surabaya Eco School.

Sosok Guru ini juga salah satu penggagas program Pungut Sampah 5 Menit serta membawa botol serta tempat makan sendiri yang terbukti bisa mengurangi sampah hingga 50% di sekolahnya. “Saya juga sering melakukan pembinaan terhadap pedagang di depan sekolah serta penjual kantin. Kalau tidak boleh menggunakan plastik, pedagang saya suruh tanya ke anak-anak dulu kalau membeli bawa tempat sendiri atau tidak,” ujar Asti.

Perawatan lubang resapan biopori di sekolah rutin dilakukan Asti bersama siswa dan guru SDN Kaliasin VII

Perawatan lubang resapan biopori di sekolah rutin dilakukan Asti bersama siswa dan guru SDN Kaliasin VII

Asti juga menemui kendala  saat menjalankan program lingkungan. Salah satunya saat melakukan pengurangan sampah. “Kadang para penjual sudah kami sosialisasi tapi seminggu kemudian kembali lagi menggunakan pembungkus plastik sekali pakai,” ujar guru yang mempunyai seorang putri mahasiswa UNAIR ini. Namun, kendala tersebut dapat teratasi dengan denda yang diterapkan ke anak-anak jika ketahuan jajan menggunakan plastik sekali pakai. “Tapi sudah hampir 70% sudah sadar,” tambah Asti Susilaningsih.

“Saya berencana untuk mengoptimalkan sampah sebagai bahan yang bernilai dan begaya guna. Saya akan mengajak siswa untuk melakukan daur ulang,” tutur Bu Asti untuk rencana program ke depan setelah program Surabaya Eco School 2014 yang diselenggarakan Tunas hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkit Jawa-Bali, serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dan PT Dharma Lautan Utama. (fatih/ro)