Krisis Air Bersih di Batu

BATU – Berada di daerah hulu air bukan menjadi jaminan bagi daerah-daerah di daratan tinggi tercukupi kebutuhan airnya. Salah satu anomali yang terjadi adalah di daerah the Kusuma Pinus, villa yang terletak di samping Kusuma agrowisata, petik buah strawberry. Sudah hampir seminggu, villa di bawah hutan pinus kekurangan air. Fenomena lingkungan yang jarang terjadi di daerah hulu air ini menarik perhatian Tunas Hijau menyikapi dan membahasnya.

Abdul Rohman, salah satu aktivis Tunas HIjau, mengecek kondisi air yang ada di villa The Kusuma Pinus yang terletak di sebelah Kusuma Agrowisata yang dalam seminggu ini kekurangan air bersih

Abdul Rohman, salah satu aktivis Tunas HIjau, mengecek kondisi air yang ada di villa The Kusuma Pinus yang terletak di sebelah Kusuma Agrowisata yang dalam seminggu ini kekurangan air bersih

Menurut Hermin, salah seorang penjaga villa di The Kusuma Pinus, fenomena kehabisan air yang sudah dirasakan selama seminggu berdampak pada terganggunya beberapa aktivitas. Seperti taman-taman di depan villa kering, tanaman banyak yang kering dan tanahnya pecah-pecah. “Kehabisan air ini bisa disebabkan karena gangguan pada pompa air pusat yang dikelola pengembang, jadi untuk mencukupi kebutuhan air, kami mendapatkan air dari kiriman truk tangki PDAM kota Batu,” ucap Hermin.

Menariknya lagi, air yang berasal dari kiriman truck tangki dari PDAM hanya boleh dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci piring. “Seminggu dua kali, kami dikirim truck tangki yang bermuatan air sebagai cadangan akibat krisis air. Air tersebut tidak diperbolehkan untuk digunakan menyiram tanaman, jadi tanaman yang ada di daerah ini hanya mengandalkan embun pagi saja,” imbuh penjaga villa berusia 40 tahun ini.

Sementara itu, pendapat berbeda disampaikan oleh penjaga keamanan Kusuma Pinus, yang mengatakan Fenomena lingkungan kekurangan air ini diatasi dengan mendapat pengiriman tangki air dari PDAM dan bagian teknisi sedang memperbaiki komponen yang rusak. “Bagian pengembang sudah berupaya dengan mengirimkan tangki air untuk memenuhi kebutuhan air di villa,” ucap Nur Hasan. Kondisi berbeda bisa terlihat saat Kusuma agrowisata petik buah strawberry tidak terkena dampaknya.

Kondisi salah satu area kebun strawberry yang berada di area Kusuma Agrowisata notabene masih bersebelahan dengan The Kusuma Pinus masih diberi air yang melimpah untuk menyiram kebunnya

Kondisi salah satu area kebun strawberry yang berada di area Kusuma Agrowisata notabene masih bersebelahan dengan The Kusuma Pinus masih diberi air yang melimpah untuk menyiram kebunnya

“Kami melihat kondisi berbeda saat berada di villa Kusuma Pinus ini, disini kekurangan air, sedangkan di sebelah villa ini tepatnya di Kusuma agrowisata tidak terjadi apa-apa. Mereka masih mempunyai kebutuhan air, mereka masih bisa menyiram kebun strawberry dengan air bersih,” ujar Fatih, aktivis Tunas Hijau. Aktivis yang tahun ini menjadi peserta program Cross Culture Environment Education Exchange ini membandingkan kejadian di Batu dengan fenomena lingkungan yang dirasakannya saat di Australia.

Fatih Abdul Aziz, alumni SMAN 14, mengatakan fenomena kekurangan air sama dengan yang terjadi di Perth Australia. Di negara Kanguru tersebut, sumber air minum masyarakat Perth memanfaatkan air tampungan air hujan. “Kebutuhan air minum warga Perth menggunakan tampungan air hujan, sedangkan untuk menyiram tanaman, warga Perth memanfaatkan air tampungan bekas cuci piring untuk menyiram tanaman,” terang aktivis yang menjadi eco person (senior) of the year 2014. (ryn)