Delegasi CCEEE 2015 Belajar Ubah Barang Bekas Jadi Karya Seni Bernilai di REmida

Oleh : Lailatur Rohmah, Guru SMAN 12 Surabaya

Rombongan Cross Culture and Environment Education Exchange 2015 mengunjungi REmida. sehari sebelum kunjungan di kota Perth. Pada hari kesembilan tersebut, mereka berkesempatan melihat proses pengolahan sampah anorganik yang diubah menjadi barang yang unik dan bernilai seni tinggi. Dari luar, memang REmida tampak bukan seperti tempat reuse center atau pusat pemakaian kembali sampah-sampah yang sudah dibuang.

Rombongan delegasi CCEEE 2005 diperkenalkan tempat Reuse Center bernama REmida yang merupakan tempat pengolahan barang-barang tidak berguna menjadi karya seni bernilai jual tinggi

Rombongan delegasi CCEEE 2005 diperkenalkan tempat Reuse Center bernama REmida yang merupakan tempat pengolahan barang-barang tidak berguna menjadi karya seni bernilai jual tinggi

Begitu memasuki area lobi yang berada di lantai 2, rombongan dibuat takjub dengan desain interior ruangan yang begitu indah dan artistik. Penataan ruangannya sangat rapi dan banyak aksesoris yang merupakan barang recycle menambah keindahan ruangan tersebut. “Semua barang-barang yang ada di REmida ini didapatkan dari pabrik-pabrik yang sudah bekerja sama dengan kami, jadi residu atau limbah pabrik yang mereka hasilkan langsung bisa kami ambil,” ucap Nadia, salah seorang staffnya.

Nadia menambahkan, alasan pabrik-pabrik untuk bekerja sama dengan REmida adalah mereka menghindari biaya tambahan yang dikeluarkan untuk membayar sampah yang harus dibuangnya. “Kalau dibandingkan antara dibuang ke TPA atau diberikan ke REmida, pabrik akan memilih diberikan karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya karena REmida bersedia mengambilnya, terlebih sampahnya akan diubah menjadi hasil karya seni,” imbuh Nadia.

Di ruangan yang tak terlalu luas ini, juga dipamerkan aneka barang kerajinan recycle yang menarik. Seperti mainan, tempat tisu, tempat pensil, terompet, pigura, media pembelajaran, lampu, gitar, dan banyak hiasan dinding. Bahkan beberapa diantaranya pernah menjadi juara seperti baju ala mesir yang dibuat oleh Suzanne Pollard yang berjudul “Made to Measure” yang menjadi juara 2 di “The City of Mandurah’s Common Threads Wereable Art  Awards 2015”.

Setelah puas mengagumi ruangan pertama, lagi-lagi rombongan dibuat takjub dengan koleksi seni yang ada di samping tangga. Balkon kecil yang ada di samping lobi seperti sebuah butik mini yang unik. Disana dipajang aneka baju dari berbagai negara seperti mumi, baju gladiator, baju besi perang hingga baju pesta yang semuanya dibuat dari sampah anorganik. “Karya-karya ini dibuat oleh para volunteer yang menggunakan barang bekas yang ada di REmida” tutur Nadia selaku pengurus REmida.

Nadia, salah seorang staff REmida menjelaskan mengenai hasil karya tinggi yang diperoleh dari memanfaatkan barang-barang tidak berguna dari pabrik-pabrik di Perth kepada rombongan delegasi CCEEE 2015

Nadia, salah seorang staff REmida menjelaskan mengenai hasil karya tinggi yang diperoleh dari memanfaatkan barang-barang tidak berguna dari pabrik-pabrik di Perth kepada rombongan delegasi CCEEE 2015

Setelah puas mengagumi hasil karya dari barang bekas, Nadia mengajak rombongan ke tempat awal barang-barang diolah. Di sana juga mereka bertemu langsung dengan Suzanne Pollard, seniman hebat yang karya-karyanya banyak mendapatkan penghargaan termasuk “Made of Measure”. Selanjutnya Nadia menunjukkan  stock barang bekas yang dimiliki oleh REmidi. Ia menuturkan bahwa barang-barang tersebut diberikan oleh pabrik-pabrik yang mengantarkan langsung ke REmida.

Tak hanya sekedar melihat,  rombongan delegasi CCEEE 2015 yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali ini juga dipersilahkan untuk mengambil barang-barang yang ada di gudang REmida. Kesempatan berharga ini tak disia-siakan apalagi barang-barang yang ada begitu menarik perhatian. Seperti tutup botol, kertas, kartu pos hingga aneka kain. “Kain-kainnya bagus banget, bisa digunakan untuk tatakan piring di rumah nih.” Tutur Bu Alfie, selaku kepada SDIT Al-Uswah.

Menariknya, REmida juga menjadi tempat jujukan sekolah-sekolah yang mempunyai fokus ke lingkungan. Tidak sedikit sekolah yang menjalin kerja sama dengan REmida untuk aktivitas-aktivitas tertentu di sekolah, seperti pameran seni. “Saat pameran seni, sekolah-sekolah anggota kami akan datang untuk menanyakan hasil karya yang bisa diterapkan di sekolahnya. Hasil karya merupakan cara menggunakan kembali sampah dalam sisi karya seni bernilai jual tinggi,” terang Nadia.

Dengan biaya keanggotaan setiap setahun sekali dibayar, setiap anggota pada saat akhir minggu berhak mengambil bahan-bahan limbah sampah yang sudah tidak digunakan. “Mereka bebas mengambil barang-barang disini, tetapi selalu ada batasannya untuk barang-barang yang memang jumlahnya sedikit. Anggota REmida seperti sedang berbelanja di supermarket besar,” ungkap Nadia, staff manager REmida.

REmida memiliki misi untuk menginspirasi imajinasi dan rasa ingin tahu masayarakat dan merubah penilaian masyarakat tentang sampah. Misi ini sejalan dengan misi rombongan CCEEE yang ingin mengurangi jumlah sampah anorganik yang harus dibuang ke TPA Benowo. Diharapkan sekembalinya dari Australia, mereka mampu mengolah sampah anorganik agar menjadi barang-barang yang bernilai seni tinggi dan bermanfaat seperti yang ada di REmida. (laila/ryn)