SMPN 23, Jawara SES 2014 Andalkan Pembiasaan Lingkungan dan Inovasi Produk Unggulan

SURABAYA – Salah satu kunci kesuksesan SMPN 23 meraih predikat sekolah terbaik pertama pada program Surabaya Eco School 2014 adalah penampungan air wudhu dan pengolahan sampah organik. Jurus jitu tersebut yang membawa mereka mengangkat trophi juara Eco School untuk kali pertama dalam program yang diselenggarakan bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dan PT Dharma Lautan Utama.

Elly Dwi Pudjiastuti, kepala SMPN 23 bersama Chalid, kepala DKP dan Michaela Newnham, istri Konjen Amerika saat penaman pohon dalam kegiatan roadshow Surabaya Eco School 2014

Elly Dwi Pudjiastuti, kepala SMPN 23 bersama Chalid, kepala DKP dan Michaela Newnham, istri Konjen Amerika saat penanaman pohon dalam kegiatan roadshow Surabaya Eco School 2014

Menurut penuturan Kun Maryati, guru pembina lingkungan, penampungan air wudhu tersebut ditampung menggunakan rainwater tank berkapasitas 2200 liter. “Tidak hanya ditampung di tandon saja, air bekas wudhu tersebut juga ada yang dialirkan ke kolam ikan yang ada di depan masjid,” ucap Kun Maryati. Upaya tersebut merupakan bagian dari kegiatan konservasi air yang sudah diterapkan di sekolah.

Tidak hanya penampungan air wudhu saja, pada pengolahan sampah organik, tim lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Biaruk Tengah Permai setiap harinya mengolah sampah sisa makanan dan sampah dedaunan menjadi kompos dengan menggunakan alat pengomposan. “Kami memberdayakan anak-anak tidak hanya dari kader lingkungan saja. Setiap harinya, kami buatkan jadwal piket perawatan dan pengolahan sampah organik untuk anak-anak di setiap kelas. Ada yang mengolah sampah organik menggunakan keranjang dan tong komposter,” imbuh Kun Maryati.

Lain sampah organik, lain pula sampah nonorganik, khususnya kertas dan sampah plastik. Sekolah yang dinahkodai oleh Elly Dwi Pudjiastuti ini memiliki bank sampah. Menurut Ayu Nur Lestari, ketua kader lingkungan, setiap harinya nasabah bank sampah yang berasal dari setiap kelas. “Saat penyetoran sampah nonorganik seperti kertas dan plastik, nasabah bank diharuskan membawa buku tabungannya. Setiap nasabah bisa menyetorkan sampah sebanyak 2-3 kg setiap harinya,” ujar Ayu Nur Lestari, siswa kelas 8.

Lies Kardianti dan Kun Maryati, guru SMPN 23 menunjukkan aksi peduli lingkungan dalam kegiatan bersih-bersih pantai Kenjeran yang menjadi serangkaian program Surabaya Eco School 2014

Lies Kardianti dan Kun Maryati, guru SMPN 23 menunjukkan aksi peduli lingkungan dalam kegiatan bersih-bersih pantai Kenjeran yang menjadi serangkaian program Surabaya Eco School 2014

Sementara itu,  upaya realisasi gerakan pembuatan lubang resapan biopori di sekolahpun dilaksanakan dengan cara yang tidak biasa. Pasalnya, dalam kegiatan pembuatan lubang resapan di sekolah, kader lingkungan melibatkan beberapa petinggi daerah, seperti camat, lurah sampai pihak kepolisian. “Karena membuat lubang resapan ini adalah sebuah aksi nyata, jadi perlu disiarkan dan mengajak lebih banyak orang lagi untuk menyelamatkan lingkungan. Setiap kegiatan lingkungan yang bersifat massal, kami selalu mengundang Camat,” ujar Kun Maryati

Menariknya, pembuatan lubang resapan tersebut dilakukan di berbagai tempat, mulai dari di dalam sekolah yang mencapai 150 lubang resapan, sebanyak 80 lubang resapan di depan sekolah dan 40 lubang resapan di rumah-rumah kader lingkungan. “Semakin banyak membuat lubang resapan berarti kita mendukung adanya upaya konservasi air atau menghemat pengeluaran air,” ucap Muhammaf Farrel, salah seorang kader lingkungan kelas 9.

Aksi warga SMPN 23 dalam penanaman pohon realisasi hutan sekolah saat roadshow Surabaya Eco School 2014

Aksi warga SMPN 23 dalam penanaman pohon realisasi hutan sekolah saat roadshow Surabaya Eco School 2014

Beberapa program unik lainnya adalah saat mereka kedatangan Michaela Newnham, istri konjen Amerika, pemerhati  lingkungan internasional dan simpatisan Tunas Hijau di sekolah untuk merealisaisikan upaya tanam pohon dan pembuatan lubang resapan biopori. “Jadi waktu itu Michaela datang bersama Chalid Buchari, kepala DKP. Uniknya, pada kesempatan itu, saya bisa melakukan tanya jawab langsung kepada mereka seputar lingkungan secara globab,” ujar Kun Maryati.

Kedepan, sekolah yang berada di daerah kecematan Rungkut ini berrkeinginan untuk lebih mengembangkan potensi lingkungan di sekolah. “Kami sudah memiliki banyak pilihan yang bisa diubah menjadi barang eco-preneur. Salah satu produk unggulan yang terkenal adalah es KEPO (Pisang Kepo),” ujar Kun Maryati. (ryn)