Serunya Nikmati Sungai Swan dan Perth Zoo Dengan Ferry

Oleh : Fatih Abdul Aziz, Siswa SMAN 14 Surabaya

Ketika berbicara tentang kota Perth, tak lengkap rasanya jika tidak membahas sarana transportasinya. Perth sendiri memiliki tiga sarana transportasi umum yaitu Bus, Kereta Api dan Ferry dimana ketiganya terjaga kualitasnya. Dari tiga sarana transportasi terdapat satu yang paling menarik bagi saya adalah kapal ferry karena sangat berbeda dengan di Surabaya.

Salah satu tiket Jetty Ferry yang menjadi salah satu transportasi favorit rombongan deleg asi CCEEEE 2015 untuk bisa sampai pada Perth Zoo dengan biaya 3 dollar

Salah satu tiket Jetty Ferry yang menjadi salah satu transportasi favorit rombongan deleg asi CCEEEE 2015 untuk bisa sampai pada Perth Zoo dengan biaya 3 dollar

Jika di Surabaya, saya naik kapal ferry hanya ketika akan pergi ke Pulau Madura namun disini saya menggunakan kapal ferry ketika akan menuju tempat yang ada di sisi lain sungai. Yah kapal ferry di Perth bukan untuk melintasi laut namun untuk melintasi sungai pasalnya sungai-sungai disini sangat lebar sehingga membutuhkan sarana transportasi air untuk penduduk beraktifitas.  Oleh karena itu mobilitas kapal ferry cukup tinggi disini.

Banyak perbedaan antar kapal ferry di Surabaya dan di Perth, selain dari jalur lintasannya yaitu adalah kelayakannya. Untuk membahas masalah ini kita bisa mulai dari dermaganya. Jika dermaga di Indonesia masih menggunakan system pembayaran manual, namun kalau disini pembayarannya menggunakan mesin. Kita hanya perlu membayar 2 dollar pada mesin tiket dan kita sudah dapat menaiki kapal untuk satu kali perjalanan.

Kondisi dermaganya pun berbeda dengan yang ada di Surabaya, dimana disini relatif lebih bersih dan nyaman. Ketika memasuki kapal maka kita akan mendapatkan pemandangan berbeda. Sama seperti sarana transportasi lain yang begitu bersahabat dengan kaum difable, maka kapal ferry ini juga demikian.kaum difable sangat mudah sekali jika ingin naik kapal ferry meskipun tanpa ada yang membantunya. Inilah poin penting yang seharusnya bisa kita tiru di Surabaya pada khususnya dan Indonesia pada umumya.

Selain itu kapal ferry ini juga ramah dengan pengendara sepeda.  Terdapat tempat sendiri bagi apara pengendara untuk memakirkan sepedanya dan pastinya tidak akan menghalangi penumpang lain. Memang di Surabaya kapal ferry juga mampu menampung motor dan mobil namun penataannya masih kurang baik sehingga terkadang menyusahkan dan membahayakan penumpang.

Dermaga yang digunakan untuk tempat menunggu penumpang yang akan menggunakan jasa Ferry inipun terlihat bersih, berbagai macam kapal pun bersandar dan menjadi obyek untuk selfie rombongan delegasi CCEEE 2015

Dermaga yang digunakan untuk tempat menunggu penumpang yang akan menggunakan jasa Ferry inipun terlihat bersih, berbagai macam kapal pun bersandar dan menjadi obyek untuk selfie rombongan delegasi CCEEE 2015

Satu hal yang paling penting adalah di Perth, kondisi kapal ferry benar-benar dijaga kualitasnya. Selama saya menaikinya, kondisi kapal-kapal dalam keadaan bagus. Baik dari mesinnya maupun interiornya. Bahkan pernah sekali, sebuah kapal yang baru saja saya naiki memilih untuk memangggil teknisi dan menolak beroperasi kerika merapat di dermaga karena ada mesinnya yang rusak. Padahal kerusakannya tidak terlalu mengganggu perjalanan kapal. Hal ini dikarenakan mereka sangat mengutamakan keselamatan.

Kualitas dari sarana dan prasarana kapal ferry memang berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan. Jika di Surabaya kita hanya mengeluarkan kurang dari sepuluh ribu rupiah namun disini kita membutukan 2 dollar (sekitar 20 ribu rupiah) untuk naik kapal dalam satu perjalanan. Namun bukan itu saja yang menentukan namun juga budaya dan perilaku penduduknya juga berperan penting.

Disini hanya sedikit yang membuang sampah sembarangan apalgi di kapal dan tidak ada penduduknya yang ‘iseng’ merusak fasilitas yang ada. Semua mempunyai tanggung jawab untuk menjadi fasilitas umum. Inilah yang belum kita miliki? Lalu pertanyaannya mungkinkah kita dapat memiliki kapal ferry seerti disini? Maka jawabannya adalah mungkin saja jika perilaku manusianya diperbaiki. Tak bisa instan memang, namun kita dapat memulainya dari kita sendiri. (fatih/ryn)