Makan Malam Ala Italia Bersama Keluarga Asuh Sambil Nonton Film Suku Aborigin

Oleh : Lailatur Rohmah, Guru SMAN 12 Surabaya

Suasana kebersamaan keluarga beda negara Indonesia Australia yang merupakan tempat homestay rombongan delegasi CCEEE selama 10 hari semakin akrab dengan adanya gala dinner bersama. Menariknya, gala dinner saat itu tuan rumah yakni Catrina Aniere, CEO Millennium Kids, yang memasak untuk rombongan berupa masakan Italia bernama Pasta.

Rombongan delegasi CCEEE 2015 membantu Wayne, tuan rumah memasak Fettucini untuk makan malam istimewa di hari ketujuh program Cross Culture Environment Education Exchange yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali

Rombongan delegasi CCEEE 2015 membantu Wayne, tuan rumah memasak Fettucini untuk makan malam istimewa di hari ketujuh program Cross Culture Environment Education Exchange yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali

Dengan berbahan dasar tepung terigu dan telor, serta bahan-bahan alami tanpa ada bahan pengawet, Catrina dapat membuat suasan kekeluargaan erat terjalin, dengan masing-masing delegasi program yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali serta Milllenium Kids, saling berinteraksi membuat dan memasak bersama

Selasa malam, benar-benar menjadi malam yang istimewa bagi kami, karena kali pertama dan tidak seperti biasanya yang setiap harinya kami harus memasak sendiri, dengan masakan ala Indonesia, kali ini tuan rumah yang baik gantian memasakkan menu makanan khas Italia. “Ini yang namanya belajar budaya, saat kalian memasak makanan Indonesia, saya harus bergabung bersama kalian untuk makan malam, sekarangpun bergantian kalian yang harus belajar budaya lain,” ucap Catrina.

Fatih Abdul Aziz, siswa aSMAN 14 Surabaya salah satu anggota CCEEE 2015 mencoba membuat Fettucini sendiri yakni makanan khas Italia saat makan malam bersama dengan tuan rumah

Fatih Abdul Aziz, siswa aSMAN 14 Surabaya salah satu anggota CCEEE 2015 mencoba membuat Fettucini sendiri yakni makanan khas Italia saat makan malam bersama dengan tuan rumah

Catrina benar-benar antusias dalam menyiapkan menu spesialnya. Bahkan ia rela pergi ke toko daging halal agar para tamunya dapat memakan sajiannya. Selepas dari Native Arc, dirinya bersama dengan Wayne o’Sullivian, suaminya memulai aksinya menjadi master chef. Pembagian tugaspun dilakukan tanpa sepengetahuan kami,┬áCatrina fokus membuat saos, sedangkan Wayne membuat fettucini.

Dengan rasa penasaran, kamipun mulai mendekati Catrina dan Wayne untuk menawarkan jasa bantuan tenaga. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Surya Adinata, siswa SMPN 4 Surabaya yang tanpa sungkan menawarkan bantuan untuk mengaduk sausnya. “Bolehkah saya membantu kamu, apa saya boleh mencoba mengaduk sausnya, Cat?” tanya Surya. Dengan memegang wajannya, Catrina menjelaskan bahwa saus ini harus diaduk tanpa berhenti, karena kalau berhenti sausnya akan menjadi kental.

Sambil menyantap menu makan malam spesial, rombongan delegasi CCEEE 2015 diajak untuk melihat film dokumenter yang bercerita tentang kehidupan dan kebudayaan suku asli Australia yakni Aborigin

Sambil menyantap menu makan malam spesial, rombongan delegasi CCEEE 2015 diajak untuk melihat film dokumenter yang bercerita tentang kehidupan dan kebudayaan suku asli Australia yakni Aborigin

Lain Surya, lain cerita dengan Fatih Abdul Aziz, siswa SMAN 14, yang menawarkan bantuan membantu Wayne membuat Fettucini. Fettucinii adalah bahan baku yang digunakan untuk dijadikan pasta atau orang menyebutnya seperti membuat mie. “Bolehkah saya mencoba untuk membuat Fettucini sendiri, bagaimana caranya?” tanya Fatih. Dengan mengambil adonan yang terdiri dari tepung, telur dan garam ini, Wayne menggulung adonan hingga menjadi pipih, kemudian dimasukkan lagi untuk dipotong menyerupai mie atau pasta.

Aksi inipun mengundang delegasi lainnya untuk mencoba membuat fettucini, malam itu kekompakkan antara keluarga Indonesia dan Australia melebur, pertukaran budaya pun tanpa sengaja sudah disalurkan, meskipun melalui hal-hal sederhana. Menariknya, sambil menikmati makanan pasta Italia yang sudah matang, kami diajak untuk melihat film dokumenter yang bercerita tentang suku Aborigin pertama kali di Australia.

Satu persatu rombongan delegasi mengambil fetuccini yang sudah matang dengan ditemani garlic bread, kamipun langsung mencari tempat yang nyaman untuk melihat film. “Ini adalah kali pertama dan kesempatan istimewa bisa menghabiskan malam dengan keluarga asuh yang kemudian diakhiri dengan nonton bareng, sungguh momen yang tidak bisa diulang lagi,” jelas Alfie Niamah, kepala SDIT Al Uswah.

Mulai awal pemutaran hingga akhir film, kedua mata rombongan CCEEE 2015 tidak berkedip sama sekali, ini berarti film dokumenter ini bagus sekali. “Karena melihat film dokumenter ini, saya menjadi semakin tahu bagaimana kehidupan dan budaya dari suku asli negara Kanguru, aborigin ini. Mereka memang benar-benar peduli terhadap kondisi lingkungan, tidak ada upaya perusakan alam, yang ada mereka malah memperhatikan setiap aktivitasnya, harus sesuai dengan cinta lingkungan,” ucap Yazid Ahmad, guru SDN Bubutan IV Surabaya. (laila/ryn)