Yatno Yuwono, Kepala SMAN 13 Peraih Penghargaan Eco Headmaster (Senior) of the Year 2014

Yatno Yuwono, kepala SMAN 13 Peraih Penghargaan Eco Headmaster (Senior) of the Year 2014

Yatno Yuwono, kepala SMAN 13 Peraih Penghargaan Eco Headmaster (Senior) of the Year 2014

Bersih-bersih sungai sudah umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Yaitu aksi memungut sampah di sungai, khususnya di pinggiran sungai. Aksi ini biasanya dilakukan insidental yang hanya satu atau dua kali dalam setahun dan melibatkan banyak orang. Sampah yang terkumpul selanjutnya dipindahkan ke tempat pembuangan akhir sampah. 

Tidak dengan adopsi sungai, yaitu merawat sungai dengan aksi berkelanjutan sehingga menjadi selalu bersih. Seperti yang dilakukan SMAN 13 Surabaya di sungai yang mengalir di depan sekolah. “Kami melibatkan seluruh warga sekolah untuk merawatnya secara intensif dan berkelanjutan,” ujar Yatno Yuwono, kepala SMAN 13 peraih penghargaan Eco Headmaster (Senior) of the Year 2014 Surabaya Eco School 2014 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali, serta didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dan PT Dharma Lautan Utama.

Sungai yang diadopsi sekolah pimpinan Yatno Yuwono ini sebelumnya sangat kotor. Seperti umumnya sungai di kota besar dan daerah hilir, yaitu mampet atau alirannya tidak lancar. “Kondisi sungai yang kami adopsi ini sebelumnya sangat kotor dengan banyaknya sampah non organik,” ujar Yatno Yuwono. Aksi yang dilakukan ini juga berulang kali.

Dalam realisasi adopsi sungai ini, bapak dengan empat orang anak ini tidak hanya memerintahkan staf, guru dan siswanya. “Saya pun ikut nyemplung ke sungai yang melintas dari kawasan Citraland menuju kawasan Bangkingan dan Balas Klumprik ini. Sedikitnya 4 kali nyemplung sungai ini bersama warga sekolah untuk membersihkan sungai ini dalam beberapa bulan terakhir,” kata Yatno Yuwono dengan bangga.

Menurut pria kelahiran 31 Desember 1958 ini, gerakan peduli lingkungan hidup sangat membutuhkan komitmen tinggi dari pimpinan sekolah. “Tidak cukup hanya memerintahkan saja. Pemimpin juga harus memberikan keteladanan dan mendampingi warga sekolahnya dalam melakukan gerakan peduli lingkungan hidup,” terang Yatno Yuwono.

Upaya berkelanjutan untuk mengadopsi sungai di depan SMAN 13 Surabaya terbukti membuahkan hasil yang signifikan. Sungai yang sebelumnya kotor dengan sampah menjadi bersih. Ikan-ikan pun nampak berkembang di sungai itu. “Namun, tetap saja ada sampah baru yang dibuang ke sungai itu. Sampah itu biasanya dibuang oleh pengendara motor yang melintasi sungai itu. Umumnya sampah dibungkus plastik,” kata Yatno Yuwono.

Adopsi sungai yang dilakukan Yatno Yuwono bersama warga SMAN 13 Surabaya tidak hanya soal membersihkan sampah. Ada aksi tanam pohon juga yang dilakukan di pinggiran sungai yang diadopsi. “Pohon yang ditanam adalah pohon berbuah. Tujuannya, masyarakat sekitar bisa merasakan langsung manfaatnya melalui buah yang dihasilkan,” tutur Yatno Yuwono. Diantara pohon itu adalah belimbing manis, belimbing wuluh, mangga dan mundu. (ron)