Media Edukasi Tentang Keanekaragaman Hayati Yang Ada DI SMRC Jadi Inspirasi Delegasi CCEEE

Oleh : Alfie Niamah Febriana, kepala SDIT Al Uswah Surabaya

Di Southern Metropolitan Regional Council (SRMC) tempat pengolahan sampah terbesar di Perth, tidak hanya sistem pengelolaan sampah saja yang menjadi fokus, namun di tempat pengolahan sampah seperti TPA Benowo Surabaya, juga terdapat media edukasi tentang keanekaragaman hayati apa saja yang terdapat di semak belukar atau bushland di dalam lingkungan pengolahan sampah ini.

Rombongan delegasi CCEEE 2015 kagumi SMRC sebagai tempat pengolahan sampah yang tidak hanya fokus pada sampah, melainkan pada upaya penyelamatan habitat keanekaragaman hayati tempat tersebut melalui banyaknya papan informasi mengenai jenis-jenis keanekaragaman hayati yang ada di dalam tempat tinggalnya

Rombongan delegasi CCEEE 2015 kagumi SMRC sebagai tempat pengolahan sampah yang tidak hanya fokus pada sampah, melainkan pada upaya penyelamatan habitat keanekaragaman hayati tempat tersebut melalui banyaknya papan informasi mengenai jenis-jenis keanekaragaman hayati yang ada di dalam tempat tinggalnya

Media edukasi ini berupa plat atau papan informasi bolak balik yang didesain menarik dengan gambar hewan dan tumbuhan dilengkapi dengan keterangan mendetail mengenai kehidupan keanekaragaman hayati tersebut. Dari golongan kadal, terdapat dua jenis yang ada di tempat ini. Bob-tail Lizard dengan nama latin Tiliqua Rugosa. Kadal berekor pendek, gerakannya lambat dengan lidah biru.

Hewan ini merupakan omnivora dan mencari-cari  keong, serangga, tanaman, dan bunga. Kadal yang lain adalah species Bearded Dragon atau Pogona minor. Hewan ini merupakan bunglon dengan kemampuan berubah warna di habitat aslinya. Warna kulitnya akan berubah menjadi hitam jika tertekan atau terancam oleh pemangsa atau musuh. Pemakan tumbuhan dan serangga, seringkali ditemukan berjemur diri di tiang pagar.

Burung yang terdapat dalam area RRRC ini ada 3 jenis. Yang pertama Carnaby’s Cockatoo atau Calyptorhynchus latirostis yaitu kakatua besar dengan bulu dominan hitam berekor putih, pipi putih, dan berparuh pendek. Burung ini pemakan telur serangga dan biji-bijian, terancam punah dan hanya terdapat di Southwest Australia.

Papan informasi yang berisi deskripsi tentang hewan endemik di Australia barat bernama Quenda hewan sejenis tikus yang hidup nocturnal dengan memakan serangga, larva dan cacing

Papan informasi yang berisi deskripsi tentang hewan endemik di Australia barat bernama Quenda hewan sejenis tikus yang hidup nocturnal dengan memakan serangga, larva dan cacing

Jumlahnya menurun seiring dengan hilangnya habitat dan sumber makanan akibat perkembangan manusia. Jenis burung yang ke dua adalah Pink and Grey Galah atau Eolophus Roseicapilla. Ditemukan di habitat terbuka dengan pohon yang tersebar sebagai tempat berlindung. Burung ini pemakan rumput, akar, buah, dan biji-bijian yang banyak didapat dari tanah.

Selanjutnya adalah Wedge-tailed Eagle atau Aquila audax yang merupakan burung pemangsa terbesar di Australia. Bentangan sayapnya bisa mencapai lebar 2,2 meter. Terbang di ketinggian kadang samapai 1.800 meter tingginya. Burung ini mengincar mangsanya dari atas lalu menyambar ke bawah untuk menyerang. Mangsanya adalah mamalia kecil seperti kelinci, walabi, kanguru remaja, reptile kecil, dan tikus.

Tidak hanya jenis kadal dan burung saja, ada juga hewan sejenis tikus asli Australia Barat bernama Quenda atau Isoodon obesulus fusciventer,. Quenda memiliki moncong panjang, telinga bulat, mata kecil berwarna hitam cerah dan berekor pendek. Quenda atau hewan sejenis tikus ini termasuk hewan nocturnal atau hewan malam. Saat malam hari, hewan ini berburu serangga, larva dan cacing. Saat ini, jumlah Quenda terus berkurang akibat hilangnya habitat dan ancaman pemangsa.

Sementara itu, lain halnya dengan jenis flora yang ada di SMRC, Pohon yang dominan banyak ditemukan rombongan delegasi CCEEE 2015 adalah West Australian Christmas Tree atau Nuytsia floribunda yang berbunga orange sangat menarik di bulan Desember. Pohon ini termasuk hemiparasit yang artinya tumbuh dengan memangsa tumbuhan lain untuk menyerap air dan nutrisinya. Tingginya bisa mencapai 10 meter, menjadi habitat yang bernilai bagi hewan asli di sini.

Menurut penuturan Yazid Ahmad, guru SDN Bubutan IV Surabaya, media informasi yang ada di SMRC ini memberi dirinya inspirasi untuk membuat hal yang sama di sekolahnya. Dirinya menceritakan, tim lingkungan sekolahnya memang pernah membuat papan informasi tentang keanekaragaman hayati di sekolah. “Tetapi bentuknya mading ditambah informasinya belum detail, jadi saya ingin mengadopsi ide ini di sekolah dengan fokus pertama adalah flora dan fauna, khususnya burung yang ada di sekolah,” ucap Yazid Ahmad, guru Bhs Inggris. (alfie/ry)