Delegasi CCEEE 2015 Nikmati Makan Malam di Fish And Chips Cicerellos Yang Melegenda

Pelabuhan Fremantle yang menjadi berlabuhnya kapal-kapal besar di wilayah Perth bagian selatan menyimpan satu legenda kuliner yang sudah terkenal sejak dulu. Tempat tersebut bernama Cicerellos. Kuliner yang menjajakan olahan ikan laut dalam bentuk fish and chips (kentang) dengan harga yang terjangkau. Di hari ketiga kunjungan ke Perth, rombongan delegasi program Cross Culture Environment Education Exchange berkesempatan makan malam di tempat yang melegenda.

Cicerellos, tempat makanan terpopuler di Perth Selatan tepatnya di daerah pelabuhan Fremantle yang sudah ada sejak tahun 1903 dan tempat yang melegenda menjadi tujuan makan malam rombongan delegasi CCEEE 2015 di hari ketiganya di Perth

Cicerellos, tempat makanan terpopuler di Perth Selatan tepatnya di daerah pelabuhan Fremantle yang sudah ada sejak tahun 1903 dan tempat yang melegenda menjadi tujuan makan malam rombongan delegasi CCEEE 2015 di hari ketiganya di Perth

Setelah selesai dengan konferensi lingkungan bersama dengan anak-anak di Point Walter, bersama dengan Azahra, salah seorang anggota Millennium Kids, yang berasal dari Indonesia, menemani rombongan untuk mencoba kelezatan masakan khas olahan ikan dan kentang di Cicerellos. “Kalau disini, ada beberapa pilihan paket, ada yang paket mini ada yang penuh. Kalau paket mini, itu sama dengan satu porsi penuh saat beli makanan di Indonesia,” ucap Zahra, simpatisan Tunas Hijau.

Restoran yang berdiri sejak tahun 1903 ini menjadi ikon kota Fremantle dan menjadi restoran dengan makanan fish and chips terbaik di Australia Barat. Hal ini dikarenakan, tidak hanya kelezatan makanan yang ditawarkan, melainkan suasana pemandangan tepi sungai Swan dengan udara dingin yang menghempas, suara  ditemani suara kapal yang sedang singgah, menambah keistimewaan makan malam di tempat legenda.

Menariknya, di restoran Cicerellos ini, penyajian makanan tidak menggunakan bungkus plastik, melainkan bungkus kertas. Tidak hanya itu, bagi pelanggan yang ingin menambahkan saus harus bayar terlebih dahulu. Peristiwa itu mengagetkan Fatih Abdul Aziz, siswa SMAN 14 Surabaya, dirinya mengungkapkan lebih enak hidup di Indonesia, setiap kali di restoran, kita bisa ambil sausnya sebanyak mugkin, kalau disini saus saja harus bayar, hanganya hampir 1 dollar,” ucap Fatih.

Rombongan delegasi CCEEE 2015 menikmati kuliner khas Fremantle yakni fish and chips di tempat yang melegenda bernama Cicerellos sambil menikmati indahnya pemandangan tepi sungai Swan

Rombongan delegasi CCEEE 2015 menikmati kuliner khas Fremantle yakni fish and chips di tempat yang melegenda bernama Cicerellos sambil menikmati indahnya pemandangan tepi sungai Swan

Menurut Zahra, simpatisan Tunas Hijau di Australia, Cicerellos ini termasuk yang paling lama bertahan, padahal di sebelah-sebelahnya terdapat macam – macam restoran yang menjual fish and chips juga. “Meksipun banyak di sebelah-sebelahnya ada restoran fish and chips tapi kalau masalah kualitas rasa, enakan diisini. Karena kalau dilihat dari proses pengolahannya, ikan laut dan kentang yang diolah di Cicerellos, tidak diberi bumbu tambahan, jadi ┬ámasih bisa merasakan segarnya ikan. Tetapi kalau ditempat lain, pengolahannya sudah dicampur garam, merica dan lainnya,” ucap Zahra.

8 orang rombongan delegasi program yang diselenggarakan Tunas HIjau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali ini memesan 3 untuk ┬áporsi penuh dan 4 untuk porsi mini, sedangkan sisanya berbagai menu olahan lainnya. “Dengan pesanan yang banyak, kamipun memutuskan untuk bagi-bagi makanan antar anggota rombongan CCEEE yang masih mampu menghabiskan makanan legenda.

Hal menarik lainnya adalah hadirnya burung camar pantai yang diam-diam malu mengharapkan makanan sisa. Aturan tidak tertulispun baru dimengerti oleh rombongan yang sebelumnya dijelaskan oleh Zahra. Umumnya, manusia akan senang melihat hewan liar berkeliaran, berinteraksi dengan manusia. “Tetapi kalau kita lagi makan, jangan pernah memberikan makanan untuk burung-burung camar pantai, karena itu akan menghilangkan sifat asli hewannya,” ucap Zahra. (ryn)