Jam Hijau Jadi Syarat Peserta Seleksi Akhir Environment Exchange ke Australia

Banyak siswa kader lingkungan hidup sekolah di Surabaya telah mengirimkan form rekapitulasi Jam Hijau atau jam pelayanan lingkungan hidup melalui email info@tunashijau.org. Tidak ketinggalan juga guru pembina kader lingkungan hidup yang mengirimkan form Jam Hijau. 

Alek Sandra Herlina, Adelia Roro, Mochamad Zamroni, Jihan Fairuz Atikah, Budiarti, Tri Wahyuningtyas, Oinike Simorangkir dan Budi Setyawan, rombongan Environment Exchange di Australia 2014

Alek Sandra Herlina, Adelia Roro, Mochamad Zamroni, Jihan Fairuz Atikah, Budiarti, Tri Wahyuningtyas, Oinike Simorangkir dan Budi Setyawan, rombongan Environment Exchange di Australia 2014

“Kami terus menerima form rekapitulasi Jam Hijau atau jam pelayanan lingkungan hidup individu siswa kader lingkungan hidup dan guru pembina lingkungan hidup melalui email. Banyak juga yang mengirimkan email untuk menanyakan teknis pelaksanaannya,” kata Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni, Rabu (21/1) pagi.

Dijelaskan oleh Zamroni bahwa rekapitulasi pelaksanaan Jam Hijau bagi individu siswa kader lingkungan hidup bisa dilaksanakan hingga akhir Februari 2015. “Selanjutnya penganugerahan penghargaan akan dilaksanakan pada pekan kedua Maret. Insya Allah oleh Walikota Surabaya Ibu Tri Rismaharini,” ujar Zamroni.

Selain akan mendapatkan penghargaan khusus sesuai dengan jumlah jam pelayanan lingkungan hidup yang berhasil dilaksanakan, jumlah Jam Hijau juga akan menjadi prasyarat bagi siswa kader lingkungan hidup dan guru pembina lingkungan hidup yang akan mengikuti seleksi tahap akhir program Environment Exchange ke Australia.

Seperti diketahui, Cross Culture Environment Education Exchange Australia – Indonesia di Australia merupakan rangkaian program Surabaya Eco School 2014 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali. Seleksi akhir peserta exchange ini akan dilaksanakan pada pekan ketiga Februari.

“Syaratnya minimal 50 jam pelayanan lingkungan hidup atau setara dengan penghargaan level perunggu atau bronze. Bagi individu kader lingkungan hidup sekolah yang belum bisa mencapai 50 jam hijau, masih ada waktu yang cukup untuk memenuhinya,” ujar Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau. (ron)