Menggali Amal Melalui Biopori

SURABAYA Gerakan Sejuta Lubang Resapan Biopori di Kota Surabaya sebagai bagian dari Surabaya Eco School 2015 kembali digelar, Minggu (12/7) bertepatan dengan hari ke-25 Ramadhan. Lokasi yang disasar pada aksi bertajuk Ngabuburit Sambil Ngebor Biopori kali ini masih sama dengan dua kali pelaksanaan sebelumnya di jalur hijau Jalan Dr. Ir. H. Soekarno. 

Menanti buka bersama dengan nonton bareng film lingkungan pada Eco Mobile PJB

Menanti buka bersama dengan nonton bareng film lingkungan pada Eco Mobile PJB

Ada perwakilan 13 sekolah dan 1 kampus yang mengikuti aksi nyata ini, yaitu SDN Kaliasin I, SDN Pradah Kalikendal I, SDN Bubutan IV, SD Baitul Ilmi, SD Ta’miriyah, SDIT Al-Uswah, SMPN 4, SMPN 11, SMPN 22, SMAN 3, SMAN 12, SMAN 14, SMAN 16 dan Universitas PGRI Adibuana.

Membuat lubang resapan biopori memang tidak asing bagi sebagian peserta. Rata-rata peserta ngebor bareng sudah pernah membuat lubang biopori sebelumnya di sekolah masing-masing. Namun, tidak semua membuat lubang biopori mempunyai kendala yang sama. Ninik, guru SMPN 4 Surabaya, menuturkan bahwa terbatasnya lahan menjadi kendala di sekolahnya. Namun, struktur tanah yang keras dan berbatu menjadi kendala dalam pembuatan biopori di jalur hijau ini.

“Aduh, Mas, ini luar biasa kerasnya. Saya sendiri sampai kewalahan membuatnya. Saya pernah menemui kontur tanah seperti ini ketika ada ngebor bareng di daerah Kandangan. Persis sama seperti ini bedanya disana tersedia air sehingga sedikit mempermudah,” ujar Ninik. Lubang yang dihasilkan oleh peserta pun jarang ada yang bisa mencapai kedalaman satu meter. Rata-rata mereka menghentikan ngebor mereka ketika berada di kedalaman sekitar 50cm.

Ngebor biopori sambil ngabuburit di jalur hijau Jalan Soekarno Surabaya

Ngebor biopori sambil ngabuburit di jalur hijau Jalan Soekarno Surabaya

Kegiatan ngebor biopori bareng ini juga dijadikan ajang mencari amal. Sebagian besar peserta terutama yang masih SD turut mengajak sanak keluarga mereka. Seperti Fadhil Rahmatullah, siswa SDN Kaliasin I peraih penghargaan level Platinum Jam Hijau, yang mengajak ibunya untuk ikut ngebor bersama. Lain juga Fajar Agustyanto, siswa SMAN 14 Surabaya, yang mengaku selalu membawa adiknya dalam setiap kegiatan lingkungan di sekolah dan di luar sekolah selama Ramadhan.

“Saya jadikan ini sebagai amal toh daripada nggak ngapa-ngapain di rumah, mending kesini sama teman,” ujar Fajar. Nada serupa juga disampaikan oleh Suminah yang turut mengajak anaknya yang duduk dibangku kuliah. “Alasan saya mengajak anak saya supaya dia mengerti cara konservasi air,” ujar Suminah, guru pembimbing lingkungan SMPN 11 Surabaya. (fat/ro)