Lailatul Rohmah, Guru SMAN 12 Peraih Eco Teacher (Senior) of the Year Surabaya Eco School 2014

Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 peraih eco teacher (senior) of the year Surabaya Eco School 2014

Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 peraih eco teacher (senior) of the year Surabaya Eco School 2014

Ekspresi Lailatul Rohmah, salah seorang guru pembina lingkungan SMAN 12 mendadak berubah histeris saat namanya disebut sebagai peraih Eco teacher (senior) of the year Surabaya Eco School 2014. Penghargaan tersebut diraihnya dalam awarding program yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali serta didukung oleh Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Sabtu (27/12) di graha Sawunggaling.

Alumnus SMAN 11 yang  sudah dua tahun ini mendapat tugas tambahan dari sekolah menjadi guru pembina lingkungan pada awalnya merasa pesimis. Menurutnya, pada gelaran Surabaya Eco School 2013, tahun lalu dirinya tidak begitu berperan secara total, namun bukan berarti hal tersebut membuat dirinya tidak melakukan apa-apa. Bergerak di belakang Suharningsih, seniornya di SMAN 11 dulu, Laila banyak berhadapan dengan kader lingkungan sekolah yang biasa disebut Dabel’s Crenata.

“Tahun lalu, saya lebih banyak bergerak di belakang layar, bersama dengan anak-anak kader lingkungan, mulai dari menjalankan program lingkungan sekolah setiap harinya sampai mengeksekusi setiap tantangan yang diberikan oleh Tunas Hijau setiap minggunya,” terang Lailatul Rohmah. Rasa cinta terhadap lingkungan yang sejak masa-masa SMA dulu, membuat dirinya bernostalgia kembali, tidak sebagai siswa melainkan sebagai guru pembina lingkungan.

Tanpa kenal lelah, Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 yang langsung turun lapangan bersama kader lingkungan melakukan grebek pasar dalam Surabaya Eco School 2014

Tanpa kenal lelah, Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 yang langsung turun lapangan bersama kader lingkungan melakukan grebek pasar dalam Surabaya Eco School 2014

“Sejak SMA, saya memang sudah suka dengan hal-hal yang berbau-bau tentang alam dan lingkungan. Passion itu terbawa sampai sekarang saya malah menjadi guru pembina lingkungan,” imbuh Lailatul Rohmah. Awal tahun ini menjadi awal pembuktian guru kelahiran 22 Maret 1990 yang didapuk menjadi guru penanggung jawab program Surabaya Eco School 2014. Kinerja yang terus meningkat menjadi alasan dirinya mendapat tanggung jawab tersebut.

 “Hal-hal lainnya adalah senior-senior saya, Bu Suharningsih, Bu Nur Asma, mereka sudah mendapatkan jatah tugas masing-masing yakni penanggung jawab Adiwiyata,” terang Lailatur Rohmah, penyuka sepak bola. Sejak awal tahun sampai akhir tahun, dirinya menunjukkan performa kecintaan lingkungan yang sangat dalam dan terus berkembang. “Saya berusaha mengajak anak-anak untuk terus konsisten menjaga kelestarian sekolah dengan menerapkan pembiasaan SEMUT, pemilahan sampai bank sampah,” terang Laila.

Guru pembina lingkungan yang masih berusia 24 tahun ini tidak segan-segan turun langsung membantu tim lingkungan sekolah atau Dabel’s Crenata. Seperti contohnya membuat lubang resapan biopori, mengolah sampah organik dengan kotak kompos sampai grebek pasarpun terus dilakukan bersama anak-anak. “Kalau mau ajak anak peduli lingkungan,  prinsip saya adalah memberikan contoh agar tidak takut kotor dan mempunyai  rasa tanggung jawab,” tutur Laila, guru yang berasal dari Surabaya.

Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 terlihat aktif bersama kader lingkungan mengolah sampah daun yang sebelumnya dikumpulkan untuk diolah di tempat kotak komposter

Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 terlihat aktif bersama kader lingkungan mengolah sampah daun yang sebelumnya dikumpulkan untuk diolah di tempat kotak komposter

Tidak hanya dilakukan di sekolah, dalam kehidupan sehari-haripun, Laila menerapkannya dengan melakukan aksi nyata sederhana. Menurut Laila, beberapa aktivitas lingkungan yang sudah menjadi kebiasaan adalah selalu membawa botol minum sendiri dan tas blanja sendiri yang bisa digunakan berulang kali. “Setiap kali saya pergi ke supermarket atau pasar untuk belanja, saya selalu membawa tas belanja ramah lingkungan. Dulu, saya pernah ditawari kantong plastik namun saya menolaknya dengan alasan sudah membawa tas sendiri,” pungkas Lailatul Rohmah.

Selama gelaran Surabaya Eco School 2014l, sepak terjang, sikapnya yang ramah, murah senyum terhadap warga sekolah terutama kader lingkungan membuat dirinya menjadi guru yang disegani dan disukai banyak siswa. Dukungan dan apresiasipun datang dari kader lingkungan seusai mendengar guru kesayangannya menjadi Eco teacher (senior) of the year Surabaya Eco School 2014. Salah satu dukungan disampaikan oleh Faisah, ketua tim jurnalis lingkungan sekolah. Menurutnya, Guru muda tersebut layak meraih penghargaan tersebut karena loyalitas dan perjuangannya.

Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 dimata kader lingkungan tidak hanya bisa menjadi guru, melainkan menjadi sahabat yang baik. Hal itu terlihat saat bersama-sama mencacah sampah sayuran hasil grebek pasar dalam Surabaya Eco School 2014

Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 dimata kader lingkungan tidak hanya bisa menjadi guru, melainkan menjadi sahabat yang baik. Hal itu terlihat saat bersama-sama mencacah sampah sayuran hasil grebek pasar dalam Surabaya Eco School 2014

“Saya senang sekali akhirnya Bu Laila bisa meraih penghargaan eco teacher of the year SES 2014, karena Bu Laila ini orangnya ulet, cinta lingkungan, totalitas dan loyalitas terhadap sekolah. Selain itu, Bu Laila ini tidak mudah mengeluh menghadapi permasalahan di sekolah. Sikap optimisme dan murah senyum itu yang menjadi inspirasi saya,” terang Faisah. Tanggapan lain disampaikan oleh Suharningsih, guru pembina lingkungan yang juga mantan guru Lailatul Rohmah.

Menurut Suharningsih, Lailatul merupakan sosok yang mudah bergaul dan dekat dengan anak-anak kader lingkungan, apalagi dirinya memang mempunyai passion di lingkungan. “Saya percaya bahwa Mbak Laila pantas meraih penghargaan ini, karena kerja kerasnya yang sampai malam-malam masih berada di sekolah. Tidak hanya itu, saat libur di hari minggupun dirinya bersama beberapa anak kader lingkungan berkegiatan di sekolah meskipun itu ringan,” jelas Suharningsih.

Aksi Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 bersama anak-anak SMAN 12 menggelar kampanye lingkungan disekitar sekolah saat program Surabaya Eco School 2014

Aksi Lailatul Rohmah, guru SMAN 12 bersama anak-anak SMAN 12 menggelar kampanye lingkungan disekitar sekolah saat program Surabaya Eco School 2014

Sementara itu, Lailatul Rohmah, guru yang tinggal di daerah Benowo ini menyampaikan sampai saat ini hambatan terbesarnya adalah mengajak warga sekolah lainnya untuk berkelanjutan peduli lingkungan. “Saya masih belum bisa mengajak 100 % warga sekolah untuk terus menjalankan kegiatan lingkungan. Jadi saya akan terus mengajak anak-anak peduli lingkungan dengan cara saya sendiri. Selain itu, tugas yang belum terselesaikan adalah memberikan penjelasan kepada petugas kantin tentang pengurangan plastik es, sedotan dan bungkus makanan,” tutur Lailatul. (ryn)