Ajak SDN Sambikerep III Identifikasi Sampah, Sepakat Bawa Botol Sendiri Mulai Besok

SURABAYA – Salah satu langkah untuk melakukan upaya pengurangan sampah plastik adalah dengan melakukan survei jumlah atau volume sampah plastik yang dihasilkan sekolah setiap harinya. Informasi tersebut disampaikan oleh Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan program Surabaya Eco School 2015 di SDN Sambikerep III. Tempat pembuangan sampah sementara yang ada di depan sekolah menjadi obyek observasi kader lingkungan mengidentifikasi jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh warga sekolah, Senin (31/08).

Kader lingkungan SDN Sambikerep III melakukan identifikasi jenis sampah yang ada pada TPS (Tempat Pembuangan Sementara) untuk mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan sekolah dalam pembinaan SES 2015

Kader lingkungan SDN Sambikerep III melakukan identifikasi jenis sampah yang ada pada TPS (Tempat Pembuangan Sementara) untuk mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan sekolah dalam pembinaan SES 2015

Berbekal buku tulis, kader lingkugan yang baru dibentuk ini diminta untuk mengamati dan mencatat, sampah jenis apa yang paling banyak dihasilkan di sekolah. Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau, mengarahkan mereka kepada adanya tantangan pekan kedua yakni pengurangan sampah plastik dan pembuatan mading konservasi air. “Sampah apa yang paling banyak kalian temukan di TPS ini?” tanya Anggriyan.

Di dalam kotak berukuran 1,5m x 1,5m x 1x5m ini, Dewi Agust Rianiy, salah seorang siswa kelas 5, mengatakan bahwa di dalam kotak pembuangan itu terdapat sampah jenis daun yang paling banyak. “Selain sampah dedaunan, sampah plastik menjadi sampah yang paling banyak ditemukan, seperti gelas plastik, sampah bungkus makanan dan sampah plastik es serta sedotan,” ujar Dewi.

Tidak hanya melakukan identifikasi sampah saja, Tunas Hijau mengajak mereka untuk membuat pemecahan masalah dari program pembiasaan 10 menit berburu sampah. Disampaikan oleh Eka, guru pembina lingkungan, bahwa setiap hari, setelah istirahat selesai, warga sekolah terutama anak-anak melakukan aksi berburu sampah. “Di sekolah kami, ada program pembiasaan bernama berburu sampah kak, yakni setiap selesai istirahat anak-anak diwajibkan untuk berburu sampah selama 10 menit,” ujar Eka.

Kader lingkungan SDN Sambikerep III kelas 5 sepakat untuk mulai besok membawa tempat makan dan botol minum sendiri dengan tujuan untuk merealisasikan tantangan pekan kedua SES 2015 pengurangan sampah plastik dan pembuatan mading

Kader lingkungan SDN Sambikerep III kelas 5 sepakat untuk mulai besok membawa tempat makan dan botol minum sendiri dengan tujuan untuk merealisasikan tantangan pekan kedua SES 2015 pengurangan sampah plastik dan pembuatan mading

Menariknya, saat Tunas Hijau akan melakukan pembinaan, anak-anak yang berburu sampah masih membuang sampahnya dicampur pada satu tempat. “Nah, tadi waktu saya lihat kalian berburu sampah, sampahnya langsung dibuang ke TPS, sedangkan tadi saya lihat ada yang membuang sampah dedaunan, padahal kan kalian punya tong komposter,” terang Anggriyan. Direktur Surabaya Eco School 2015 ini menambahkan bahwa sampah dedaunan bisa diolah menjadi kompos dengan cara dimasukkan ke dalam tong komposter berwarna biru itu.

Mengetahui solusi tersebut, kader lingkungan bergegas untuk mengisi tong komposter yang sudah lama tidak difungsikan dengan sampah dedaunan yang ada di taman-taman. “Kalau begitu, mulai besok, berburu sampahnya ya langsung saja yang sampah plastik seperti gelas dan botol disendirikan, lalu kertas bekas juga disendirikan untuk dijual. Kalau sampah dedaunan ya langsung dimasukkan ke dalam tong komposter,” ujar Dewi.

Demi merealisasikan tantangan pekan kedua, mulai besok kader lingkungan akan mensosialisasikan gerakan membawa tempat makan dan botol minum sendiri yang bertujuan untuk mengurangi volume sampah plastik di sekolah. “Saya akan sosialisasikan untuk mengajak kelas-kelas yang lain untuk menggunakan tempat makan dan botol minum sendiri. Saya akan memulainya dari kelas 5 terlebih dahulu,” ujar Dewi. Dengan adanya gerakan pengurangan sampah ini, mereka berharap warga sekolahnya terbiasa tidak menghasilkan sampah plastik. (ryn)