Takjil Bebas Plastik Saat Ngabuburit Ngebor Lubang Resapan di Jl Ir Soekarno

SURABAYA- Tunas Hijau bersama pemerintah kota Surabaya kembali melakukan aksi nyata membuat lubang resapan biopori di sepanjang jalur hijau Jl Ir. Soekarno. Dalam aksi jilid kedua lanjutan dari ngebor lubang resapan biopori yang dimulai dua minggu yang lalu, kali ini lokasi pembuatannya tepat di depan Polsek Sukolilo, Minggu (12/07).

Antusias peserta ngabuburit ngebor lubang resapan biopori di jalur hijau Jl Ir Soekarno tahap kedua masih ramai dan banyak diikuti oleh lebih dari 50 orang perwakilan dari 12 sekolah yang dimulai dari depan Polsek Sukolilo, Minggu (12/07)

Antusias peserta ngabuburit ngebor lubang resapan biopori di jalur hijau Jl Ir Soekarno tahap kedua masih ramai dan banyak diikuti oleh lebih dari 50 orang perwakilan dari 12 sekolah yang dimulai dari depan Polsek Sukolilo, Minggu (12/07)

Dalam aksi kedua kalinya ini, sebanyak 8 sekolah terlibat kembali untuk membuat resapan air hujan ke dalam tanah. Sekolah-sekolah tersebut adalah SMPN 22, SMPN 11, SMPN 4, SMAN 14, SMAN 12, SMAN 16, SMAN 3, SDN Bubutan 4, SDN Pradah Kalikendal, SDN Kaliasin I, SDIT Al- Uswah. “Dalam aksi ngebor lubang resapan kali ini, pesertanya lebih banyak dan meriah karena ada yang turut mengajak keluarganya,” ucap Anggriyan.

Dalam kegiatan ngabuburit sambil ngebor lubang resapan untuk kedua kali ini, medan yang masih banyak bebatuan dan tanah yang keras menjadi musuh utama mereka. Bahkan, ada dari peserta yang harus mandi keringat, karena dalam waktu 30 menit belum juga menghasilkan satu lubang. Seperti yang disampaikan Ninik Suhartini, guru lingkungan SMPN 4, yang mengatakan ini adalah ngebor lubang resapan tersulit yang pernah dirinya ikuti.

Rifki Firmansyah Maulana, siswa SDN Bubutan IV yang juga Pangeran LH 2015 menjadi peserta untuk kedua kalinya dalam kegiatan ngabuburit ngebor lubang resapan biopori, kali ini Rifki turun bersama dengan ayahnya

Rifki Firmansyah Maulana, siswa SDN Bubutan IV yang juga Pangeran LH 2015 menjadi peserta untuk kedua kalinya dalam kegiatan ngabuburit ngebor lubang resapan biopori, kali ini Rifki turun bersama dengan ayahnya

“Kalau lokasi-lokasi sebelumnya, meskipun susah dengan menggunakan linggis, saya masih bisa menghasilkan beberapa lubang resapan dalam waktu 1 jam. Tetapi disini, saya dan anak-anak kewalahan untuk membuat satu lubang karena tanah yang keras dan padat ditambah dengan banyak bebatuan,” ujar Ninik. Lebih dari 50 lubang resapan biopori dihasilkan dalam durasi waktu satu setengah jam.

Menariknya, menjelang buka puasa, peserta ngebor lubang resapan tidak hanya menantikan menu takjil yang beragam, mereka terkejut dengan penyajian makanan yang disiapkan oleh Tunas Hijau. “Kalau kita lihat di jalan-jalan, banyak takjil yang dijual dengan menggunakan pembungkus plastik. Kalau dikumpulkan, plastik tersebut akan menambah volume sampah di TPA Benowo. Makanya kami coba kurangi dengan sediakan takjil bebas plastik,” ujar Fatih Abdul Aziz, alumni SMAN 14.

Senada dengan Fatih, aktivis Tunas Hijau, Alfie Niamah Febriana, kepala sekolah SDIT Al-Uswah mengungkapkan, pembiasaan untuk mengurangi sampah plastik memang harus selalu dilakukan sehinga sampah plastik di Surabaya berkurang, “Saya diam-diam membawa pisang nugget dari rumah dengan menggunakan kotak makan yang dapat digunakan berulang kali,” ucap Alfie, salah satu peserta Cross Culture Environment Education Exchange 2015.

Takjil yang disediakan untuk menu buka puasa tidak menggunakan pembungkus plastik, melainkan menggunakan wadah yang bisa digunakan kembali menjadi salah satu upaya kampanye pengurangan sampah plastik yang dilakukan Tunas Hijau kepada peseta ngebor lubang resapan di jalur hijau Jl Ir Soekarno

Takjil yang disediakan untuk menu buka puasa tidak menggunakan pembungkus plastik, melainkan menggunakan wadah yang bisa digunakan kembali menjadi salah satu upaya kampanye pengurangan sampah plastik yang dilakukan Tunas Hijau kepada peseta ngebor lubang resapan di jalur hijau Jl Ir Soekarno

Tidak hanya Alfie Niamah, beberapa guru pembina lingkungan dan kepala sekolah sudah hafal dengan pembiasaan pengurangan sampah plastik tersebut. Salah satunya Sujilah, kepala SDN Kaliasin I, yang sengaja menyiapkan takjil dengan menggunakan wadah sendiri. “Sebagai seorang kader lingkungan atau pejuang lingkungan, saya harus memberikan contoh kepada anak-anak untuk mengurangi penggunakan plastik,” ucap Sujilah. (rohman/ryn)